Empat Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed Ajari Lansia Cegah Hoaks Digital

Bagikan :

Empat mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Unsoed foto bersama para lansia peserta sosialisasi literasi digital.

PURWOKERTO, EDUKATOR–Empat mahasiswa jenjang S2/Magister Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed menggelar sosialisasi literasi digital bagi para lansia di Warung Berkah Al-Maidah, di Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Senin (18/5/2026). Kegiatan yang diikuti 23 anggota Senam Sehat Indonesia (SSI) Bangkit Purwokerto Selatan itu, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap hoaks dan berbagai modus penipuan digital yang kini marak menyasar masyarakat, terutama kalangan lanjut usia.

Empat mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut yakni Bayu Rizqi Sutanto, Rita Yuliyana, Aprilia Rachmawati, dan Salma Ulya Huwaida. Sosialisasi ini merupakan implementasi mata kuliah Literasi Digital.

Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB setelah peserta menyelesaikan senam pagi rutin. Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat sejak awal acara saat peserta berkumpul mengikuti pelatihan.

Kenalkan Cara Mudah Mengenali Hoaks
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi di media sosial dan aplikasi perpesanan. Peserta dikenalkan pada istilah misinformasi, disinformasi, dan malinformasi dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami.

Sesi diskusi berlangsung interaktif, karena peserta sosialisasi turut membagikan pengalaman pribadi saat menghadapi dugaan penipuan digital.

Berbagai contoh hoaks yang sempat viral turut dipaparkan, mulai dari video yang menyebut mie instan mengandung lilin, narasi palsu yang mengatasnamakan Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan pernyataan “guru adalah beban negara”, hingga video lama bencana alam yang diunggah ulang seolah-olah peristiwa baru.

Metode 3C
Untuk membantu peserta mengenali informasi palsu, mahasiswa memperkenalkan metode “3C”, yakni cek sumber, cek konten, dan cek konteks.

Metode 3C Penjelasan Hal yang Perlu Dilakukan
Cek Sumber Memastikan informasi berasal dari pihak yang jelas dan terpercaya. Periksa siapa penyebar informasi, apakah berasal dari media resmi, lembaga pemerintah, atau akun yang memiliki kredibilitas. Jika sumber tidak jelas atau anonim, informasi patut diragukan.
Cek Konten Membaca isi informasi secara lengkap dan teliti. Jangan hanya melihat judul atau potongan video. Pastikan isi berita masuk akal, sesuai fakta, serta tidak mengandung provokasi, ujaran kebencian, atau ajakan mencurigakan.
Cek Konteks Memastikan waktu, lokasi, dan situasi informasi sesuai fakta. Cek apakah foto atau video yang digunakan merupakan kejadian terbaru dan relevan. Waspadai penggunaan ulang konten lama yang seolah-olah menjadi peristiwa baru.

“Untuk itu, jangan langsung percaya dan membagikan informasi sebelum dicek kebenarannya,” ujar Bayu Rizqi Sutanto,salah satu pemateri.

Bayu Rizqi Sutanto,salah satu pemateri.

Metode 3C, lanjut Bayu Rizqi Sutanto,   dinilai efektif untuk mencegah penyebaran hoaks dengan memastikan sumber informasi terpercaya, membaca isi berita secara lengkap, serta memeriksa waktu dan konteks informasi.

Waspadai Modus Penipuan Digital
Selain membahas hoaks, pelatihan juga mengulas berbagai modus penipuan digital yang kerap ditemukan di WhatsApp. Peserta diberi pemahaman mengenai undangan digital berbentuk file APK berbahaya, bantuan pemerintah palsu, tautan phishing, penipuan perbankan, lowongan kerja fiktif, hingga tawaran kuota gratis yang menyesatkan.

Para lansia dengan tekun menyimak materi yang disampaikan pemateri. 

Mahasiswa juga menjelaskan tentang alamat URL (Uniform Resource Locator) atau alamat link di internet palsu, yang dibuat menyerupai situs resmi untuk mencuri data pribadi pengguna.

Sesi diskusi berlangsung interaktif karena peserta turut membagikan pengalaman pribadi saat menghadapi dugaan penipuan digital. Salah satu peserta mengaku pernah menerima telepon yang mengabarkan anaknya mengalami kecelakaan.

“Saya langsung mendatangi anak saya untuk memastikan, ternyata kabar itu bohong,” katanya.

Seorang peserta bertanya kepada pemateri, bagaimana agar terhindar dari penipuan digital.  

Peserta lain yang berprofesi sebagai pelaku usaha makanan juga menceritakan pengalaman ketika seseorang mengaku telah mentransfer pembayaran dan meminta kelebihan uang dikembalikan. Setelah dicek melalui mutasi rekening, transaksi tersebut ternyata tidak pernah ada.

Beberapa peserta lainnya mengaku pernah menerima kabar memenangkan hadiah mobil maupun uang tunai hingga puluhan juta rupiah dengan syarat mentransfer sejumlah uang terlebih dahulu. Namun, mereka berhasil menghindari penipuan karena memilih memeriksa kebenaran informasi tersebut.

Edukasi Tingkatkan Kewaspadaan Lansia
Di akhir kegiatan, mahasiswa kembali mengingatkan langkah sederhana untuk mencegah kejahatan digital, seperti tidak sembarang membagikan informasi, menerapkan metode 3C, menghindari klik tautan mencurigakan, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta melaporkan indikasi penipuan digital.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara mahasiswa dan peserta. Pelatihan berlangsung edukatif dan disambut antusias para lansia yang berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan. (Prasetiyo)

 

 

 

BERITA TERKINI

bay8
Empat Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed Ajari Lansia Cegah Hoaks Digital
nembak1
Perbakin Banyumas Juara Umum JOSS 2026
FULAD6
Hormuz, BRICS, dan Perebutan Kendali Dunia
wima1
Meriah, HUT ke-27 SMK Widya Manggala Purbalingga
spensika
SMPN 1 Bukateja Juara Umum LTUB