Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasehat Militer RI untuk PBB 2017–2019
Pendahuluan
Dunia tampaknya sedang memasuki akhir dari era dominasi tunggal Barat. Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Beijing baru-baru ini bukan sekadar agenda diplomatik antar kepala negara, melainkan sinyal kuat bahwa poros kekuatan global sedang bergerak dan berubah secara perlahan, tetapi pasti.
Di tengah perang Ukraina yang belum berakhir, meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik, serta menguatnya pengaruh BRICS dalam percaturan internasional, dunia kini menyaksikan lahirnya konfigurasi geopolitik baru yang jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya. Jika pada era pasca-Perang Dingin Amerika Serikat tampil sebagai kekuatan dominan tunggal dunia, maka hari ini berbagai kekuatan baru mulai muncul untuk menantang dominasi tersebut.
Kunjungan Putin ke China menjadi perhatian dunia karena berlangsung pada saat tekanan geopolitik global sedang mencapai titik sensitif. Rusia menghadapi sanksi ekonomi besar-besaran dari Barat akibat perang Ukraina, sementara China terus ditekan dalam bidang perdagangan, teknologi, kecerdasan buatan, semikonduktor, hingga isu Taiwan dan Laut China Selatan. Dalam situasi seperti itu, Moskow dan Beijing menemukan kepentingan strategis yang saling memperkuat.
Dunia hari ini tidak sedang menyaksikan runtuhnya Barat, tetapi sedang menyaksikan munculnya penantang serius terhadap dominasi Barat.
Konsolidasi Strategis Rusia dan China
China membutuhkan Rusia sebagai mitra energi utama sekaligus kekuatan geopolitik penting di kawasan Eurasia untuk membantu menyeimbangkan tekanan NATO dan Barat. Sebaliknya, Rusia memerlukan China sebagai pasar ekonomi strategis, jalur perdagangan alternatif, sumber dukungan teknologi, dan ruang diplomasi internasional yang dapat membantu Moskow bertahan di tengah tekanan global yang semakin besar.
Hubungan kedua negara saat ini bukan lagi sekadar kerja sama bilateral biasa, melainkan telah berkembang menjadi konsolidasi strategis yang memiliki dampak luas terhadap keseimbangan dunia. Dunia melihat bagaimana Rusia dan China semakin intens memperkuat koordinasi dalam bidang ekonomi, energi, teknologi, pertahanan, hingga diplomasi internasional.
Pertemuan Putin dan Xi Jinping juga mengandung pesan politik yang sangat jelas kepada Barat bahwa upaya isolasi total terhadap Rusia ternyata tidak sepenuhnya berhasil. China tetap menjaga hubungan erat dengan Moskow, bahkan di tengah tekanan internasional yang sangat besar.
Bagi Amerika Serikat dan NATO, perkembangan ini tentu menjadi tantangan serius. Selama beberapa dekade terakhir, Barat menikmati posisi dominan dalam sistem internasional, baik dalam bidang ekonomi, teknologi, militer, maupun keuangan global. Namun kini mulai muncul kekuatan tandingan yang mencoba membangun sistem alternatif di luar pengaruh Barat.
BRICS, De-Dolarisasi, dan Pergeseran Ekonomi Dunia
Perubahan geopolitik dunia juga terlihat dari semakin aktifnya BRICS yang perlahan berkembang bukan hanya sebagai forum ekonomi negara berkembang, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan Global South. Masuknya negara-negara baru seperti Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab menunjukkan bahwa semakin banyak negara mulai menginginkan ruang politik dan ekonomi internasional yang lebih independen dari dominasi Barat.
Rusia dan China memahami bahwa pengaruh global tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui penguasaan ekonomi dan sistem keuangan internasional. Karena itu, keduanya semakin agresif mendorong pengurangan ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat melalui penggunaan mata uang lokal, pembangunan sistem pembayaran alternatif, dan penguatan bank pembangunan BRICS.
Bagi Washington, perkembangan ini tentu menjadi perhatian besar karena dominasi dolar selama puluhan tahun bukan hanya instrumen ekonomi, tetapi juga instrumen geopolitik yang sangat menentukan pengaruh Amerika Serikat di dunia internasional.
Meski demikian, harus diakui bahwa dominasi Barat belum akan runtuh dalam waktu dekat. Amerika Serikat tetap memiliki kekuatan militer terbesar di dunia, jaringan aliansi global yang sangat kuat, serta pengaruh besar dalam sistem keuangan internasional. Namun yang mulai berubah adalah keberanian negara-negara lain untuk membangun keseimbangan baru terhadap dominasi tersebut.
Hybrid Warfare dan Perebutan Pengaruh Dunia
Jika Perang Dingin dahulu didominasi perebutan ideologi antara kapitalisme dan komunisme, maka persaingan global saat ini jauh lebih kompleks dan multidimensional. Yang diperebutkan bukan hanya wilayah atau pengaruh politik, tetapi juga teknologi, energi, data, kecerdasan buatan, rantai pasok global, hingga kendali terhadap opini publik dunia.
Hari ini perang tidak selalu dimulai oleh dentuman meriam, tetapi oleh perebutan teknologi, energi, data, dan pengaruh terhadap persepsi dunia.
