Peran Strategis Sekolah Dalam Menanamkan Karakter Peduli Lingkungan

Bagikan :

 

Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Kabupaten Purbalingga

TULISAN ini lahir dari sebuah keresahan sederhana, namun terus berulang, yaitu rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. Gejala ini tampak nyata di ruang-ruang publik, salah satunya di Alun-alun Purbalingga.

Setiap malam Minggu, kawasan tersebut dipenuhi masyarakat yang berekreasi. Namun, keramaian itu hampir selalu menyisakan persoalan yang sama. Keesokan harinya, hamparan rumput tak lagi lapang, melainkan tertutup bungkus makanan, plastik, dan sisa-sisa konsumsi lainnya yang berserakan tanpa tanggung jawab.

Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan semata soal ketersediaan fasilitas. Tempat sampah sejatinya tersedia, petugas kebersihan pun bekerja setiap hari. Namun, persoalan mendasarnya terletak pada kesadaran dan kebiasaan. Ruang publik masih diperlakukan seolah bukan milik bersama, sehingga tanggung jawab menjaga kebersihannya kerap dialihkan kepada pihak lain.

Belajar dari Singapura
Keresahan ini membawa ingatan penulis pada sebuah pengalaman berharga pada tahun 2014, ketika mengikuti studi banding kebersihan kota di Singapura bersama Forum Purbalingga Bersih.

Pengalaman tersebut menghadirkan perbandingan yang kontras. Lingkungan kota Singapura tampak bersih, tertata, dan hijau. Sampah hampir tidak terlihat berserakan, meskipun aktivitas masyarakat berlangsung sangat padat.

Di Singapura, tempat sampah tersedia secara memadai dan tersebar di berbagai sudut, bahkan di lokasi-lokasi yang tidak terduga. Namun yang lebih penting dari sekadar fasilitas adalah kesadaran masyarakatnya.

Membuang sampah sembarangan bukan hanya dianggap pelanggaran hukum, tetapi juga pelanggaran moral dan sosial. Regulasi yang tegas berjalan seiring dengan kesadaran kolektif, sehingga kebersihan tidak dipaksakan, melainkan dipatuhi secara sadar.

Pengalaman tersebut menyadarkan bahwa kebersihan lingkungan bukan hasil dari kebijakan instan. Ia lahir dari proses panjang yang melibatkan pendidikan, pembiasaan, keteladanan, serta konsistensi penegakan aturan. Lingkungan yang bersih merupakan cerminan karakter masyarakatnya. Dengan demikian, persoalan sampah sesungguhnya adalah persoalan karakter dan cara pandang terhadap ruang bersama.

Berangkat dari kesadaran itu, muncul pertanyaan mendasar: di manakah titik awal paling strategis untuk membentuk karakter peduli lingkungan? Salah satu jawabannya adalah sekolah.

Peran Sentral
Sekolah memiliki peran sentral dalam membentuk nilai, sikap, dan kebiasaan peserta didik yang kelak menjadi bagian dari masyarakat.
Sekolah bukan hanya tempat transfer pengetahuan akademik, melainkan ruang belajar hidup bersama.

Di dalamnya, peserta didik belajar memahami aturan, menghargai hak orang lain, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, menumbuhkan kesadaran kebersihan di sekolah sejatinya merupakan bagian dari pendidikan karakter yang utuh.

Peran pertama sekolah adalah menanamkan nilai kebersihan sejak usia dini. Ketika peserta didik dikenalkan bahwa membuang sampah pada tempatnya adalah tindakan sederhana namun bermakna, maka nilai tersebut perlahan tertanam sebagai kebutuhan, bukan keterpaksaan. Kebersihan tidak lagi dipahami sebagai kewajiban karena takut hukuman, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab pribadi.

Selanjutnya, sekolah perlu membangun budaya peduli lingkungan secara konsisten. Kebersihan tidak cukup dijadikan program seremonial atau kegiatan insidental, tetapi harus menjadi budaya sehari-hari. Lingkungan sekolah yang bersih, tersedianya tempat sampah terpilah, serta rutinitas kebersihan yang melibatkan seluruh warga sekolah akan membentuk kebiasaan positif. Dari budaya inilah peserta didik belajar bahwa ruang bersama adalah tanggung jawab bersama.

Keteladanan
Keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan juga memegang peran yang sangat penting. Sikap guru yang disiplin menjaga kebersihan, memberi contoh nyata, serta menegur dengan cara yang mendidik akan lebih efektif dibandingkan sekadar nasihat. Keteladanan merupakan bahasa moral yang paling mudah dipahami dan ditiru oleh peserta didik.

Selain itu, pendidikan lingkungan perlu diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Isu kebersihan dan pengelolaan sampah dapat dihubungkan dengan berbagai mata pelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya memahami dampaknya secara teoritis, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan realitas kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang kontekstual akan menumbuhkan kesadaran yang lebih mendalam dan bermakna.

Pembiasaan melalui praktik nyata juga menjadi kunci. Kegiatan seperti piket kelas, kerja bakti, bank sampah, hingga proyek kepedulian lingkungan melatih peserta didik untuk bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan sendiri. Dari praktik tersebut, tumbuh kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.

Sekolah juga perlu menegakkan aturan kebersihan secara konsisten dengan pendekatan edukatif. Aturan yang jelas dan sanksi yang mendidik membantu peserta didik memahami batasan perilaku, sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab sosial. Penegakan aturan bukan untuk menghukum, melainkan untuk membentuk karakter.

Melalui seluruh proses tersebut, sekolah sejatinya sedang menyiapkan peserta didik sebagai agen perubahan. Kebiasaan menjaga kebersihan yang tertanam di sekolah akan terbawa ke ruang public, seperti alun-alun, pasar, tempat wisata, dan lingkungan tempat tinggal. Dari individu-individu inilah kesadaran kolektif masyarakat perlahan terbentuk.

Kondisi Alun-alun Purbalingga yang kerap dipenuhi sampah setiap malam Minggu sesungguhnya adalah cermin persoalan yang lebih mendasar, yakni belum kuatnya kesadaran kolektif dalam menjaga ruang bersama. Pengalaman Singapura memberikan pelajaran bahwa lingkungan yang bersih lahir dari pendidikan yang konsisten dan karakter masyarakat yang terbentuk sejak dini.

Sekolah memiliki posisi strategis sebagai titik awal perubahan tersebut. Jika sekolah mampu menjalankan perannya secara konsisten dalam menanamkan nilai kebersihan dan tanggung jawab lingkungan, maka harapan akan ruang publik yang bersih dan nyaman bukanlah sekadar wacana. Ia menjadi keniscayaan yang tumbuh perlahan, berkelanjutan, dan berakar kuat dalam karakter masyarakat.(*)

BERITA TERKINI

6273579693739019637
8000 Lebih Peserta Ikuti Jalan Sehat, Kerukunan Beragama Semakin Menguat
STNK TIWI
Warga Purbalingga "Embun Rahmah Nurpratiwi" Kehilngan STNK
IMG_20260108_155802_270
Bumdes Desa Dagan Panen Raya Ikan Nila dengan Sistem Bioflok
Aston 1
ASTON Purwokerto Angkat Kuliner Korea
FAUZI
Peran Strategis Sekolah Dalam Menanamkan Karakter Peduli Lingkungan