*Upaya Mendorong Mutu Pembelajaran
Pengawas SMP Dindikbud Purbalingga sekaligus pengembang Inkuiri Kolaboratif Jawa Tengah, Bangun Pracoyo, M.Pd saat memberikan materi di SMPN 2 Kemangkon Purbalingga, Senin (16/3/2026).
PURBALINGGA, EDUKATOR—SMP Negeri 2 Kemangkon menggelar In House Training (IHT) Inkuiri Kolaboratif, Senin (16/3/2026) di sekolah setempat. Kegiatan ini menjadi upaya membangun budaya refleksi berbasis data guna meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar murid. Hadir sebagai narasumber, pengawas sekolah sekaligus pengembang Inkuiri Kolaboratif Jawa Tengah, Bangun Pracoyo, M.Pd.
Pelatihan dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Sekolah, Nurul Dini Hardiani, S.Pd., M.Si., dan diikuti para guru dengan antusias. Program ini dirancang untuk mendorong pengembangan profesional berkelanjutan, memperkuat kolaborasi, serta meningkatkan efektivitas strategi pembelajaran di kelas.
Transformasi Berbasis Data dan Kolaborasi
Suasana IHT yang diikuti antusas oleh para guru SMPN 2 Kemangkon.
Dalam pemaparannya, Bangun Pracoyo menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan secara sistematis, bukan sekadar mengikuti tren. “Transformasi pembelajaran tidak boleh sekadar mengikuti tren. Guru perlu melihat data pembelajaran secara jujur dan bersama-sama merumuskan solusi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan inkuiri kolaboratif mendorong guru untuk tidak bekerja sendiri, tetapi membangun budaya belajar bersama melalui siklus perbaikan berkelanjutan.
Tahap Assess: Berhenti Menebak, Mulai Membaca Data
Pada tahap awal, peserta diajak memahami proses refleksi terhadap kondisi nyata pembelajaran di sekolah. Guru mengidentifikasi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya keterlibatan murid hingga penggunaan metode yang masih konvensional.
Melalui analisis data seperti hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) dan capaian belajar semester, guru dapat menentukan fokus perbaikan secara lebih tepat. “Refleksi bersama mengenai kebutuhan, tantangan, dan peluang adalah fondasi utama. Tanpa landasan data, inovasi pembelajaran hanya akan menjadi tebak-tebakan,” jelas Bangun.
Tahap Design: Merancang Pembelajaran Mendalam
Setelah analisis data, guru memasuki tahap perancangan strategi pembelajaran berbasis deep learning. Rencana aksi tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga penguatan kompetensi abad ke-21.
Kompetensi tersebut meliputi berpikir kritis, kerja sama tim, literasi digital, dan komunikasi efektif. Dengan pendekatan ini, murid diharapkan mampu memahami konsep sekaligus menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan nyata.
Tahap Implement: Dari Rencana ke Praktik
Pada tahap implementasi, guru mempraktikkan desain pembelajaran melalui simulasi dan diskusi strategi di kelas. Kolaborasi lintas mata pelajaran menjadi poin penting untuk memperkaya pendekatan pembelajaran.
Dalam sesi diskusi, sejumlah guru seperti Arman, Udin, dan Suryanto aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman terkait penerapan pembelajaran kolaboratif.
Tahap Evaluasi: Measure, Reflect, Change
Setelah implementasi, guru melakukan evaluasi melalui tahapan measure, reflect, dan change. Proses ini mencakup observasi kelas, analisis hasil belajar murid, serta refleksi bersama antar guru.
Dari evaluasi tersebut, terlihat bagian yang berhasil maupun yang perlu diperbaiki. Pendekatan ini memungkinkan sekolah berkembang melalui siklus peningkatan berkelanjutan.
Mendesain Ulang Strategi Berbasis Bukti
Sebagai tahap akhir, guru melakukan redesain strategi pembelajaran berdasarkan hasil refleksi dan data. Dengan demikian, setiap keputusan pedagogis didasarkan pada bukti nyata, bukan asumsi.
Pendekatan ini diharapkan mampu membangun budaya sekolah yang adaptif dan terus belajar.
Komitmen Bangun Budaya Belajar
Plt. Kepala SMP Negeri 2 Kemangkon, Nurul Dini Hardiani, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Inkuiri kolaboratif bukan sekadar program pelatihan, tetapi budaya belajar bersama yang harus terus dikembangkan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, sekolah berharap para guru mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, bermakna, dan sesuai kebutuhan murid, sekaligus memperkuat budaya refleksi berkelanjutan demi peningkatan mutu pendidikan di masa depan. (Prasetiyo)
