
Pementasan teater “Blokeng” oleh Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa). (Foto: Humas Katasapa/EDUKATOR)
PURBALINGGA, EDUKATOR–Pementasan teater “Blokeng” menjadi momentum istimewa yang menandai satu dekade kiprah Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa) Purbalingga dalam berkarya. Pertunjukan itu berlangsung pada Sabtu malam, 14 Februari 2026, di Bioskop Misbar, Kompleks Taman Usman Janatin, dan berhasil menarik perhatian para pencinta seni.
“Blokeng” dihadirkan melalui proses adaptasi dari cerpen berjudul sama karya sastrawan terkemuka Ahmad Tohari. Kisah tersebut lama dikenal sebagai karya yang tajam dalam menggambarkan realitas kehidupan masyarakat.
Naskah cerpen kemudian diadaptasi menjadi naskah drama oleh Agustav Triono, yang juga menjabat sebagai Ketua Katasapa sekaligus sutradara pementasan. Di bawah arahannya, cerita “Blokeng” menjadi pertunjukan teater yang hidup, komunikatif, dan mengandung kritik sosial.
Salah satu adegan dalam pentas “Blokeng”. (Foto: Humas Katasapa/EDUKATOR)
Kisah Perempuan “Gemblung”
Pementasan ini berkisah tentang Blokeng, seorang perempuan “gemblung” dan tiba-tiba hamil. Peristiwa itu memicu kegaduhan di tengah masyarakat. Warga saling menduga dan berspekulasi tentang siapa yang menghamilinya.
Kegemparan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih mendalam: siapa sebenarnya yang tidak waras Blokeng atau masyarakat yang sibuk menghakimi? Dari sanalah kritik sosial dalam cerita ini menemukan momentumnya.
Salah satu adegan dalam pentas “Blokeng”. (Foto: Humas Katasapa/EDUKATOR)
Pementasan diperkuat oleh para pemain yang tampil ekspresif, yakni Meyda, Agustav, Trisnanto Budidoyo, Deka Aepama, Lilian Kiki Triwulan dan Rone Yuliar. Produksi ini dikomandoi oleh Ikrom Rifai selaku pimpinan produksi (Pimpro) dan Peppy sebagai stage manager yang memastikan jalannya pertunjukan berlangsung lancar dan tertata.
Pentas Kolektif
Tak hanya melibatkan internal komunitas, pentas produksi ini terselenggara secara kolektif dengan menggandeng berbagai kelompok seni. Teater Proses UNWIKU turut ambil bagian menggarap artistik panggung.
Demikian pula kelompok musik dari Umah Wayang Kemukusan Selakambang, Kaligondang, memperkaya suasana pertunjukan dengan sentuhan musik calung. Dewan Kesenian Purbalingga juga mendukung pertunjukan tersebut.
Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Bupati Purbalingga yang diwakili Asisten bidang Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) , Mukodam, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas terselenggaranya pementasan tersebut. Ia berharap pertunjukan serupa dapat lebih sering digelar agar seni dan budaya di Purbalingga terus hidup dan berkembang.
Penonton Antusias
Antusiasme penonton bahkan melampaui prediksi panitia. Kehadiran penonton dari berbagai kalangan, mulai dari beberapa pejabat Pemda, komunitas seni Purbalingga dan Banyumas hingga masyarakat umum penikmat seni menjadi bukti bahwa teater masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Katasapa telah dikenal sebagai komunitas yang aktif bergerak di bidang sastra dan teater sejak 2016. Selama sepuluh tahun, mereka konsisten menyelenggarakan beragam kegiatan, mulai dari pementasan dan pelatihan teater, pembacaan puisi, peringatan Bulan Bahasa, ngaji budaya, diskusi seni budaya, penerbitan buku sastra, hingga lomba baca puisi.
Lewat “Blokeng”, Katasapa bukan sekadar memperingati hari lahir, tetapi juga memperkuat tekad untuk terus menjaga ruang berekspresi seni di Purbalingga. Sepuluh tahun sudah dilalui, dan nyala panggung teater akan tetap hidup. (Prasetiyo)