Konflik global modern tidak lagi hanya berbentuk perang terbuka di medan tempur, tetapi telah berkembang menjadi perang ekonomi, perang teknologi, perang siber, perang informasi, hingga perang persepsi yang memperebutkan pengaruh terhadap cara masyarakat dunia memandang suatu konflik.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai hybrid warfare, yaitu bentuk peperangan modern yang sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya mampu melemahkan stabilitas sebuah negara secara perlahan.
John Mearsheimer pernah menyatakan bahwa kebangkitan China hampir mustahil berlangsung secara damai karena pada akhirnya akan berbenturan dengan kepentingan strategis Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan dunia.
Pandangan tersebut kini semakin relevan ketika rivalitas Washington dan Beijing tidak lagi terbatas pada isu perdagangan, tetapi telah melebar ke bidang militer, teknologi, dan pengaruh geopolitik global.
Sementara itu, Kishore Mahbubani menilai bahwa dunia sedang memasuki fase berakhirnya dominasi Barat dan bergesernya pusat gravitasi global ke Asia. Pernyataan tersebut terlihat semakin nyata ketika Indo-Pasifik kini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus arena utama perebutan pengaruh strategis antara kekuatan-kekuatan besar dunia.
Indonesia di Tengah Pergeseran Geopolitik Global
Dalam situasi global seperti ini, Indonesia harus mampu membaca arah perubahan dunia dengan sangat cermat. Sebagai negara besar di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia memiliki posisi strategis yang sangat penting, baik secara geopolitik, ekonomi, maupun keamanan kawasan.
Indonesia tidak boleh terjebak dalam rivalitas kekuatan besar, tetapi juga tidak boleh lengah terhadap dampak perubahan global yang sedang berlangsung. Sebab dalam dunia multipolar yang sedang terbentuk saat ini, negara yang lemah secara internal akan sangat mudah menjadi arena perebutan pengaruh kekuatan besar dunia.
Kekuatan sebuah negara saat ini tidak lagi hanya diukur dari jumlah tank, rudal, atau alutsista yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan menjaga ketahanan nasional secara menyeluruh, mulai dari pangan, energi, teknologi, ekonomi, hingga stabilitas sosial dan persatuan nasional.
Dalam konteks itu, Indonesia harus memperkuat diplomasi bebas aktif agar tetap mampu menjaga keseimbangan hubungan dengan seluruh kekuatan dunia tanpa kehilangan independensi nasional. Indonesia juga perlu mempercepat pembangunan kemandirian teknologi, energi, dan pangan sebagai fondasi utama ketahanan nasional menghadapi ketidakpastian global yang semakin tinggi.
Selain itu, kemampuan menghadapi hybrid warfare harus menjadi perhatian serius karena ancaman modern sering kali tidak datang dalam bentuk invasi militer terbuka, melainkan melalui perang informasi, serangan siber, tekanan ekonomi, hingga upaya memecah stabilitas sosial dari dalam.
Rekomendasi Strategis untuk Indonesia
Pertama, pemerintah harus memperkuat diplomasi strategis Indonesia di tengah rivalitas global dengan tetap mempertahankan prinsip bebas aktif, namun lebih adaptif dan berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang. Indonesia harus mampu menjadi jembatan dialog di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik dunia.
Kedua, Indonesia harus mempercepat pembangunan ketahanan nasional berbasis pangan, energi, teknologi, dan industri strategis. Dalam era persaingan global saat ini, ketergantungan berlebihan terhadap pihak luar dapat menjadi titik lemah yang membahayakan stabilitas nasional di masa depan.
Ketiga, pemerintah perlu meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman hybrid warfare melalui penguatan keamanan siber, literasi informasi publik, ketahanan sosial, serta sinergi antar lembaga negara. Sebab perang masa depan kemungkinan besar tidak lagi dimulai melalui invasi militer terbuka, tetapi melalui upaya sistematis melemahkan stabilitas internal suatu negara.
Penutup
Kunjungan Vladimir Putin ke China sesungguhnya bukan sekadar simbol kedekatan dua negara, tetapi gambaran bahwa dunia sedang bergerak menuju tatanan baru yang lebih multipolar, kompetitif, dan penuh ketidakpastian strategis.
Rusia dan China hari ini tampil semakin percaya diri untuk menantang dominasi Barat melalui penguatan ekonomi, teknologi, diplomasi, dan geopolitik global. Apakah dominasi Barat akan segera berakhir? Tentu belum. Amerika Serikat dan sekutunya masih memiliki kekuatan besar dalam sistem internasional. Namun yang jelas, dunia tidak lagi sepenuhnya berada di bawah satu pusat kekuatan tunggal.
Sejarah dunia menunjukkan bahwa tidak ada dominasi yang berlangsung selamanya. Pertanyaannya hari ini bukan apakah dunia akan berubah, tetapi siapa yang paling siap menghadapi perubahan itu.
Dalam situasi global yang semakin cair dan penuh persaingan ini, negara yang mampu bertahan bukan hanya negara yang kuat secara militer, tetapi negara yang mampu menjaga persatuan nasional, memperkuat ketahanan ekonomi, membangun kemandirian strategis, serta memiliki kecerdasan membaca arah perubahan dunia.
Karena pada akhirnya, perebutan terbesar abad ini bukan semata perebutan wilayah, melainkan perebutan pengaruh terhadap masa depan dunia itu sendiri.
Jakarta, Mei 2026