Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
RILIS hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA sederajat tahun 2025 patut dibaca sebagai peringatan penting bagi dunia pendidikan. Di tengah berbagai program peningkatan mutu dan transformasi pembelajaran, data capaian nasional justru menunjukkan bahwa kompetensi pada mata pelajaran inti masih tergolong rendah. Matematika dan Bahasa Inggris menjadi sorotan utama, sementara capaian Bahasa Indonesia pun belum benar-benar kuat. Ini bukan sekadar angka ujian, melainkan cermin kesiapan akademik peserta didik.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengumumkan hasil TKA 2025 secara resmi dan mendistribusikan sertifikat hasil tes ke sekolah-sekolah. Pemerintah menegaskan bahwa TKA bukan penentu kelulusan dan bukan alat pemeringkatan, melainkan instrumen pemetaan kompetensi. Dengan kata lain, TKA berfungsi sebagai diagnosis. Ia menunjukkan di mana titik lemah pembelajaran dan bagian mana yang perlu segera diperbaiki.
Data rerata nasional skala 0–100 memperlihatkan gambaran yang tidak bisa diabaikan. Bahasa Indonesia wajib berada di kisaran 55, Matematika wajib sekitar 36, dan Bahasa Inggris wajib bahkan di bawah 25. Pada mata pelajaran lanjutan, terlihat variasi cukup lebar: ada yang relatif tinggi seperti Antropologi dan Geografi di kisaran 70, tetapi mata pelajaran numerik dan sains lanjut masih berada di rentang menengah ke bawah. Ketimpangan ini mengirim pesan jelas, yaitu fondasi numerasi dan pemahaman bahasa asing masih lemah.
Kebiasaan Belajar yang Kurang Bernalar
Bagi siswa SMP yang akan menghadapi TKA pada periode berikutnya, hasil ini seharusnya menjadi alarm dini. Kelemahan literasi dan numerasi tidak muncul mendadak di kelas akhir. Ia tumbuh dari kebiasaan belajar yang kurang bernalar, kurang membaca mendalam, dan terlalu bertumpu pada hafalan. Banyak siswa gagal bukan karena tidak bisa menghitung, melainkan karena tidak memahami maksud soal. Soal panjang ditinggalkan sebelum dibaca utuh.
Teks Argumentatif Dihindari karena Dianggap Melelahkan
Kondisi nyata di sekolah juga perlu dibaca jujur. Pembelajaran kerap tersandera urusan administratif. Energi guru habis untuk perangkat dan laporan, sementara latihan bernalar, membaca analitis, dan diskusi konseptual kurang mendapat waktu yang cukup.
Dampak pembelajaran jarak jauh beberapa tahun lalu juga belum sepenuhnya pulih, terutama pada penguasaan konsep dasar matematika dan daya tahan membaca. Di saat yang sama, distraksi digital membuat siswa makin terbiasa dengan informasi singkat dan serba cepat, bukan bacaan panjang yang menuntut ketekunan berpikir.
Perubahan Pendekatan
Namun situasi ini bukan tanpa jalan keluar. Pengalaman sejumlah sekolah menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi TKA tidak dibangun dengan sekadar menambah jam belajar atau memperbanyak latihan soal. Yang lebih menentukan adalah perubahan pendekatan.
Pertama, pembelajaran perlu berbasis diagnosis. Hasil try out dan latihan tidak berhenti sebagai nilai, tetapi dibedah per kompetensi. Di mana letak lemahnya: pemahaman bacaan, interpretasi grafik, atau penalaran logis. Dari situ program penguatan dibuat lebih tepat sasaran.
Kedua, literasi harus menjadi kebiasaan harian yang nyata. Membaca tidak cukup hanya dijadwalkan, tetapi ditindaklanjuti dengan ringkasan, penentuan gagasan utama, dan tanggapan tertulis. Semua mata pelajaran ikut bertanggung jawab membangun kemampuan memahami teks, bukan hanya guru bahasa.
Ketiga, numerasi perlu dibuat kontekstual. Latihan tidak berhenti pada rumus, tetapi menyentuh tabel, grafik, perbandingan, estimasi, dan masalah bertahap yang dekat dengan situasi nyata. Klinik belajar skala kecil dengan umpan balik langsung sering kali lebih efektif daripada latihan massal.
Keempat, simulasi tes harus diikuti tindak lanjut. Hasilnya dipakai untuk pengelompokan belajar dan pendampingan, bukan sekadar arsip nilai.
Kelima, penguatan melalui tutor sebaya dan mentoring terbukti membantu. Selain meringankan beban guru, cara ini menumbuhkan budaya belajar kolaboratif.
Perkuat Numerasi Dasar
Dari sisi siswa, strategi menghadapi TKA juga perlu diluruskan. Kesalahan umum adalah menumpuk latihan soal menjelang tes tanpa memperbaiki cara berpikir. Padahal TKA mengukur penalaran.
Belajar rutin 30–45 menit per hari dengan fokus membaca cermat dan bernalar jauh lebih berdampak daripada belajar maraton sesaat. Biasakan memahami maksud soal sebelum menjawab, menandai kata kunci, dan menjelaskan alasan pilihan jawaban. Perkuat numerasi dasar seperti pecahan, perbandingan, dan pembacaan data. Belajar dengan fokus, kurangi gangguan, dan aktif berdiskusi dalam kelompok kecil.
Lembaga bimbingan belajar juga melihat pola yang sama: siswa yang dibiasakan berpikir tingkat tinggi – menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi – lebih siap menghadapi model soal TKA. Pendekatan diskusi konsep dan strategi pemecahan masalah lebih efektif daripada hafalan rumus. Kesiapan mental pun berperan dalam kemampuan mengatur waktu, tetap tenang, dan menjaga motivasi.
Pada akhirnya, kesiapan menghadapi TKA berada di titik temu antara sistem sekolah dan kebiasaan siswa. Program sekolah yang baik tanpa perubahan cara belajar hanya menjadi formalitas.
Sebaliknya, semangat siswa tanpa arah strategi hanya mengandalkan keberuntungan. Nilai TKA yang rendah bukan vonis akhir. Ia adalah peringatan awal.
Dunia pendidikan tidak runtuh karena satu hasil tes. Yang berbahaya justru ketika hasil rendah dianggap wajar dan dibiarkan tanpa perbaikan. Jika dibaca dengan jujur, TKA adalah cermin kesiapan – dan cermin hanya berguna jika membuat kita mau berbenah. (*)