Mengajar dengan Cinta, Menghidupkan Nilai

Bagikan :

Oleh: Priyanto, S.Pd.I, M.Pd
Kabid Pembinaan SMP Dindikbud Kabupaten Purbalingga
Ketua DPD AGPAII Kab. Purbalingga 2019–2026)

ADA  ironi yang diam-diam mengendap dalam praktik pendidikan kita. Di satu sisi, siswa mampu menghafal ayat dan hadis dengan baik. Namun di sisi lain, nilai-nilai yang dihafal itu belum sepenuhnya menjelma dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Kelas sering kali menjadi ruang untuk mencari jawaban benar, tetapi belum tentu menjadi ruang pembentukan kesadaran.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan cara kita mengajarkan agama. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) masih kerap berputar pada pola yang sama: ceramah, hafalan, dan evaluasi berbasis kognitif. Pengetahuan disampaikan, diuji, lalu dianggap selesai, sementara ruang untuk menghayati dan memaknai sering kali terabaikan.

Padahal, pendidikan bukan sekadar urusan mengetahui, tetapi juga menyangkut kesadaran dan laku hidup. Ketika pembelajaran berhenti pada transfer pengetahuan, yang lahir adalah siswa yang tahu, tetapi belum tentu mau dan mampu menjalankan.

Pendekatan Berbasis Cinta

Di sinilah pendekatan berbasis cinta menemukan urgensinya. Bukan sebagai retorika, melainkan sebagai cara pandang. Cinta dalam pendidikan tidak identik dengan kelembutan tanpa arah, tetapi menuntut ketulusan, kedekatan, serta kesediaan melihat peserta didik sebagai manusia yang utuh, bukan sekadar objek belajar.

Kelas yang dibangun dengan pendekatan ini tidak lagi berjarak. Siswa tidak hanya diminta mendengar, tetapi juga diberi ruang untuk bertanya, berdialog, dan merasakan. Guru tidak sekadar menyampaikan materi, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Pada titik ini, pembelajaran bergerak dari sekadar kewajiban menjadi kebutuhan.

Sayangnya, praktik seperti ini belum menjadi arus utama. Banyak ruang kelas masih didominasi suasana satu arah: siswa duduk, mencatat, lalu melupakan. Keterlibatan emosional menjadi tipis dan pengalaman belajar terasa dangkal. Tidak mengherankan jika pelajaran agama kerap terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Padahal, setiap anak lahir dengan potensi kebaikan. Pendidikan seharusnya menjadi proses menumbuhkan, bukan sekadar mengisi. Potensi tersebut tidak berkembang dalam tekanan, melainkan dalam suasana yang memberi rasa aman dan penghargaan. Ketika siswa merasa dipahami, mereka akan lebih terbuka untuk menerima nilai.

Sejalan dengan Pembelajaran Mendalam

Pendekatan ini sejalan dengan pembelajaran mendalam yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi bergerak menuju pemahaman, penghayatan, dan pengamalan. Apa yang dipahami cenderung bertahan lebih lama, dan apa yang dihayati lebih mungkin diwujudkan dalam kehidupan.

Namun demikian, jarak antara pengetahuan dan praktik masih cukup lebar. Siswa memahami pentingnya kejujuran, tetapi masih mencontek. Mereka tahu arti disiplin, tetapi belum terbiasa melakukannya. Di sinilah pembelajaran perlu bergerak melampaui batas ruang kelas.

Nilai agama tidak cukup diajarkan, tetapi harus dihidupkan dalam keseharian. Kejujuran saat ujian, kepedulian terhadap teman, hingga tanggung jawab menjaga lingkungan merupakan wujud konkret pendidikan agama. Dengan demikian, PAI tidak lagi sekadar mata pelajaran, melainkan menjadi cara hidup.

Perubahan ini menuntut pergeseran pendekatan. Ceramah tidak harus ditinggalkan, tetapi tidak bisa lagi menjadi satu-satunya metode. Dialog, refleksi, dan pengalaman langsung perlu diberi ruang yang lebih luas. Penilaian pun tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembiasaan.

Guru sebagai Teladan Hidup

Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat penting. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan teladan hidup. Apa yang dilihat siswa dari gurunya sering kali lebih membekas daripada apa yang mereka dengar. Siswa mungkin lupa isi pelajaran, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana mereka diperlakukan.

Ketika pembelajaran dibangun dengan jarak, yang muncul adalah keterasingan. Ketika dibangun dengan tekanan, yang lahir adalah ketakutan. Namun ketika dihadirkan dengan ketulusan, akan tumbuh kepercayaan. Di sanalah pendidikan menemukan pijakannya.

Tentu saja, sekolah tidak dapat berjalan sendiri. Pendidikan karakter memerlukan kesinambungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tanpa dukungan tersebut, nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah akan mudah tergerus oleh lingkungan yang berbeda.

Diperlukan Kesadaran Kolektif

Oleh karena itu, transformasi pendidikan bukan hanya soal kurikulum atau metode, melainkan juga soal kebersamaan. Diperlukan kesadaran kolektif bahwa membentuk manusia adalah proses jangka panjang.

Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang masa depan—tentang manusia seperti apa yang sedang kita siapkan hari ini. Jika yang lahir hanya generasi yang tahu tetapi tidak berbuat, maka ada yang perlu ditinjau ulang. Namun jika pendidikan mampu menumbuhkan kesadaran, perubahan akan terjadi, meski secara perlahan.

Mengajar dengan cinta mungkin terdengar sederhana, tetapi di situlah letak kekuatannya. Sebab yang menggerakkan manusia bukan semata pengetahuan, melainkan kesadaran. Dan kesadaran sering kali lahir dari cara kita memperlakukan sesama.(*)

BERITA TERKINI

FULAD6
Diplomasi Asimetris Iran, Antara Martabat dan Kalkulasi Kekuatan
uhb2
Universitas Harapan Bangsa Dukung POPDA Panahan Banyumas 2026
juara 02sn4
36 Tim Ramaikan O2SN Bola Voli SD Tingkat Kabupaten Purbalingga
PRIYANTO1
Mengajar dengan Cinta, Menghidupkan Nilai
outingkemenag
Puluhan Murid Madrasah Ikuti "Outing Class" Berdampak di Kankemenag Purbalingga