Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
BElUM lama ini, sebuah video reflektif yang beredar di media sosial melalui akun Rohmani.id memantik diskursus penting tentang praktik pendidikan yang sering luput dari perhatian. Video tersebut menyuarakan kegelisahan mendasar; jangan sampai peserta didik tumbuh menjadi “tamu” di sekolahnya sendiri yang hanya hadir secara fisik, tetapi tanpa keterikatan emosional, rasa memiliki, dan tanggung jawab terhadap lingkungan tempat mereka belajar dan dibentuk.
Mengandalkan “Cleaning Service”
Gagasan tersebut relevan dengan fenomena yang banyak ditemui di sekolah-sekolah masa kini. Demi membangun citra lembaga pendidikan yang ideal—bersih, rapi, dan estetis—tidak sedikit sekolah yang sepenuhnya mengandalkan tenaga kebersihan profesional (cleaning service).
Secara manajerial, praktik ini tampak efisien dan modern. Sekolah berjalan sebagai institusi formal dengan pembagian peran yang tegas: tenaga kebersihan membersihkan, guru mengajar, dan peserta didik belajar.
Namun, di balik kerapian yang tampak sempurna tersebut, tersimpan persoalan pendidikan yang bersifat substantif. Ketika seluruh tanggung jawab pengelolaan lingkungan diserahkan kepada pihak profesional, peserta didik kehilangan ruang belajar kontekstual yang sesungguhnya sangat penting.
Mereka tidak lagi dilibatkan dalam proses menjaga, merawat, dan menata lingkungan sekolah. Akibatnya, sekolah berisiko tereduksi menjadi sekadar ruang transfer pengetahuan kognitif, sementara fungsi pembentukan karakter dan kesadaran sosial menjadi terpinggirkan.
Dalam perspektif pendidikan holistik, pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan konsep dan teori. Pendidikan sejati juga menyentuh dimensi afektif dan psikomotorik, termasuk pembentukan nilai tanggung jawab, kepedulian, disiplin, serta rasa memiliki.
Aktivitas sederhana seperti membersihkan kelas, menyapu halaman, atau merawat taman sekolah bukanlah bentuk eksploitasi peserta didik, melainkan bagian dari embodied learning. Yakni pendekatan pembelajaran yang menekankan pengalaman langsung sebagai sarana internalisasi nilai dan pemahaman yang bermakna. Melalui keterlibatan nyata tersebut, nilai-nilai karakter tidak sekadar disampaikan, tetapi dialami dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.
Libatkan Siswa
Penting untuk ditegaskan bahwa pelibatan siswa dalam perawatan lingkungan sekolah tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran tenaga kebersihan profesional.
Yang dibutuhkan adalah keseimbangan serta desain pedagogis yang tepat. Tenaga kebersihan tetap menjalankan fungsi profesionalnya, sementara peserta didik dilibatkan secara terstruktur, proporsional, dan edukatif sebagai bagian dari proses pembelajaran karakter dan pendidikan lingkungan.
Sekolah yang terlalu “steril” dari keterlibatan peserta didik berisiko melahirkan generasi yang memosisikan diri semata-mata sebagai pengguna fasilitas. Mereka hadir, memanfaatkan sarana, lalu pergi tanpa rasa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat.
Kondisi ini bertentangan dengan tujuan pendidikan yang seharusnya menumbuhkan kesadaran bahwa sekolah adalah ruang bersama—ruang yang perlu dijaga, dihargai, dan dipelihara secara kolektif.
Perlu Ditinjau Kembali
Oleh karena itu, sekolah perlu meninjau kembali kebijakan pengelolaan kebersihan dan lingkungan. Program piket kelas yang dirancang secara bermakna, proyek perawatan taman, pembelajaran berbasis proyek lingkungan, hingga integrasi isu kebersihan dan ekologi dalam pembelajaran lintas mata pelajaran merupakan langkah konkret yang dapat ditempuh.
Lingkungan sekolah semestinya diposisikan sebagai laboratorium pendidikan karakter, bukan sekadar etalase kerapian fisik.
Pada akhirnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar membaca dan berhitung, tetapi sebagai ruang pembentukan manusia seutuhnya. Dan manusia yang berkarakter tidak tumbuh dari ruang yang sepenuhnya steril, melainkan dari ruang yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar bertanggung jawab, peduli, dan merasa memiliki.(*)
Daftar Pustaka
1)https://alhasra.com/artikel/mengenal-embodied-learning-dan-manfaatnya
2)Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek
3)https://journal.umpo.ac.id/index.php/dimensi/article/view/8268