
Kepala SMPN 1 Poncowarno Eko Wahyudi S.Pd, M.Pd bersama narasumber, jajaran dewan guru serta ratusan murid kelas 7,8 dan 9, usai sosialisasi “Ayo Nyelengi”. (Foto: Humas SMPN 1 Poncowarno/EDUKATOR).
KEBUMEN, EDUKATOR – Sekitar 700 murid SMP Negeri 1 Poncowarno, Kebumen, mengikuti sosialisasi literasi keuangan bertajuk Ayo Nyelengi, Jumat (16/10/2026). Dalam kegiatan yang diinisiasi Perpustakaan Pelita (Pusat Edukasi Literasi dan Taman Baca) SMPN 1 Poncowarno itu, lebih dari 600 murid menyatakan siap menabung pada hari itu, dan selebihnya segera menyusul .
Kegiatan tersebut menghadirkan Siska Wulandari, S.M., Duta Literasi Keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Kebumen, serta Rangga Wira Yudha, S.H., perwakilan Bank Jateng Kantor Cabang Pembantu (KCP) Kutowinangun. Sosialisasi ini bertujuan menumbuhkan kebiasaan menabung, membangun kecakapan mengelola uang saku, dan meningkatkan pemahaman keuangan sejak dini.
Kegiatan tersebut sejalan dengan Program Satu Rekening Satu Pelajar yang didorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor B/500/1317/2026 Tahun 2026. Program ini diarahkan untuk menumbuhkan budaya menabung sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar.
Filosofi Celeng Mengajarkan Konsistensi
Kepala SMPN 1 Poncowarno, Eko Wahyudi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gerakan Ayo Nyelengi bukan sekadar ajakan menyimpan uang. Gerakan ini menjadi langkah konkret untuk membangun kebiasaan mengelola keuangan secara terencana dan konsisten.
Dalam diskusi singkat bersama tim narasumber sebelum pemaparan materi, Eko mengajak peserta memahami alasan penggunaan istilah nyelengi.
“Mengapa menggunakan kata nyelengi, tidak njagoni, gajahi, atau tokoh hewan lainnya?” pancing Eko.
Menurutnya, celeng atau babi hutan memiliki filosofi yang relevan dengan kebiasaan menabung. Ketika berlari, celeng cenderung bergerak lurus dan harus menghentikan langkah sebelum mengubah arah.
Filosofi tersebut menggambarkan pentingnya konsistensi dalam mencapai tujuan. Murid yang menabung untuk mewujudkan impian perlu menjaga komitmen. Uang yang sudah terkumpul hendaknya tidak digunakan untuk keperluan lain yang tidak mendesak.
Menabung Bisa Dimulai dari Uang Saku
Dalam pemaparannya, Siska Wulandari menyampaikan pentingnya pengetahuan pengelolaan keuangan bagi anak usia sekolah. Ia mengajak murid membiasakan diri menyisihkan sebagian uang saku untuk ditabung, meskipun jumlahnya kecil.

“Sisihkan sebagian uang saku untuk ditabung, meskipun kecil,” saran Siska saat menjawab pertanyaan murid.
Menurutnya, kebiasaan menabung secara konsisten dapat membuat simpanan bertambah dari waktu ke waktu. Karena itu, murid perlu belajar membedakan kebutuhan dan keinginan serta mengatur uang saku secara bijak.
Bank Jateng Fasilitasi Pembukaan Rekening
Sosialisasi tersebut juga menghadirkan Rangga Wira Yudha dari Bank Jateng KCP Kutowinangun. Bank Jateng memfasilitasi murid yang ingin membuka rekening tabungan sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.
Dari sekitar 700 murid yang mengikuti sosialisasi, lebih dari 600 murid menyatakan siap menabung mulai hari itu, dan selebihnya menyatakan menysul. Antusiasme tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan menyimpan uang secara teratur melalui rekening tabungan.
Pihak sekolah berharap materi sosialisasi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Murid diharapkan mampu mengelola uang saku, membangun kebiasaan menabung, dan menggunakan uang sesuai kebutuhan.
Dalam jangka panjang, kecakapan mengelola keuangan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi murid untuk merencanakan masa depan, termasuk menyiapkan modal berwirausa. (Prasetiyo)