Di Balik Prestasi dan Sensitivitas, Sekolah Ditantang Menguatkan Mental Generasi Stroberi

Bagikan :

Oleh:Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

BELAKANGAN ini, di dunia pendidikan muncul istilah yang cukup populer, yaitu generasi stroberi. Menurut Rhenald Kasali, guru besar ilmu manajemen di Universitas Indonesia, istilah ini menggambarkan sebagian generasi muda yang tampak cerdas, kreatif, dan ekspresif, tetapi dinilai kurang tahan terhadap tekanan, mudah tersinggung, serta cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan. Seperti buah stroberi—menarik dilihat, namun mudah rusak bila tertekan.

Terlepas dari pro dan kontra, fenomena ini patut menjadi bahan refleksi dunia pendidikan. Banyak guru merasakan perubahan karakter belajar siswa. Tidak sedikit yang cepat putus asa saat menemui soal sulit, sensitif terhadap koreksi, serta lebih menyukai hasil instan daripada proses panjang. Nilai rendah sering dianggap sebagai “vonis”, bukan umpan balik untuk perbaikan.

Kemudahan Zaman, Tantangan Ketangguhan
Perubahan zaman membawa banyak kemajuan. Anak-anak tumbuh dengan akses informasi luas, fasilitas belajar lebih baik, serta dukungan orang tua yang semakin besar. Teknologi membuat pembelajaran menjadi cepat dan praktis. Generasi sekarang pun lebih berani berpendapat, kreatif, dan terbuka.

Namun, kemudahan dan perlindungan berlebih bisa memunculkan efek samping. Anak terlalu cepat dibantu ketika kesulitan, terlalu cepat dibela saat salah, dan jarang menghadapi konsekuensi secara utuh. Saat bertemu tuntutan nyata—ujian sulit, kritik, dan persaingan—mereka merasa kaget. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena kurang terlatih menghadapi tekanan.

Peran Sekolah Membentuk Daya Tahan
Di sinilah sekolah dan guru memegang peran penting. Pendidikan tidak cukup mentransfer pengetahuan, tetapi juga harus membentuk ketangguhan. Guru perlu menghadirkan ketegasan yang manusiawi: jelas aturannya, konsisten standarnya, namun tetap menghargai martabat siswa. Ketegasan bukan untuk menekan, melainkan menuntun.

Siswa perlu dibiasakan berproses. Tidak semua harus dipermudah. Tugas menantang dan target yang menuntut usaha tetap penting. Rasa lelah dalam belajar justru bagian dari pertumbuhan. Dari situlah daya tahan terbentuk.

Cara pandang terhadap kegagalan pun harus diubah. Nilai rendah dan kesalahan bukan akhir perjalanan, melainkan bahan evaluasi. Yang utama adalah memperbaiki dan mencoba lagi. Gagal adalah pelajaran, bukan label ketidakmampuan.

Keteladanan Lebih Kuat dari Nasihat
Pada akhirnya, keteladanan guru menjadi fondasi. Cara guru menghadapi masalah, menerima kritik, dan terus belajar akan lebih kuat pengaruhnya dibandingkan nasihat panjang. Siswa belajar ketangguhan dari contoh nyata.

Jika generasi stroberi dianggap rapuh, maka tugas pendidikan bukan memberi cap, melainkan menumbuhkan daya tahan. Sekolah harus menjadi tempat aman untuk mencoba, gagal, bangkit, dan mencoba lagi. Dari sanalah lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga kuat menghadapi tantangan zaman.(*)

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

priyanto01
Ramadan di Era Kontemporer, Persiapan Ibadah di Tengah Distraksi
FAUZI
Di Balik Prestasi dan Sensitivitas, Sekolah Ditantang Menguatkan Mental Generasi Stroberi
juara mapel1
Tiga SMP Rebut Juara Umum Lomba Mapel IPA, IPS dan Matematika  Purbalingga 2026
tarhib2
Gugus PAUD Mawar Bukateja Gelar Tarhib Ramadan
mujahadah1
MI Al Mujahadah Gelar Tasyakuran WBK dan Nyadran