*Dari Pusat Perbelanjaan Modern hingga Lapak UMKM
Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Christoveny (kanan) dalam Media Briefing 2025 yang digelar Jumat (19/12/2025) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto.(Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR)
PURWOKERTO, EDUKATOR–Tren transaksi non-tunai berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus melesat di wilayah Banyumas Raya (Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara). Lonjakan transaksi QRIS mencerminkan meningkatnya literasi dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital.
“Penggunaan QRIS kini merambah luas dari pusat perbelanjaan modern, pasar tradisional, hingga lapak UMKM,karena dinilai praktis, cepat, dan aman,” ujar Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Christoveny dalam Media Briefing 2025 yang digelar Jumat (19/12/2025) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto.
Christoveny menyampaikan, implementasi QRIS tidak hanya mempermudah transaksi non-tunai, tetapi juga mendorong efisiensi operasional dan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Data Bank Indonesia Kantor Perwakilan Purwokerto menunjukkan akselerasi signifikan dalam tiga tahun terakhir. Volume transaksi QRIS meningkat dari 10.005.942 transaksi (2023) menjadi 35.314.191 transaksi (2024), lalu melonjak tajam pada 2025 mencapai 90.715.971 transaksi.
Melonjak Jadi Rp 8,23 Triliun
Dari sisi nilai transaksi, QRIS mencatat Rp1,08 triliun (2023), naik menjadi Rp3,5 triliun (2024), dan kembali melonjak pada 2025 sebesar Rp 8,23 triliun.
Pertumbuhan serupa terlihat pada jumlah merchant. Tercatat 322.835 merchant (2022), meningkat menjadi 396.280 (2023), 474.892 (2024), dan 595.388 merchant pada 2025.
Adopsi yang kian luas ini didorong proses pendaftaran yang mudah, biaya relatif terjangkau, serta manfaat pencatatan transaksi yang lebih rapi bagi pelaku usaha—terutama UMKM—sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Selanjutnya dijelaskan, BI Purwokerto juga menautkan lonjakan QRIS dengan penguatan ekosistem ekonomi digital daerah. Digitalisasi sistem pembayaran dinilai berkontribusi pada efisiensi transaksi, transparansi, serta dukungan terhadap inklusi keuangan.
Program pendampingan UMKM, elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, hingga sinergi dengan pemerintah daerah menjadi faktor pendorong utama keberlanjutan tren ini.
Ke depan, Bank Indonesia berharap momentum positif QRIS terus memperkokoh ekosistem ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan di Banyumas Raya.
Perubahan perilaku masyarakat menuju transaksi digital ini diyakini akan mempercepat pertumbuhan UMKM, menjaga stabilitas sistem pembayaran, serta menopang agenda inklusi keuangan nasional.(Budi Yuswinanto/Prs)