
Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasehat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
Pendahuluan
Dunia sedang berada pada titik perubahan geopolitik yang sangat menentukan. Konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel bukan lagi sekadar perang kawasan Timur Tengah, melainkan bagian dari perebutan pengaruh global yang jauh lebih besar. Di balik ketegangan militer, diplomasi internasional, serta manuver ekonomi dan energi, sesungguhnya dunia sedang menyaksikan pertarungan arah tatanan internasional abad ke-21.
Perubahan ini berlangsung sangat cepat dan kompleks. Persaingan global tidak lagi hanya berbentuk perang terbuka antarnegara, tetapi berkembang menjadi perang multidimensi yang melibatkan energi, teknologi, ekonomi, siber, informasi, hingga pengaruh geopolitik. Dalam situasi tersebut, Selat Hormuz dan BRICS muncul sebagai dua simbol penting dalam membaca arah perubahan dunia.
Hormuz merepresentasikan perebutan kendali energi global, sementara BRICS mencerminkan lahirnya kekuatan baru yang mencoba mengurangi dominasi Barat dalam sistem internasional. Ketika konflik Iran bertemu dengan dinamika BRICS, maka yang sesungguhnya sedang terjadi adalah reorganisasi keseimbangan kekuatan dunia.
Hormuz: Jantung Energi dan Perebutan Stabilitas Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima distribusi minyak global melewati kawasan tersebut. Artinya, gangguan kecil saja di Hormuz dapat mempengaruhi harga minyak dunia, inflasi global, stabilitas pasar keuangan, hingga keamanan energi berbagai negara.
Karena itu, konflik Iran selalu memiliki dimensi internasional yang jauh lebih besar dibanding konflik regional biasa. Bagi Amerika Serikat, menjaga Hormuz berarti menjaga stabilitas ekonomi global sekaligus mempertahankan pengaruh geopolitiknya di Timur Tengah. Sedangkan bagi Iran, Hormuz adalah instrumen tekanan strategis terhadap Barat.
Ketegangan yang terus berlangsung di kawasan ini menunjukkan bahwa perang energi masih menjadi faktor utama geopolitik modern. Dunia saat ini tidak hanya berebut wilayah, tetapi juga berebut jalur energi, rantai pasok, dan akses terhadap sumber daya strategis.
BRICS dan Lahirnya Tatanan Multipolar
Dalam beberapa tahun terakhir, BRICS berkembang bukan hanya sebagai forum ekonomi, tetapi mulai menjadi simbol pergeseran keseimbangan global. China, Rusia, India, Brasil, dan berbagai negara mitra BRICS mencoba membangun alternatif terhadap dominasi ekonomi dan politik Barat.
Isu dedolarisasi, penguatan perdagangan antarnegara berkembang, sistem pembayaran alternatif, hingga kerja sama energi menjadi bagian dari strategi besar tersebut. BRICS mencerminkan meningkatnya keinginan negara-negara Global South untuk memiliki ruang politik dan ekonomi yang lebih independen.
Iran membaca peluang itu dengan sangat cepat. Ketika tekanan Barat meningkat, Teheran justru semakin mendekat ke BRICS, terutama kepada China dan Rusia. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Iran tidak lagi ingin sepenuhnya bergantung pada sistem internasional yang didominasi Barat.
Namun, BRICS sendiri masih menghadapi tantangan internal. India, Brasil, dan beberapa negara lainnya tetap berhati-hati agar BRICS tidak berubah menjadi blok konfrontatif anti-Barat. Karena itu, BRICS saat ini lebih tepat dipahami sebagai platform geopolitik dan ekonomi daripada aliansi militer.
China, Rusia, dan Pergeseran Keseimbangan Dunia
Kebangkitan China dan kembalinya Rusia sebagai kekuatan strategis global telah mengubah peta geopolitik internasional. China bergerak melalui kekuatan ekonomi, teknologi, investasi, dan konektivitas global melalui Belt and Road Initiative. Sementara Rusia memperkuat pengaruhnya melalui energi, militer, dan geopolitik Eurasia.
