
Ndari di Lukang Mazu Temple, Changhua, Taiwan.Foto: Dok pribadi/EDUKATOR)
TAIPEI, EDUKATOR—Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang bertepatan dengan Selasa, 17 Februari 2026 Masehi segera tiba. Menyambut tahun baru Imlek itu, Taiwan yang dijuluki Ilha Formosa atau pulau yang indah, telah berubah menjadi lautan cahaya, festival budaya, dan hidangan tradisional penuh makna.
Perayaan yang menjadi bagian penting dari budaya Tionghoa dan etnis Tionghoa di seluruh dunia ini , menyatukan jutaan orang dari berbagai negara dan komunitas diaspora. Imlek dirayakan tidak hanya di China dan Taiwan, tetapi juga oleh masyarakat keturunan Tionghoa di negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, hingga Eropa dan Amerika.
Bagaimana menyambut tahun baru Imlek di Taiwan?
Berikut pengalaman yang disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Sulistyandari, SE., MSi., yang sedang menempuh studi doktoral di National Yunlin University of Science and Technology (NYUST), Douliu, Taiwan.
Tradisi dan Shio Tahun Imlek 2577
Imlek atau Festival Musim Semi merupakan perayaan Tahun Baru dalam kalender lunar . Yaitu sistem penanggalan yang mengikuti siklus bulan. Satu bulan berlangsung sekitar 29 hingga 30 hari, sehingga jumlah harinya lebih pendek dibanding kalender Masehi.
Karena itu, tanggal Tahun Baru Imlek selalu berubah setiap tahun, umumnya berada di rentang akhir Januari hingga pertengahan Februari.
Di Taiwan, Imlek atau Festival Musim Semi dirayakan selama 15 hari, dipuncaki oleh Festival Lentera. Tahun 2026 menandai awal tahun yang disebut Tahun Kuda Api (Fire Horse) dalam tradisi zodiak Tionghoa — sebuah siklus yang mencerminkan semangat, energi, dan keberanian sepanjang tahun.
Ruang Publik Berubah Jadi Pusat Perayaan
Menurut Ndari — sapaan akrab Sulistyandari — Imlek di Taiwan bukan sekadar pergantian tahun, tetapi sebuah festival kebudayaan yang hidup di ruang publik.
“Dari Taipei di utara sampai Kaohsiung di selatan, masyarakat menyambut tahun baru dengan cahaya, kuliner, dan kegiatan komunitas yang hangat,” ujarnya dalam percakapan dengan EDUKATOR melalui kanal WhatsApp, Minggu (8/2/2026).
Ndari di salah satu sisi jalan dekat pusat kota Douliu, Yunlin yang dipenuhi lampion menjelang Imlek. (Foto: Dok pribadi/EDUKATOR)
Ia menuturkan, festival lampion tetap menjadi magnet utama. Taipei Lantern Festival dan Kaohsiung Lantern Festival masuk agenda tahunan yang paling ditunggu. Festival lampion berskala nasional tahun ini dijadwalkan berlangsung di Chiayi pada awal Maret.
Chiayi adalah sebuah kota di Taiwan bagian barat daya pulau utama yang dikenal sebagai pusat budaya dan pintu gerbang ke kawasan wisata Alishan yang terkenal dengan pemandangan alamnya. Kota ini juga memiliki taman, kuil, pasar malam, dan berbagai museum yang menarik bagi wisatawan.
Jarak Chiayi dari Taipei, ibu kota Taiwan di bagian utara pulau, sekitar ±210–260 kilometer, tergantung rute dan moda transportasi yang digunakan. Perjalanan darat (mobil atau kereta api) dari Taipei ke Chiayi umumnya membutuhkan sekitar 2,5 sampai 3 jam, sedangkan jarak udara (lurus) berkisar sekitar 200 kilometer
“Menyambut tahun baru Imlek ini, instalasi lampion raksasa, ornamen tematik, dan jalur cahaya malam hari menjadi simbol harapan serta keberuntungan,” ujarnya.
