
Iman sedang panen baby leaf, pada hari Kamis 05 Februari 2026. (Foto: Dok Pribadi/EDUKATOR)
JAKARTA, EDUKATOR–Berawal dari kebun hidroponik sederhana di Jagakarsa, Jakarta, Imanuddin (25), tak pernah membayangkan langkah hidupnya akan membawanya memimpin puluhan pekerja di negeri Sakura. Alumni Matematika Universitas Negeri Jakarta itu kini menjadi Manajer Lapangan PT Taya Farm, Jepang, dengan penghasilan lebih tinggi dari pegawai lokal, berkat kerja keras dan kemauan belajar pertanian modern.
Manajer Lapangan
Iman—sapaan akrabnya—telah 1,5 tahun bekerja di PT Taya Farm, perusahaan pertanian modern di Prefektur Fukui, Jepang. Kepercayaan besar diberikan kepadanya untuk memimpin 12 staf, terdiri atas 5 tenaga kerja Jepang dan 7 tenaga kerja Indonesia berstatus Specified Skilled Worker (SSW).
SSW adalah status izin tinggal dan kerja di Jepang yang diberikan kepada tenaga kerja asing dengan keterampilan khusus untuk bekerja di sektor-sektor yang kekurangan tenaga kerja, diantaranya sektor pertanian.

Iman bersama para pemuda SSW asal Indonesia yang magang dan bekerja di Taya Farm – Fukui Jepang, didampingi CEO Taya Farm Mr. Taya Toru. (Foto: Dok Pribadi/EDUKATOR)
“Saya mencari pengalaman, kerja keras, disiplin dan profesional di Jepang. Cita-cita saya ingin menjadi pengusaha di bidang pertanian di Indonesia,” ujar Iman yang dihubungi melalui WhatsApp, Kamis (5/2/2026).
Jaminan Lengkap
Sebagai Manajer Lapangan, Iman menerima gaji pokok 188.403 yen ditambah tunjangan 26.000 yen, sehingga total penghasilan mencapai 232.189 yen per bulan atau sekitar Rp 25 juta (kotor).
Selain itu, ia memperoleh jaminan asuransi sosial, asuransi ketenagakerjaan, tempat tinggal, telepon seluler, dan kendaraan. Setelah seluruh potongan, gaji bersih yang diterima mencapai 169.606 yen atau sekitar Rp18 juta per bulan.
Belajar dari Pelatihan Nasional
Sebelum berangkat ke Jepang, Iman merupakan pembudidaya hidroponik di Jagakarsa. Ia kemudian mengikuti pelatihan selama dua bulan di Balai Besar Pelatihan Peternakan dan Kesehatan Hewan Cinagara, UPT di bawah koordinasi Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI.
Bekal pelatihan tersebut menjadi fondasi kuat bagi Iman untuk beradaptasi dengan sistem pertanian modern berbasis teknologi di Jepang.
Salah satu Green House Taya Farm – Fukui Jepang, tempat magang dan bekerja SSW Indonesia.
Saat ini, PT Taya Farm mengelola 42 green house dan 3,2 hektare lahan hortikultura, dengan 18 komoditas yang memasok supermarket di Prefektur Fukui, di antaranya selada daun muda, ubi jalar, tomat, mentimun, sawi, dan komoditas hortikultura lainnya.
Hasna dan Mimpi Pulang Membangun Daerah
Selain Iman, pemuda Indonesia lain juga menorehkan prestasi di Fukui. Hasna, alumni Fakultas Pertanian Universitas Mataram, bekerja sebagai SSW setelah mengikuti pelatihan bahasa dan budaya Jepang di Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu, Malang.
“Cita-cita Hasna adalah kembali ke Nusa Tenggara Barat dan menjadi pengusaha pertanian setelah menguasai manajemen dan pertanian modern di Jepang,” ungkap Hasna.
Kisah Iman dan Hasna menjadi cermin mimpi besar pemuda Indonesia yang belajar dan bekerja di Jepang, bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi menyiapkan diri untuk kembali membangun pertanian Indonesia dengan bekal teknologi, manajemen modern, dan pengalaman global.
Kerja Keras dan Disiplin
Director General Department of Agriculture, Forestry and Fisheries Fukui Prefectural Government Mr. Inaba Akito menyatakan salut dengan pekerja Indonesia yang bekerja keras dan disiplin dalam bekerja.
“Kami memahami bahwa pertanian di Fukui memiliki kesamaan dengan Indonesia. Dan kami mengapresiasi para pekerja asal Indonesa yang tekun, ulet dan disiplin dalam bekerja,” katanya.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI, Dr. Tedy Dirhamsyah, SP., M.A.B. (nomor 3 dari kiri) bersama Delegasi Kementerian Pertanian RI dan Mr. Inaba Akito Director General Department of Agriculture, Forestry and Fisheries – Fukui Prefecturak Government
Saat ini , lanjutnya, pihaknya sedang mendorong pengembangan pertanian cerdas melalui pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi kerja dan pendapatan petani.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI, Dr. Tedy Dirhamsyah, SP., M.A.B. mengatakan, minat pemuda Indoensia untuk bkerja di Jepang, khususnya di bidang pertanian saat ini cukup tinggi.
Tedy yang juga alumni Fakultas Pertanian Unsoed angkaan 1991 menjelaskan, pada 2025 jumlah tenaga kerja asing di Jepang mencapai lebih dari 2,5 juta orang, didominasi kelompok usia produktif 20–44 tahun, dari total penduduk asing di Jepang sebanyak 3.956.619 jiwa. Dari 2,5 juta itu, 230.689 diantaranya tenaga kerja dari Indonesia.(Alief Einstein/Prs)