Di tengah konflik Iran, China memainkan strategi balancing yang sangat hati-hati. Beijing tidak ingin perang besar terjadi karena akan mengganggu jalur energi dan pertumbuhan ekonominya. Namun, China juga tidak ingin Iran jatuh sepenuhnya di bawah tekanan Barat karena Iran memiliki nilai strategis besar bagi keamanan energi China.
Di sisi lain, Rusia melihat meningkatnya tekanan global terhadap Iran sebagai peluang untuk memperkuat koordinasi geopolitik Eurasia dan memperbesar ruang pengaruhnya terhadap Barat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju kompetisi multipolar yang lebih kompleks dan berisiko tinggi.
Hybrid Warfare dan Wajah Baru Konflik Global
Perang modern tidak lagi hanya berlangsung melalui kekuatan militer. Dunia kini memasuki era hybrid warfare, yaitu bentuk perang multidimensi yang menggabungkan berbagai instrumen kekuatan negara secara simultan untuk melemahkan lawan tanpa harus melalui invasi terbuka.
Pertama, ekonomi. Sanksi, embargo, dan tekanan finansial digunakan untuk melemahkan stabilitas negara lawan tanpa menembakkan peluru. Perang ekonomi kini menjadi instrumen utama untuk mempengaruhi kebijakan politik suatu negara.
Kedua, siber. Serangan digital mampu melumpuhkan infrastruktur, komunikasi, hingga sistem pertahanan nasional secara senyap. Ruang siber telah berubah menjadi medan perang baru yang sulit dideteksi secara konvensional.
Ketiga, informasi. Disinformasi dan propaganda digunakan untuk membentuk opini publik, memecah masyarakat, dan menciptakan ketidakstabilan politik. Dalam era digital, informasi dapat menjadi senjata strategis yang sangat efektif.
Keempat, teknologi. Persaingan Artificial Intelligence, semikonduktor, dan penguasaan data kini menjadi arena perebutan dominasi global baru. Negara yang menguasai teknologi akan memiliki keunggulan strategis masa depan.
Kelima, diplomasi. Aliansi internasional, tekanan politik, dan isolasi global dipakai sebagai instrumen perang pengaruh antarnegara. Diplomasi modern kini berjalan berdampingan dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi.
Keenam, operasi intelijen. Operasi rahasia, infiltrasi, dan perang persepsi menjadi bagian penting dalam membentuk arah konflik modern. Intelijen tidak lagi sekadar mencari informasi, tetapi juga mempengaruhi lingkungan strategis.
Ketujuh, perang persepsi. Dalam perang modern, mengendalikan cara berpikir publik sering kali lebih penting daripada menguasai medan tempur. Perebutan narasi global menjadi faktor penentu dalam membentuk legitimasi dan dukungan internasional.
Konflik Iran saat ini memperlihatkan bagaimana hybrid warfare bekerja secara nyata. Pertempuran tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga di ruang ekonomi, energi, media, diplomasi, dan teknologi global.
Trump ke Beijing dan Diplomasi Kekuatan Besar
Kunjungan Donald Trump ke China beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa Washington mulai menyadari besarnya pengaruh Beijing dalam menentukan stabilitas global, termasuk dalam konflik Iran.
Amerika Serikat memahami bahwa China memiliki leverage ekonomi yang sangat besar terhadap Teheran, terutama dalam sektor energi dan perdagangan. Karena itu, keterlibatan China dipandang penting untuk mencegah eskalasi lebih luas di Timur Tengah.
Namun, China tetap memainkan strategi balancing. Beijing tidak ingin perang besar pecah karena akan mengganggu stabilitas ekonomi global dan kepentingan energinya. Tetapi, China juga tidak ingin Iran runtuh sepenuhnya di bawah tekanan Barat.
Sikap ini memperlihatkan bahwa China sedang membangun posisi sebagai balancing power dalam sistem internasional baru.
Israel, Hizbullah, dan Api yang Belum Padam
Di tengah menurunnya intensitas konflik langsung Iran dengan AS dan Israel, kawasan Timur Tengah tetap berada dalam situasi sangat rapuh. Israel masih terus melakukan operasi terhadap Hizbullah di Lebanon untuk menghancurkan jalur logistik dan mengurangi ancaman rudal di perbatasan utara.
