Sukses Tanpa Manfaat, Benarkah Sukses?

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

MENGAPA orang yang sejak sekolah dikenal rajin, patuh, dan berprestasi tidak selalu menjadi orang yang paling berhasil dalam kehidupannya?

Pertanyaan itu sesekali muncul ketika kita melihat kenyataan di sekitar. Ada mantan siswa yang dahulu tidak terlalu menonjol dalam pelajaran, tetapi beberapa tahun kemudian berhasil membangun usaha dan memperbaiki kehidupan ekonominya. Ada pula seseorang yang tidak menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi mampu mengembangkan karier setelah berani mengambil peluang di luar daerah atau bahkan di luar negeri.

Sebaliknya, kita juga mengenal orang yang sejak sekolah sangat tekun. Nilainya bagus, kuliahnya berhasil, pekerjaannya dijalani dengan disiplin, tetapi kehidupannya berjalan biasa-biasa saja.

Apakah itu berarti sekolah dan prestasi akademik tidak penting? Tentu tidak.

Kenyataan tersebut justru mengingatkan kita bahwa kesuksesan hidup tidak sesederhana nilai rapor, ijazah, jabatan, atau besarnya penghasilan. Ada banyak variabel yang bekerja di dalam perjalanan seseorang.

Pertanyaan yang lebih menarik barangkali bukan siapa yang paling tekun, melainkan: untuk apa ketekunan itu digunakan dan berapa ongkos yang harus dibayar untuk mencapai tujuan tersebut?

Pertanyaan inilah yang menarik ketika kita membaca gagasan dalam buku DNA Sukses Mulia, khususnya bagian “Modus 5: Tabung Epos”, karya Farid Poniman, Indrawan Nugroho, dan Jamil Azzaini.

Dalam buku tersebut diperkenalkan istilah agency cost, atau secara sederhana dapat dipahami sebagai ongkos yang harus dikeluarkan seseorang untuk menjalani kehidupan dan mencapai sesuatu yang diinginkannya.

Ongkos Kehidupan
Ongkos kehidupan tentu bukan hanya uang. Ada waktu, tenaga, pikiran, kesempatan, emosi, bahkan relasi sosial yang ikut menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Kita ingin mendapatkan pekerjaan tertentu. Kita harus belajar, mengikuti seleksi, bersaing, dan menunggu. Semua membutuhkan energi.

Kita ingin membangun usaha. Ada modal, ketidakpastian, kegagalan, waktu, dan keberanian yang harus dipertaruhkan.

Kita ingin memiliki keluarga yang harmonis. Ada pula ongkos berupa kesediaan mendengar, memahami, berbagi waktu, mengendalikan emosi, dan menjaga komunikasi.

Dengan demikian, setiap keberhasilan sesungguhnya memiliki “harga” yang harus dibayar.

Persoalannya bukan semata-mata apakah ongkos itu tinggi atau rendah, melainkan apakah ongkos yang kita keluarkan sebanding dengan kehidupan yang ingin kita bangun.

Di sinilah kita kadang perlu berhenti sejenak.

Jangan-jangan selama ini kita bekerja keras bukan karena benar-benar memahami tujuan, melainkan karena takut dianggap gagal.

Jangan-jangan kita mengejar jabatan karena lingkungan menganggap jabatan sebagai ukuran keberhasilan.

Jangan-jangan anak belajar hanya karena takut dimarahi orang tua.

Tekun dan Tertekan
Secara lahiriah kita tampak tekun. Namun, di dalam diri mungkin sedang berlangsung perjuangan untuk memenuhi harapan orang lain.

Maka, ada perbedaan antara tekun dan tertekan.

Tekun berarti terus berusaha karena memahami tujuan. Tertekan berarti terus berusaha karena takut berhenti. Keduanya tampak sama dari luar, tetapi sumber energinya berbeda.

Dalam DNA SuksesMulia terdapat kisah dua orang sahabat sejak SMA. Keduanya sama-sama berprestasi. Ketika melanjutkan pendidikan tinggi, keduanya memilih jalan yang berbeda.

Yang satu lebih tekun pada bidang akademik. Yang lain aktif berorganisasi dan menjalankan berbagai aktivitas di luar perkuliahan.

Setelah lulus, jalan kehidupan keduanya pun berbeda. Tokoh “Akademik” memilih menjadi pegawai negeri. Sementara “Aktivis” bekerja di perusahaan swasta, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, hingga kemudian membangun usaha sendiri.

