*Pada Festival Dolanan Tradisional di Museum Prof Soegarda
Aulia menerima penghargaan dari panitia
PURBALINGGA, EDUKATOR–Aulia Izzatun Nisya, murid kelas VII SMP Negeri 3 Pengadegan, Purbalingga berhasil meraih Juara 4 Turnamen Dakon Tingkat Kabupaten Purbalingga. Prestasi tersebut diraih dalam ajang Festival Dolanan Tradisional, bagian dari program Belajar Bersama di Museum (BBM) yang diselenggarakan di Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja, Kamis (13/11/2025).
Festival ini diikuti 32 SMP Negeri se-Kabupaten Purbalingga, memperebutkan empat posisi juara. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program BBM yang digelar sepanjang November oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga untuk mengenalkan budaya lokal dan meningkatkan apresiasi pelajar terhadap permainan tradisional.
Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dindikbud Purbalingga, Wasis Andri Wibowo, S.Pd, mengatakan kegiatan BBM dikemas lebih menarik agar pelajar bisa belajar langsung dari koleksi dan sejarah yang ada di museum.
Aulia bersama pemenang lainnya
“BBM tahun ini kami pusatkan di museum supaya anak-anak bisa belajar sejarah dan budaya secara menyenangkan, interaktif, dan aplikatif,” ujarnya.
Selain Turnamen Dakon, BBM juga menghadirkan kegiatan Arkeolog Cilik, Kaharsa Fest, Pentas Wayang Suket, dan Pameran Temporer yang menampilkan objek pemajuan kebudayaan dari berbagai wilayah di Purbalingga.
Aulia, sang juara dari SMPN 3 Pengadegan, mengaku sangat bangga dapat berpartisipasi dan meraih prestasi di ajang tersebut.
“Rasanya senang dan bangga sekali. Dakon itu seru, bisa melatih strategi dan kesabaran. Saya harap teman-teman juga mau belajar permainan tradisional supaya budaya kita tidak hilang,” ungkapnya penuh semangat.
Kepala SMPN 3 Pengadegan, Drs. Haryono, menyampaikan apresiasi atas prestasi siswinya tersebut.
“Kami sangat bangga dengan Aulia Izzatun Nisya. Ia tidak hanya berprestasi, tapi juga ikut menjaga warisan budaya daerah. Ini bukti bahwa pelajar kita bisa berkompetisi sambil tetap menjunjung nilai-nilai tradisi,” tegasnya.
Festival Dolanan Tradisional menjadi wadah bagi generasi muda untuk memahami filosofi permainan rakyat sekaligus mempererat kebersamaan. Melalui kegiatan ini, diharapkan pelajar Purbalingga tumbuh menjadi generasi yang mencintai budaya sendiri di tengah kemajuan zaman digital.(Citra Dewi/Prs)