Namun, kondisi ini justru memperbesar risiko konflik regional berkepanjangan. Hizbullah tetap memiliki kemampuan asimetris yang kuat, sementara Iran diperkirakan terus memberikan dukungan strategis secara tidak langsung.
Kawasan Timur Tengah saat ini berada dalam kondisi “no war, no peace”, tidak sepenuhnya damai, tetapi juga belum menuju perang terbuka besar.
Indo-Pasifik dan Posisi Strategis Indonesia
Dalam perkembangan global saat ini, Indo-Pasifik telah menjadi pusat gravitasi geopolitik dunia. Jalur perdagangan internasional, rantai pasok global, energi, teknologi, dan kekuatan militer bertemu di kawasan ini. Indonesia berada tepat di pusat perubahan tersebut.
Secara geopolitik, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di persimpangan Samudera Hindia dan Pasifik serta menguasai jalur laut penting dunia. Posisi ini memberikan peluang besar sekaligus risiko yang tidak kecil.
Jika tidak mampu membaca perubahan global secara tepat, Indonesia dapat menjadi arena perebutan pengaruh kekuatan besar. Namun, jika mampu memainkan peran strategis secara cerdas, Indonesia justru dapat menjadi kekuatan penyeimbang penting di kawasan Indo-Pasifik.
Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah Indonesia
Melihat perkembangan dunia yang semakin kompleks, ada beberapa langkah strategis yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia.
Pertama, memperkuat strategic intelligence nasional.
Indonesia harus memperkuat kemampuan intelijen strategis untuk membaca arah perubahan global secara cepat dan akurat. Ancaman masa depan tidak lagi hanya berbentuk invasi militer, tetapi juga perang siber, disinformasi, infiltrasi ekonomi, dan operasi pengaruh global.
Kedua, memperkuat ketahanan energi dan pangan.
Krisis global menunjukkan bahwa energi dan pangan akan menjadi instrumen geopolitik utama abad ke-21. Indonesia harus mempercepat kemandirian energi, memperkuat cadangan strategis nasional, dan menjaga ketahanan pangan jangka panjang.
Ketiga, menjaga politik luar negeri bebas aktif.
Di tengah rivalitas AS, China, dan Rusia, Indonesia harus tetap menjaga prinsip bebas aktif secara konsisten. Indonesia tidak boleh terjebak dalam blok geopolitik tertentu, tetapi harus mampu menjaga keseimbangan hubungan dengan seluruh kekuatan besar dunia.
Keempat, memperkuat posisi Indonesia di Indo-Pasifik.
Indonesia harus tampil lebih aktif sebagai kekuatan strategis kawasan. Penguatan diplomasi maritim, keamanan laut, dan peran ASEAN menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas Indo-Pasifik.
Kelima, mempercepat penguasaan teknologi strategis.
Persaingan dunia ke depan akan sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi seperti Artificial Intelligence, cyber security, quantum computing, dan big data. Indonesia harus segera membangun ekosistem teknologi strategis nasional agar tidak tertinggal dalam kompetisi global.
Penutup
Dunia sedang memasuki era baru yang penuh ketidakpastian. Konflik Iran, dinamika BRICS, rivalitas AS–China–Rusia, serta perebutan energi global menunjukkan bahwa sistem internasional sedang mengalami perubahan besar.
Hormuz bukan lagi sekadar selat sempit di Timur Tengah. BRICS bukan lagi sekadar forum ekonomi negara berkembang. Dan konflik Iran bukan lagi sekadar perang kawasan. Semuanya kini menjadi bagian dari perebutan kendali dunia.
Dalam situasi seperti ini, setiap negara dituntut memiliki kemampuan membaca arah perubahan zaman secara tepat. Negara yang gagal memahami dinamika geopolitik global akan mudah menjadi objek permainan kekuatan besar. Sebaliknya, negara yang memiliki visi strategis, ketahanan nasional yang kuat, dan kemampuan intelijen yang baik akan mampu bertahan bahkan memainkan peran penting dalam perubahan dunia.
Indonesia harus hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai aktor strategis yang mampu menjaga kepentingan nasional sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas kawasan dan dunia.
Karena pada akhirnya, sejarah selalu berpihak kepada bangsa yang mampu membaca masa depan lebih cepat daripada bangsa lain.
Jakarta, Mei 2026