Kisah ini menarik bukan karena kita harus memilih menjadi “Akademik” atau “Aktivis”. Bukan pula untuk menyimpulkan bahwa aktivis lebih sukses daripada orang yang tekun belajar.

Pesan yang lebih penting adalah bahwa setiap orang mempunyai jalan, kekuatan, dan ongkos kehidupan yang berbeda.

Ada orang yang berkembang melalui jalur akademik. Ada yang menemukan potensinya melalui organisasi. Ada yang cocok menjadi profesional. Ada yang justru berkembang setelah terjun ke dunia usaha.

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak buru-buru menganggap bahwa hanya ada satu bentuk keberhasilan.

Anak yang pandai matematika tentu memiliki keunggulan. Tetapi anak yang pandai berkomunikasi juga memiliki modal kehidupan.

Anak yang rajin membaca penting. Namun, anak yang mampu bekerja sama, menyelesaikan masalah, beradaptasi, dan membantu orang lain juga memiliki bekal yang tidak kalah penting.

Sekolah tidak perlu memilih salah satunya. Sekolah justru perlu membantu anak menemukan cara terbaik menggunakan potensi yang dimilikinya.

Tabung Epos dan Makna Kebermanfaatan
Selain agency cost, gagasan yang menarik dalam bab tersebut adalah Tabung Epos.

Secara sederhana, konsep ini mengajak kita melihat kebaikan sebagai energi positif yang kita “tabung” melalui kontribusi kepada orang lain.

Menolong orang lain tidak selalu memberikan keuntungan secara langsung.

Seorang guru yang bersedia meluangkan waktu membimbing muridnya mungkin tidak mendapatkan imbalan tambahan. Seorang teman yang membantu rekannya menyelesaikan pekerjaan mungkin tidak memperoleh penghargaan.

Seseorang yang memberi kesempatan kepada orang lain bisa saja tidak mendapatkan balasan pada saat itu.

Namun, kebaikan tidak selalu hilang. Ia dapat meninggalkan hubungan baik, kepercayaan, penghargaan, dan jaringan sosial yang suatu saat mungkin kembali dalam bentuk yang tidak pernah kita duga.

Seorang guru mungkin baru menyadari “tabungan” kebaikannya bertahun-tahun kemudian ketika seorang mantan murid datang dan berkata, “Bapak dulu pernah membantu saya. Nasihat Bapak masih saya ingat.”

Tidak ada uang yang berpindah tangan. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih dalam: pengaruh kehidupan.

Inilah yang membuat gagasan Tabung Epos menarik jika dikaitkan dengan pendidikan.

Jangan Salah Memahami Keberanian
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Jangan sampai kisah orang yang berhasil setelah keluar dari jalur formal membuat kita menyimpulkan bahwa sekolah tidak penting atau pendidikan tidak diperlukan.

Keberanian mengambil risiko juga bukan berarti nekat. Berani mencoba bukan berarti tidak perlu menghitung. Keluar dari zona nyaman bukan berarti meninggalkan tanggung jawab.

Seorang anak yang tekun belajar tetap sedang membangun modal penting bagi kehidupannya.

Pengetahuan, kemampuan membaca, kemampuan berhitung, kemampuan berbahasa, dan kemampuan berpikir tetap diperlukan dalam berbagai bidang kehidupan.

Yang perlu diperluas adalah makna belajar itu sendiri.

Belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai. Belajar juga untuk memahami kehidupan.

Anak perlu diberi kesempatan untuk memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan, mencoba sesuatu yang baru, belajar dari kegagalan, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Dengan begitu, pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa nilai yang kamu dapat?”

Tetapi berkembang menjadi, “Apa yang dapat kamu lakukan dengan pengetahuan itu?”

Dan pertanyaan yang lebih penting lagi: “Siapa yang dapat kamu bantu dengan kemampuanmu?”

Mungkin di sinilah pendidikan kita perlu melakukan sedikit pergeseran cara pandang.

Kita tentu tetap ingin anak-anak tekun. Tetapi ketekunan perlu mempunyai arah.

Anak tidak cukup hanya diajari untuk bekerja keras. Ia juga perlu belajar memilih pekerjaan yang bermakna, mengenali kekuatan diri, memahami konsekuensi pilihan, dan melihat peluang di tengah perubahan.

Begitu pula dengan keberhasilan. Kita sering menggunakan ukuran yang mudah dilihat: pekerjaan, penghasilan, jabatan, rumah, kendaraan, atau penghargaan.

Ukuran tersebut tidak salah.

Namun, ada ukuran lain yang sering terlupakan: berapa banyak orang yang kehidupannya menjadi lebih baik karena kehadiran kita?

