Literasi Ramadan dan Tanggung Jawab Peradaban Digital

Bagikan :

Oleh: Priyanto, M.Pd.I
Ketua DPD AGPAII Kabupaten Purbalingga

APA yang membedakan agama wahyu dari sekadar tradisi keagamaan? Pertanyaan ini relevan diajukan kembali di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat. Dalam Islam, salah satu jawabannya terletak pada fondasi intelektual yang sejak awal ditegaskan melalui wahyu pertama: Iqra’—bacalah.

Perintah tersebut bukan sekadar ajakan membaca teks, melainkan perintah epistemologis untuk memahami realitas. Islam sejak awal dibangun di atas kesadaran literasi: kemampuan membaca kehidupan, memahami perubahan, serta menafsirkan tanda-tanda zaman secara bijak.

Ramadan, sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, kerap dipahami hanya sebagai momentum peningkatan ibadah spiritual. Padahal, secara substansial, Ramadan juga merupakan ruang penguatan kesadaran intelektual. Puasa tanpa refleksi berisiko menjadi rutinitas biologis semata. Sebaliknya, puasa yang disertai kesadaran kritis mampu melahirkan transformasi moral dan sosial.

Dari Spirit Iqra’ Menuju Kesadaran Literasi Digital
Dalam konteks inilah, upaya komunitas guru menghadirkan ruang literasi digital keislaman patut diapresiasi. Kehadiran platform daring bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan bentuk tanggung jawab moral di tengah perubahan lanskap pengetahuan.

Kini, otoritas informasi tidak lagi tunggal. Jika dahulu guru menjadi sumber utama pengetahuan, maka hari ini informasi hadir tanpa batas melalui mesin pencari, media sosial, kanal video, dan berbagai platform digital. Tantangan utama bukan lagi kekurangan informasi, tetapi melimpahnya informasi tanpa penyaringan nilai.

Ketika ruang digital kehilangan kehadiran pendidik, kekosongan tersebut mudah diisi oleh narasi yang belum tentu membawa kebijaksanaan. Tidak jarang agama direduksi menjadi slogan, bahkan digunakan untuk membenarkan kemarahan dan polarisasi. Ayat dipotong dari konteksnya, sementara pesan moral berubah menjadi provokasi.

Di sinilah peran guru PAI menjadi semakin strategis. Tugas mereka tidak berhenti di ruang kelas melalui pengajaran fikih atau akidah, tetapi juga menghadirkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin—humanis, inklusif, dan berorientasi pada etika publik. Kehadiran guru di ruang digital merupakan perluasan tanggung jawab pendidikan.

Literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi. Ia mencakup kemampuan berpikir kritis, menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab, serta menjaga etika komunikasi di ruang publik. Dalam perspektif keagamaan, sikap ini dapat dipahami sebagai bentuk takwa kontemporer.

Takwa tidak hanya diwujudkan dalam kesalehan privat, tetapi juga dalam tanggung jawab sosial atas setiap kata dan tindakan, termasuk yang dipublikasikan secara digital. Menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menghindari ujaran yang melukai, serta tidak reaktif terhadap provokasi merupakan praktik nyata pengendalian diri yang diajarkan puasa.

Guru, Ruang Digital, dan Masa Depan Peradaban
Pendidikan karakter yang selama ini digaungkan tidak akan tumbuh melalui ceramah semata. Karakter lahir dari ekosistem nilai, sementara hari ini ekosistem tersebut sebagian besar berada di ruang digital. Karena itu, membangun generasi berakhlak berarti pula membangun ruang digital yang berakhlak.

Bayangkan apabila para guru secara konsisten menulis refleksi keagamaan yang mencerahkan, membagikan praktik baik pembelajaran, serta menghadirkan narasi Islam yang rasional dan menyejukkan. Bukan tulisan yang menggurui, melainkan yang mengajak berpikir; bukan narasi yang memecah, tetapi yang mempersatukan.

Platform digital komunitas guru dapat menjadi laboratorium literasi sekaligus ruang pembelajaran bersama. Di sanalah para pendidik belajar menulis, berdialog, serta merespons perkembangan zaman secara konstruktif. Sebab agama yang tidak berdialog dengan realitas berisiko kehilangan relevansi, sebagaimana pendidikan yang enggan beradaptasi akan tertinggal.

Ramadan sejatinya menawarkan paradigma perubahan: dari lalai menjadi sadar, dari pasif menjadi aktif, dan dari konsumtif menjadi produktif. Spirit inilah yang perlu dihidupkan dalam gerakan literasi guru di era digital.

Membangun Tradisi Menulis
Memang, membangun tradisi menulis dan berbagi gagasan bukan pekerjaan instan. Ia menuntut konsistensi, kemauan belajar, serta komitmen jangka panjang. Namun sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar selalu lahir dari akumulasi langkah kecil yang dilakukan secara tekun.

Peradaban tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar negara, tetapi juga melalui kesetiaan para pendidik pada nilai dan ilmu. Setiap tulisan yang mencerahkan, setiap gagasan yang jernih, dan setiap praktik baik yang dibagikan merupakan kontribusi nyata bagi kualitas ruang publik.

Pada akhirnya, literasi Ramadan bukan sekadar program musiman. Ia adalah kesadaran bahwa iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial tidak dapat dipisahkan. Jika wahyu pertama menempatkan membaca sebagai fondasi keberagamaan, maka menghadirkan literasi yang beradab di ruang digital merupakan kelanjutan logis dari pesan tersebut.

Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi sosial, masyarakat membutuhkan lebih banyak suara yang jernih, tulisan yang meneduhkan, serta pendidik yang berani hadir di ruang publik dengan akhlak dan argumentasi.

Dari situlah peradaban dirawat—bukan melalui kegaduhan, melainkan melalui kesetiaan pada ilmu dan kemanusiaan. (*)

BERITA TERKINI

dosen feb
Dosen FEB UMP Dr.Erna Handayani Pimpin Riset RISPRO LPDP 2025
ft unsoed2
BNN Purbalingga–Fakultas Teknik Unsoed Tandatangani PKS
bnn2
21.748 Murid Terima Edukasi P4GN BNN Purbalingga
priyanto11
Literasi Ramadan dan Tanggung Jawab Peradaban Digital
tgtki1
IGTKI-PGRI Karangmoncol Berbagi Berkah di Bulan Ramadan