Selama Sebulan, Komunitas Perupa “Blarak” Gelar Pameran Seni Drawing

Bagikan :

*Di Waroeng & Wedangan Kebon Dalem Desa Kalikajar

PURBALINGGA, EDUKATOR–Pameran seni drawing bertajuk “Kebangkitan Gambar & Menggambar Kebangkitan” digelar Komunitas Perupa Purbalingga “Blarak” di Waroeng & Wedangan Kebon Dalem, Kalikajar, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, selama sebulan, mulai 17 Mei hingga 17 Juni 2026. Pameran ini menjadi bagian dari gerakan nasional Mei Bulan Indonesia Menggambar, sekaligus upaya membangkitkan budaya menggambar di tengah masyarakat.

Ketua Komunitas Perupa Purbalingga Blarak, Agus Winarto, mengungkapkan, pameran tersebut rencananya akan dibuka Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga Heru Sri Wibowo, S.Sos., M.Si., Minggu (17/5/2026) pukul 10.00 WIB.

Sebanyak 53 karya drawing dari 21 perupa dipamerkan dalam kegiatan tersebut, dengan beragam tema mulai dari sejarah, budaya, lingkungan, hingga refleksi kehidupan sosial dan spiritual.

“Dalam pameran drawing ini, komunitas perupa Blarak ingin menegaskan bahwa Bulan Indonesia Menggambar menjadi momentum kebangkitan gambar sekaligus kebangkitan peradaban. Menggambar dipandang bukan sekadar menghasilkan karya visual, tetapi juga cara berpikir, media refleksi, dan ruang pemulihan ingatan budaya, ” ujar Agus Winarto.

Drawing Jadi Medium Ekspresi Seni
Drawing merupakan seni menggambar yang mengandalkan garis, arsiran, tekstur, dan komposisi visual sebagai medium utama untuk menyampaikan gagasan maupun ekspresi artistik. Teknik ini dapat menggunakan berbagai media, seperti pensil, drawing pen, tinta, ballpoint, pensil warna, hingga cat air di atas kertas maupun kanvas.

Dalam pameran tersebut, para seniman menghadirkan karya drawing dengan beragam gaya dan tema, mulai dari realisme, sketsa, doodle art, hingga drawing ekspresif. Karya-karya itu tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan sosial, budaya, sejarah, lingkungan, hingga refleksi kehidupan.

Sejarah dan Identitas Daerah
Agus Winarto misalnya, menampilkan karya bertema sejarah dan identitas daerah, seperti “Alun-Alun Purbalingga”, “Stasiun Poerbolinggo”, “Landraad”, “Gang Mayong”, hingga “Balai Benih Padi Karangkemiri”. Melalui detail garis dan arsiran, karya tersebut merekam jejak sejarah serta perubahan wajah Purbalingga dari masa ke masa.

Alun-alun Purbalingga, karya Agus Winarto

Selain Agus Winarto, karya dalam pameran juga berasal dari Kusnarno, Moh. Yunan Iskandar, Teguh Setiyono, Sarwono, Nur Agustus, Yus Priyo Utomo, Suwarliningsih Chasijati, Kukuh Winartono, Muhammad Aminudin, dan Tachoyo Poyo.

Kemudian  Wina Hamdani, Noer Sulistya Aji, Ghiffary Ilham Rahmadani, Elis Sutriyati, Pandu Hanindhito, Susyanto,  Heri “Ruyung” Pujiono, Ikawati,  Lilis Widia Koernia dan .Djentot Subechi.

Djentot Subechi, yang juga guru Seni Budaya SMAN 2 Purbalingga menampilkan tiga karya bertajuk “Sketsa Anggrek I”, “Sketsa Anggrek II”, dan “Sketsa Anggrek III” menggunakan media tinta di atas kertas.

Sketsa Anggrek 1, karya Djentot Subechi

Sementara Nur Agustus, guru Seni Budaya SMAN 1 Kejobong  memamerkan karya “Jeruk (Studi Tekstur dan Cahaya)” dan “Apel” yang dibuat dengan pensil warna di atas kertas. Kedua karya tersebut menonjolkan detail tekstur, pencahayaan, dan teknik arsiran yang memberi kesan realistis pada objek buah.

Jeruk (Studi testur dan cahaya), karya Nur Agustus

Angkat Alam, Budaya, dan Kehidupan
Selain karya bertema sejarah, pameran juga menampilkan drawing bertema alam dan kehidupan sosial. Kusnarno menghadirkan karya “Jembatan Merah”, “Bukit Siregol”, dan “Curug Sumba” yang menggambarkan panorama alam Purbalingga.

Moh. Yunan Iskandar menampilkan karya “Lady Bug”, “Penjaga Alam/Tiger”, dan “Regenerasi” yang menonjolkan detail visual kehidupan alam serta pesan tentang harapan dan keberlanjutan hidup.

Sementara itu, Ghiffary Ilham Rahmadani melalui karya “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan”, “Akibat Ketidakpedulian”, dan “Harmoni Alam dan Kehidupan” mengangkat isu kerusakan lingkungan dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Pameran juga menghadirkan karya doodle art penuh warna karya Wina Hamdani, drawing bertema spiritual dari Pandu Hanindhito, hingga kisah budaya lokal Wayang Gepuk melalui karya Muhammad Aminudin.

Pameran ini mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, pengelola Waroeng & Wedangan Kebon Dalem, serta para pelaku seni dan penikmat seni di Purbalingga. (Prasetiyo)

 

BERITA TERKINI

6 murid
Enam Murid SMPN 3 Bukateja Juara Pencak Silat
haji2
Bupati Sadewo Lepas 354 Calon Jemaah Haji Banyumas Kloter 74
drawing1
Selama Sebulan, Komunitas Perupa "Blarak" Gelar Pameran Seni Drawing
kmap
Yuk, Ikut Pelatihan Daring Menulis Resensi Buku Bersama KMAP
jalur6
“No Titip, No Jastip”, SPMB SMA/SMK Jateng Dibuka Mulai 3 Juni 2026