10 Poin Iran Bukan Perdamaian, Itu Kekalahan Amerika yang Dibungkus Diplomasi

Bagikan :

Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)

SAYA membaca pengumuman Presiden Trump saat duduk di teras rumah kebun di Ciletuh, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa-Barat. Di hadapan saya, burung sriti terbang hilir mudik, sementara ombak Samudra Hindia bergulung tenang.

Trump menyampaikan bahwa gencatan senjata dua minggu dengan Iran telah disepakati. Ia menyebutnya sebagai ruang diplomasi, sebagai langkah menuju perdamaian. Saya menghormati proses diplomasi. Namun, sebagai mantan penasihat militer Indonesia di PBB, saya merasa perlu menyampaikan beberapa catatan.

Menurut saya, ini bukan perdamaian. Ini adalah kekalahan Amerika yang dibungkus dengan bahasa diplomatik.

Saya coba jelaskan secara sederhana

Perang ini dimulai oleh Amerika dan Israel pada 28 Februari lalu, dengan target jelas: melumpuhkan kepemimpinan Iran. Mereka berhasil membunuh Ayatollah Khamenei dan sejumlah jenderal kunci Iran.

Namun setelah 40 hari, Iran tidak runtuh. Justru Amerika yang lebih dahulu mengajukan gencatan senjata. Saya tidak mengatakan Amerika kalah secara militer, tetapi secara posisi tawar, mereka kini berada di belakang.

Mengapa? Karena tekanan domestik di Amerika Serikat mulai meningkat. Harga minyak naik, korban dari pihak Amerika bertambah, sekutu Eropa mulai menjaga jarak, dan negara-negara Teluk diliputi kegelisahan. Dalam kondisi ini, Presiden Trump memilih jalan yang paling memungkinkan: gencatan senjata sementara.

Syarat yang Tidak Biasa
Hal paling menarik justru terletak pada syarat gencatan senjata. Bukan Washington yang menentukan, melainkan Teheran. Melalui mediator Pakistan, Iran mengajukan sepuluh poin tuntutan—dan disetujui oleh pemerintahan Trump.

Beberapa poin utama di antaranya:
Pertama, Iran tetap menguasai Selat Hormuz.
Kedua, hak pengayaan nuklir Iran diakui oleh Amerika Serikat.
Ketiga, seluruh sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut.
Keempat, Amerika Serikat membayar ganti rugi perang kepada Iran.
Kelima, pasukan tempur Amerika ditarik dari kawasan.
Keenam, seluruh resolusi PBB dan IAEA yang memberatkan Iran diakhiri.

Melihat poin-poin tersebut, ini bukan negosiasi antara dua pihak yang setara. Ini lebih menyerupai daftar tuntutan yang diterima oleh pihak yang seharusnya berada di posisi unggul.

Faktanya, Amerika memulai perang untuk menekan Iran. Namun setelah 40 hari, Iran justru keluar dengan posisi yang lebih menguntungkan.

Membaca Kepentingan Politik Trump
Saya tidak sedang menyerang Presiden Trump. Saya hanya membaca situasi.

Ia sedang menghadapi pemilu. Mustahil baginya kembali ke Washington tanpa hasil setelah pengerahan kekuatan militer besar-besaran. Maka gencatan senjata dua minggu ini menjadi narasi bahwa ia telah membuka jalan menuju perdamaian.

Strategi komunikasi politik seperti ini bisa dipahami. Namun pertanyaannya: apa arti dua minggu dalam konflik yang sudah berlangsung puluhan tahun?

Dua minggu cukup untuk menarik pasukan atau memindahkan persenjataan ke posisi yang lebih strategis. Tetapi tidak cukup untuk menyelesaikan akar konflik.

Jika perundingan di Islamabad pada 10 April menemui jalan buntu, perang bisa kembali meletus. Bahkan bukan tidak mungkin, Iran justru memanfaatkan jeda ini untuk memperkuat posisi tawarnya. Ini bukan perdamaian. Ini jeda.

Di mana posisi Indonesia?
Saya ingin menyampaikan ini secara jujur.

Jusuf Kalla, seorang negarawan, pekan lalu menyatakan bahwa Iran kurang percaya pada Indonesia. Alasannya, kita dianggap terlalu condong ke Amerika.

Saya tidak ingin memperdebatkan pernyataan tersebut. Namun saya menyayangkan dampaknya. Indonesia tidak dilibatkan dalam proses negosiasi yang sangat menentukan stabilitas kawasan—padahal kepentingan kita besar di sana.

Selat Hormuz adalah urat nadi energi Indonesia. Hampir 60 persen kebutuhan energi nasional melewati jalur tersebut. Setiap ketegangan di sana langsung berdampak pada harga BBM dan pangan di dalam negeri. Pada akhirnya, rakyat kecil yang menanggung beban.

Catatan dari Ciletuh
Saya sengaja menulis opini ini dari Geopark Ciletuh(Taman Bumi Ciletuh).

Dari sini, Samudra Hindia terbentang luas—laut yang sama yang menghubungkan Indonesia dengan Selat Hormuz, Teluk Oman, dan jalur perdagangan dunia. Pemandangan ini mengingatkan saya betapa kecilnya posisi kita dalam peta geopolitik global jika hanya menjadi penonton.

Ombak di laut lepas tidak peduli siapa yang menang atau kalah. Namun ombak itu membawa kapal tanker minyak, yang harganya ditentukan oleh konflik ribuan kilometer dari tempat kita berdiri.

Harapannya sederhana: Indonesia tidak hanya hadir dalam pernyataan, tetapi juga dalam tindakan. Hadir di meja perundingan, atau setidaknya memiliki suara yang diperhitungkan.

Kesimpulan
Gencatan senjata dua minggu ini bukan akhir konflik, melainkan jeda. Dan jeda tidak sama dengan damai.

Sepuluh poin yang diajukan Iran dan disetujui Amerika bukanlah kesepakatan damai sejati, melainkan konsesi sepihak yang dibungkus dengan bahasa diplomasi.

Iran keluar dengan posisi tawar yang menguat. Amerika membawa beban politik menjelang pemilu. Sementara Indonesia masih berada di pinggir, menunggu dan berharap dilibatkan.

Karena itu, jangan sebut ini perdamaian. Sebut saja apa adanya: kekalahan Amerika yang dibungkus rapi dengan diplomasi.(*)

BERITA TERKINI

TUKIJO1
Paradoks TKA, Belajar Nilai Tinggi tapi Gagap Paham
bpom1
Pengawasan Kantin Sekolah di Banyumas Akan Diperketat
fulad2
10 Poin Iran Bukan Perdamaian, Itu Kekalahan Amerika yang Dibungkus Diplomasi
6242314414883278321 (1)
HIMPAUDI Purbalingga Didorong Solid dan Profesional
fulad
Pembersihan Jenderal AS vs Soliditas Rantai Komando Iran