*Tampat Sampah, Pengki, Sapu Lidi hingga Sapu Glagah

Inilah produk-produk warga binaan Rutan Purbalingga
PURBALINGGA, EDUKATOR–Hasil pelatihan kerajinan bambu warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Purbalingga kini hadir di ruang-ruang publik. Pemerintah Kabupaten Purbalingga melalui Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DLH PKP) Kabupaten Purbalingga membeli produk mereka untuk digunakan sebagai sarana kebersihan taman. Langkah ini sekaligus membuka peluang agar para warga binaan memiliki bekal kemandirian setelah bebas nanti.
Perwakilan DLH PKP Purbalingga, Imam Supardi di Purbalingga, Jumat (13/2/2026) mengatakan, perlengkapan tersebut akan ditempatkan di sejumlah taman kota dna fasilitas umum , agar membantu menjaga kebersihan sekaligus memperluas pemasaran karya warga binaan.
“Produk ini akan digunakan sebagai tempat sampah di taman dan fasilitas umum di Purbalingga. Harapannya dapat membantu memperluas pemasaran hasil karya warga binaan,” ujarnya.
Salah seorang warga binaan sedang mengangkut tempat sampah hasil karya warga binaan di Rutan Purbalingga.
Bekal Kembali ke Masyarakat
Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Purbalingga, Yoan, menjelaskan produk yang dibeli pemerintah daerah merupakan hasil program pembinaan keterampilan. Melalui pelatihan bambu, warga binaan mampu membuat tempat sampah, pengki, sapu lidi, hingga sapu glagah.
“Pelatihan ini kami berikan sebagai bekal agar warga binaan bisa berkarya dan memiliki keterampilan saat kembali ke masyarakat,” jelasnya.
Pada tahap awal, pihak rutan menyalurkan 36 unit tempat sampah dan 60 pengki kepada DLH PKP. Selain menjadi sarana pembinaan, kegiatan produksi juga memberi nilai ekonomi karena warga binaan menerima premi dari hasil pekerjaan mereka.
“Mereka bekerja dan mendapatkan hasil. Harapannya setelah keluar dari Rutan Purbalingga, keterampilan ini bisa menjadi peluang usaha bagi mereka,” tambah Yoan.
Pemasaran Diperluas dengan Kanal Digital
Upaya memperkenalkan produk warga binaan tidak berhenti pada kerja sama dengan pemerintah daerah. Rutan juga menggandeng Organisasi Pasar Segamas serta Perumda Owabong, sekaligus memanfaatkan marketplace dan media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Masyarakat yang ingin memiliki produk kerajinan tersebut dapat memesan melalui akun resmi rutan atau datang langsung ke lokasi. Dengan cara ini, hasil karya warga binaan diharapkan semakin dikenal luas dan benar-benar menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih mandiri setelah mereka kembali ke tengah masyarakat. (Prasetiyo)