Seorang guru mungkin tidak pernah menjadi pejabat. Tetapi jika ia mampu mengantarkan ratusan anak menemukan jalan hidupnya, bukankah itu sebuah keberhasilan?

Seorang pedagang mungkin tidak memiliki perusahaan besar. Tetapi jika usahanya mampu menghidupi keluarga dan membuka pekerjaan bagi orang lain, bukankah itu juga keberhasilan?

Seseorang mungkin tidak kaya secara materi, tetapi keluarganya hidup dalam kasih sayang, anak-anaknya tumbuh baik, dan tetangganya merasa terbantu oleh kehadirannya.

Bukankah itu juga bentuk kesuksesan?

Sukses Yang Memberi Manfaat
Di sinilah istilah SuksesMulia menemukan maknanya.

Kesuksesan tidak berhenti pada apa yang berhasil kita miliki, tetapi juga pada seberapa luas manfaat yang dapat kita berikan.

Jika gagasan ini dibawa ke sekolah, kita akan menemukan banyak hal sederhana yang sebenarnya dapat menjadi “tabungan” kehidupan.

Ketika seorang murid membantu temannya yang kesulitan belajar, ia sedang belajar peduli.

Ketika anak bekerja sama membersihkan lingkungan sekolah, ia sedang belajar bertanggung jawab.

Ketika seorang siswa berani meminta maaf, ia sedang belajar memperbaiki hubungan.

Ketika seorang guru memberikan perhatian kepada murid yang tertinggal, ia sedang menanamkan keyakinan bahwa setiap anak layak mendapatkan kesempatan.

Hal-hal semacam itu mungkin tidak masuk dalam angka rapor. Tetapi justru dapat menjadi bekal yang dibawa anak jauh setelah ia meninggalkan sekolah.

Karena itu, sekolah tidak hanya perlu menjadi tempat untuk mengejar prestasi, tetapi juga tempat untuk membangun karakter dan kebermanfaatan.

Prestasi penting. Kedisiplinan penting. Ketekunan penting.

Tetapi semuanya akan menjadi lebih bermakna apabila diarahkan untuk kehidupan yang lebih baik.

Pada akhirnya, setiap orang akan memilih jalannya sendiri.

Ada yang memilih jalan akademik. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang menjadi guru, petani, pegawai, pedagang, teknisi, seniman, atau profesi lainnya.

Tidak ada satu jalan yang berlaku untuk semua orang.

Yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri, memahami tujuan, menghitung konsekuensi, kemudian menjalani pilihan tersebut dengan sungguh-sungguh.

Dan selama perjalanan itu, jangan lupa mengisi Tabung Epos.

Bantu orang lain ketika mampu. Berikan manfaat meskipun sederhana.

Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk berbuat baik. Jangan pula menunggu sukses untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Sebab, bisa jadi, justru kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini menjadi bagian dari jalan yang memudahkan kehidupan kita di kemudian hari.

Maka, pertanyaan tentang kesuksesan akhirnya bukan hanya, “Seberapa tinggi kita berhasil naik?”

Tetapi juga: “Berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan sepanjang perjalanan?”

Ketekunan tetap penting. Namun, ketekunan tanpa arah dapat berubah menjadi tekanan.

Keberanian juga penting, tetapi keberanian tanpa perhitungan dapat berubah menjadi kecerobohan.

Yang kita perlukan adalah perpaduan keduanya: tekun dalam proses, cerdas memilih jalan, berani mengambil peluang, dan tidak lupa memberi manfaat.

Sebab, kehidupan yang baik bukan sekadar tentang berhasil mencapai tujuan.

Lebih dari itu, kehidupan yang baik adalah ketika keberhasilan kita ikut membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Barangkali itulah saat ketika kesuksesan tidak lagi berhenti pada kata “sukses”, tetapi tumbuh menjadi Sukses Dan Mulia.(*)

BERITA TERKINI

ex3
Berwisata Ke Tawangangu, Yuk...Menginap di Villa Glamping by Expert
WhatsApp Image 2026-08-13 at 07.02
726 Murid TK se-Kecamatan Rembang Ikuti Gebyar Mewarnai
ledug1
561 Murid SDN Ledug Meriahkan Hari Pramuka Ke-65
WhatsApp Image 2026-08-12 at 14.17
Komite SMPN 1 Baturraden Siap Dukung Program Sekolah
FAUZI PAKAIAN JAWA
Sukses Tanpa Manfaat, Benarkah Sukses?