Kaohsiung Tampil Kreatif dan Modern
Ndari menceritakan, di kawasan Love River Bay, festival musim dingin Kaohsiung Wonderland mencuri perhatian karena mengangkat tema Ultraman dengan figur-figur ikonik di tepi sungai, berpadu dengan pertunjukan cahaya dan wahana keluarga.
Festival Lampion Tahunan dengan tema “Ultraman” di Kaohsiung, Taiwan.(Foto: Instagram @kaohsiung_city/EDUKATOR)
“Perpaduan budaya populer dengan tradisi tahun baru menunjukkan bagaimana Taiwan merayakan Imlek secara kreatif dan modern,” kata dosen ahli corporate finance tersebut.
Dihua Street, Lautan Manusia Pemburu Tradisi
Selain festival besar, suasana Imlek terasa kuat melalui bazar dan pasar malam yang dipenuhi dekorasi merah dan emas, ornamen keberuntungan, serta jajanan tradisional.
Ndari dan teman-teman kuliah dari Taiwan dan Yaman yang berjualan Kebab dan Samosa di pasar malam Douliu, Yunlin.(Foto: Dok pribadi/EDUKATOR)
Di Taipei, Dihua Street menjadi lokasi paling ikonik. Bazar tahunan berlangsung mulai 31 Januari hingga 15 Februari dan hanya digelar menjelang Imlek setiap tahun.
Jalan tua itu berubah menjadi lautan manusia yang berburu kebutuhan khas Imlek. Ramai, padat, namun penuh semangat.
Suasana pasar malam di Douliu, Yunlin.(Foto: Dok pribadi/EDUKATOR)
Hidangan Sarat Filosofi Keberuntungan
Imlek juga identik dengan hidangan yang sarat makna. Pangsit, misalnya, melambangkan kekayaan dan rezeki karena bentuknya menyerupai batangan emas kuno.
Ikan juga menjadi sajian wajib, karena dalam bahasa Mandarin kata “yu” (ikan) terdengar seperti “kelimpahan”, sehingga ikan dimaknai sebagai harapan rezeki berlebih di tahun baru. Biasanya ikan disajikan utuh sebagai simbol keutuhan dan keberuntungan.
Jeruk menjadi buah yang paling sering diberikan atau diletakkan di rumah selama Imlek. Warnanya yang keemasan dianggap membawa kemakmuran, sementara bunyinya dalam bahasa Mandarin juga diasosiasikan dengan keberuntungan.
Selain itu, mie panjang atau longevity noodles melambangkan umur panjang dan kesehatan, sehingga mie biasanya tidak dipotong agar doa panjang umur tetap utuh.
Kue keranjang atau nian gao juga menjadi ikon Imlek. Teksturnya yang lengket melambangkan eratnya hubungan keluarga, sementara namanya berarti “tahun yang lebih tinggi”, sebagai do’a agar kehidupan dan rezeki meningkat dari tahun ke tahun.
Hangat Hingga Kota Kecil
Selain banyaknya makanan yang disajikan, kemeriahan tahun baru Imlek tidak hanya terpusat di kota besar. Di Douliu, tempat Ndari tinggal selama studi, lampion menghiasi jalan utama. Festival cahaya dan pasar malam ramai dikunjungi keluarga yang menikmati suasana kebersamaan.
“Di tengah musim dingin, cahaya lampion dan keramaian warga justru menghadirkan kehangatan tersendiri,” ujar Ndari.
Perayaan Imlek 2026 kembali menegaskan bahwa tradisi dan modernitas berjalan berdampingan di seluruh Taiwan.
Dari festival urban di tepi sungai Kaohsiung hingga bazar legendaris Dihua Street, semuanya berpadu dalam semangat menyambut tahun baru dengan optimisme dan penuh harapan.(Alief Einstein/Prasetiyo)