*Satukan Al-Qur’an, Sains, dan AI

Pelaksana Tugas Kepala SMAN 1 Purbalingga, Nur Samsudin, S.Pd., Fis saat membuka kegiatan pesantren kilat Ramadan.
PURBALINGGA, EDUKATOR–Sebanyak 1.154 murid muslim kelas X, XI, dan XII SMA Negeri 1 Purbalingga memadati masjid di kompleks sekolah dalam kegiatan Pesantren Kilat Ramadan bertajuk “PesanTrend: Membangun Generasi Adaptif dan Berprinsip dengan Nilai-nilai Qur’ani”, Kamis–Jumat (5–6 Maret 2026).
Kegiatan selama dua hari itu memadukan penguatan spiritual Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, kepedulian lingkungan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak.
Ramadan Momentum Penguatan Karakter Pelajar
Pesantren kilat dibuka pada Kamis (5/3) pukul 13.00 WIB oleh Pelaksana Tugas Kepala SMAN 1 Purbalingga, Nur Samsudin, S.Pd., Fis. Ia menegaskan bahwa bulan Ramadan merupakan waktu terbaik untuk membangun karakter generasi muda yang kuat secara spiritual sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai aktivitas keagamaan rutin, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang menyatukan nilai-nilai Qur’ani dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat.
Al-Qur’an Sebagai Kompas Hidup Pelajar
Sesi pertama menghadirkan pemateri Hanif Ahmas, S.H.I., M.H.I. yang membawakan materi Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup Pelajar di Era Digital. Dalam paparannya, ia mengajak para murid menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan.
“Al-Qur’an memberikan keuntungan di dunia berupa ketenangan jiwa dan kemuliaan karakter, serta dividen di akhirat berupa syafaat yang menyelamatkan,” ujarnya di hadapan para murid.
Penyampaian materi berlangsung interaktif. Meski sedang menjalankan ibadah puasa, para murid tampak antusias mengikuti kegiatan dengan mencatat materi serta mengajukan berbagai pertanyaan.
Memahami Hubungan Al-Qur’an dan Sains
Memasuki sesi kedua setelah shalat Ashar berjamaah, suasana masjid semakin khidmat ketika dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Dr. Asef Umar Fakhruddin, menyampaikan materi mengenai keterkaitan antara agama dan sains.
Ia menjelaskan bahwa generasi muda saat ini hidup di tengah perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi dan arus informasi global.
“Generasi yang kuat adalah generasi yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, tetapi tetap memiliki pijakan nilai yang kokoh dari Al-Qur’an,” tegasnya.
Dalam penjelasannya, ia juga menyinggung sejumlah fenomena ilmiah yang sejalan dengan pesan Al-Qur’an, seperti konsep penciptaan alam semesta yang berkaitan dengan teori Big Bang sebagaimana tersirat dalam Surah Al-Anbiya ayat 30.
Selain itu, ia menjelaskan peran angin dalam proses penyerbukan tanaman yang menunjukkan dorongan Al-Qur’an kepada manusia untuk mengamati alam sebagai sumber pengetahuan.
“Ketika manusia mempelajari alam dengan kesadaran spiritual, ilmu pengetahuan justru akan membawa manusia semakin dekat kepada Sang Pencipta,” jelasnya.
Diskusi Lingkungan dan Pemanfaatan AI
Menjelang waktu berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan bersama Komunitas Sekolah Rakyat Bhinneka Ceria yang diikuti murid, guru, dan tenaga kependidikan.
Dalam diskusi tersebut, peserta diajak membahas kesadaran menjaga lingkungan serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara bertanggung jawab. Para murid diingatkan bahwa perkembangan teknologi harus tetap diiringi nilai moral.
Bumi dipandang sebagai rumah bersama yang harus dijaga, sementara teknologi seperti AI merupakan amanah yang menuntut kebijaksanaan dalam penggunaannya.
Malam Nuzulul Qur’an Penuh Haru
Menjelang adzan Maghrib, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang ditandai pemukulan bedug oleh Firman Slamet Pamuji, S.Pd. dan doa yang dipimpin Sujatno, S.Th.I., M.Pd.
Rangkaian kegiatan malam dilanjutkan dengan shalat Maghrib, Isya, Tarawih, dan Witir berjamaah. Suasana semakin khidmat saat Ustaz Arin Hidayat, S.H.I. menyampaikan tausiyah dalam peringatan Nuzulul Qur’an bertema Membangun Generasi Berkarakter Qur’ani: Cerdas, Beradab, dan Berakhlak Mulia.
Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. “Al-Qur’an harus menjadi napas kehidupan, bukan sekadar bacaan,” ungkapnya.
Tahajud, Sahur, dan Khataman Al-Qur’an
Rangkaian kegiatan berlanjut hingga dini hari Jumat (6/3) saat para peserta bangun untuk melaksanakan shalat tahajud yang dilanjutkan sahur bersama.
Usai shalat Subuh berjamaah, kegiatan ditutup dengan khataman Al-Qur’an bersama Juz 30. Para murid dari Majelis Tahfidz Ganesha memandu pembacaan mulai dari Surah An-Naba hingga An-Nas, diikuti guru dan tenaga kependidikan.
Lantunan ayat suci yang menggema di seluruh ruang masjid menghadirkan suasana haru sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan pesantren kilat.
Melalui kegiatan PesanTrend ini, SMAN 1 Purbalingga berharap dapat menumbuhkan generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu menghadapi perkembangan sains dan teknologi dengan karakter yang kokoh. (Muhammad Syaifudin/Prs)