Oleh: Priyanto, M.Pd.I
Kepala SMPN 3 Kutasari
Litbang MKKS SMP Kabupaten Purbalingga
DI TENGAH meningkatnya tuntutan terhadap prestasi sekolah—baik akademik maupun nonakademik—dunia pendidikan kerap terjebak pada logika hasil. Nilai, peringkat, dan trofi sering dijadikan ukuran utama keberhasilan. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar justru jarang diajukan: dari fondasi seperti apa prestasi itu bertumbuh?
Pengalaman banyak sekolah menunjukkan bahwa prestasi yang berkelanjutan tidak lahir dari tekanan, melainkan dari harmoni yang dirawat secara sadar dalam kehidupan sekolah.
Sekolah pada hakikatnya adalah ruang sosial yang hidup. Ia bukan hanya tempat transfer pengetahuan, melainkan ekosistem relasi antarmanusia: guru, peserta didik, tenaga kependidikan, pimpinan, orang tua, dan komunitas sekitar.
Ketika relasi-relasi ini berjalan timpang—dipenuhi ketegangan, ketidakpercayaan, atau komunikasi yang kaku—kreativitas sulit tumbuh, dan prestasi cenderung bersifat semu. Sebaliknya, sekolah yang harmonis menyediakan iklim psikologis yang sehat bagi tumbuhnya keberanian belajar dan berinovasi.
Rapat Guru sebagai Ruang Refleksi
Dalam praktiknya, harmoni sekolah dapat dilihat dari hal-hal sederhana namun menentukan. Di sejumlah sekolah, misalnya, rapat guru tidak lagi semata forum administratif, tetapi ruang refleksi bersama. Guru diberi kesempatan berbagi praktik pembelajaran, mendiskusikan tantangan kelas, bahkan menyampaikan kegelisahan profesional tanpa rasa takut disalahkan.
Pola komunikasi semacam ini menumbuhkan rasa aman psikologis, yang oleh banyak kajian disebut sebagai prasyarat utama pembelajaran yang bermakna.
Harmoni sekolah juga tercermin dalam relasi guru dan peserta didik. Sekolah yang menumbuhkan harmoni tidak mengandalkan disiplin represif, melainkan pendekatan dialogis. Aturan tetap ditegakkan, tetapi dijelaskan maknanya. Ketika terjadi pelanggaran, yang diutamakan bukan hukuman semata, melainkan refleksi dan perbaikan. Dalam iklim seperti ini, peserta didik merasa dihargai sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar objek pengendalian.
Dari harmoni inilah kreativitas menemukan ruangnya. Kreativitas pendidikan tidak selalu identik dengan inovasi besar atau penggunaan teknologi mutakhir. Ia sering hadir dalam bentuk yang lebih membumi: guru yang merancang proyek lintas mata pelajaran, pembelajaran berbasis masalah lokal, atau kegiatan seni dan literasi yang melibatkan seluruh warga sekolah.
Sekolah yang harmonis memberi ruang improvisasi—kesempatan untuk mencoba, gagal, belajar, dan memperbaiki—tanpa stigma negatif.
Beberapa sekolah menunjukkan bahwa ketika guru diberi kepercayaan untuk berkreasi, pembelajaran menjadi lebih hidup. Kelas tidak lagi sekadar ruang penyampaian materi, tetapi ruang dialog dan eksplorasi.
Siswa dilibatkan dalam perencanaan proyek, diberi ruang menyuarakan minat, dan diajak merefleksikan proses belajarnya. Kreativitas yang tumbuh dari harmoni semacam ini bersifat kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata peserta didik.
Kepala Sekolah sebagai Penyelaras
Peran kepemimpinan sekolah menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan tersebut. Kepala sekolah yang efektif tidak tampil sebagai pengendali tunggal, melainkan sebagai penyelaras. Ia menetapkan visi dan arah, tetapi memberi ruang partisipasi dalam pelaksanaannya. Keteladanan dalam bersikap, konsistensi dalam kebijakan, serta keberanian mendengar menjadi sumber legitimasi moral kepemimpinan. Dari sinilah kepercayaan tumbuh, dan kerja kolektif menjadi mungkin.
Prestasi, dalam kerangka ini, perlu dimaknai secara lebih luas. Prestasi bukan hanya soal capaian akademik atau kemenangan lomba, tetapi juga tentang pertumbuhan karakter, kemandirian belajar, dan kemampuan bekerja sama. Sekolah yang harmonis cenderung menghasilkan prestasi yang lebih utuh: siswa yang percaya diri, guru yang terus belajar, serta budaya sekolah yang dihargai oleh masyarakat. Prestasi semacam ini tidak selalu spektakuler, tetapi berkelanjutan.
Sebaliknya, pengalaman juga menunjukkan risiko ketika prestasi dikejar dengan mengabaikan harmoni. Tekanan berlebihan, kompetisi tidak sehat, atau orientasi hasil semata dapat melahirkan capaian jangka pendek, tetapi merapuhkan iklim sekolah. Dalam kondisi seperti itu, kreativitas terhambat dan kelelahan kolektif mudah muncul. Harmoni, karenanya, berfungsi sebagai penyeimbang pedagogis sekaligus moral.
Harmoni Sekolah Tumbuh dari Kebiasaan Kecil
Membangun harmoni sekolah bukan pekerjaan instan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten: komunikasi yang jujur, apresiasi yang tulus, disiplin yang manusiawi, dan refleksi bersama. Kerja-kerja ini sering berlangsung sunyi dan tidak selalu terlihat, tetapi justru menentukan daya hidup sekolah dalam jangka panjang.
Di tengah perubahan cepat—disrupsi teknologi, tantangan pascapandemi, dan tuntutan kompetensi abad ke-21—sekolah membutuhkan fondasi yang kokoh. Harmoni menyediakan fondasi itu. Ia memungkinkan sekolah bergerak tanpa kehilangan arah, berinovasi tanpa tercerabut dari nilai, dan berprestasi tanpa mengorbankan kemanusiaan.
Pada akhirnya, membangun sekolah unggul bukanlah kerja individu, melainkan orkestrasi bersama. Ketika harmoni dirawat, kreasi akan tumbuh. Ketika kreasi diberi ruang, prestasi akan mengikuti—bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai buah dari proses pendidikan yang hidup dan bermakna. Semoga! (*)