Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
ADA sesuatu yang perlahan berubah dalam cara manusia berinteraksi. Dulu, ketika bertemu seseorang di jalan, di kantor, di sekolah, atau di lingkungan rumah, sapaan hampir menjadi sesuatu yang otomatis. Senyum, salam, menyapa, kemudian berbincang sebentar menjadi bagian dari kebiasaan sosial. Sekarang, tidak jarang dua orang duduk berdekatan tetapi sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Mata bertemu layar, bukan bertemu manusia.
Gawai memang membuat komunikasi menjadi mudah. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik. Informasi datang tanpa harus menunggu. Dunia seakan berada dalam genggaman. Namun, ada sesuatu yang tidak selalu dapat digantikan oleh layar: kehangatan perjumpaan manusia.
Karena itu, sekolah memiliki pekerjaan yang tidak sederhana. Sekolah bukan hanya tempat mengajarkan pengetahuan, tetapi juga tempat anak belajar bagaimana menjadi manusia di tengah manusia lainnya. Di sinilah gagasan 5S: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun menjadi penting.
Persoalannya, apakah 5S cukup dituliskan di papan pengumuman, ditempel di dinding, atau disampaikan berulang-ulang dalam upacara? Rasanya tidak. Sebab, anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada mengingat apa yang berkali-kali kita katakan.
Anak Belajar dari Apa yang Dilihat
Senyum tampaknya perkara kecil. Tidak membutuhkan biaya, tidak membutuhkan perangkat teknologi, bahkan tidak membutuhkan waktu lama. Tetapi justru karena sederhana, senyum sering dianggap tidak penting.
Padahal, sebuah senyum dapat menjadi tanda bahwa kehadiran seseorang diterima. Senyum kepada tamu yang datang ke sekolah, kepada teman yang berpapasan, kepada petugas kebersihan, kepada penjaga sekolah, atau kepada orang tua murid yang sedang mencari informasi merupakan bentuk penghargaan sederhana terhadap keberadaan orang lain.
Tentu saja, senyum yang dimaksud bukan senyum yang dipaksakan. Ada kalanya seseorang tersenyum karena tuntutan pelayanan, tetapi wajahnya mengatakan sesuatu yang berbeda. Bibir tersenyum, sementara mata dan sikap tubuh justru menunjukkan ketidaknyamanan.
Di sinilah 5S sesungguhnya bukan sekadar persoalan gerak tubuh. Ia berkaitan dengan kesadaran batin untuk menghargai orang lain.
Senyum yang baik bukan sekadar menarik sudut bibir. Ia lahir dari kesediaan mengatakan dalam hati: “Saya menghargai kehadiran Anda.”
Karena itu, membiasakan 5S seharusnya dimulai bukan dari murid. Orang dewasa di sekolahlah yang terlebih dahulu memberi contoh.
Bayangkan seorang murid berjalan di halaman sekolah bersama gurunya. Dari kejauhan datang seseorang yang belum dikenal. Sang guru berpapasan begitu saja tanpa menyapa. Beberapa menit kemudian guru tersebut meminta murid agar selalu ramah kepada tamu.
Apa yang kemungkinan besar akan ditangkap anak? Bukan kalimat gurunya, melainkan perilaku gurunya. Anak melihat bahwa menyapa tamu ternyata bukan sesuatu yang penting. Sebab, orang dewasa yang menjadi panutannya juga tidak melakukannya.
Begitu pula ketika sekolah mengajarkan sopan santun, tetapi murid menyaksikan orang dewasa berbicara dengan nada tinggi kepada orang lain. Pesan yang diterima anak menjadi berbeda.
Maka, jika sekolah ingin membangun budaya 5S, pertanyaan pertama yang layak kita ajukan bukanlah, “Apakah murid sudah menerapkan 5S?” Melainkan, “Apakah kita sebagai orang dewasa sudah memberikan contoh 5S?”
Pertanyaan ini mungkin terasa sederhana. Namun, justru di situlah tantangannya.
Ramah, Tetapi Tetap Tegas
Sekolah adalah ruang publik pendidikan. Banyak orang datang dengan berbagai kepentingan. Ada orang tua murid, pengawas, tamu dari instansi lain, alumni, masyarakat, calon mitra sekolah, bahkan pedagang atau orang yang menawarkan berbagai barang dan jasa. Tidak semuanya datang dengan tujuan yang sama.
Di sinilah budaya pelayanan sekolah diuji.
Petugas yang berada di bagian depan sekolah atau front liner memiliki posisi yang sangat penting. Mereka merupakan salah satu wajah pertama yang dilihat oleh orang luar ketika memasuki lingkungan sekolah.
Tamu mungkin belum mengenal kepala sekolah, belum mengenal guru, dan belum mengenal warga sekolah lainnya. Tetapi ia sudah terlebih dahulu berinteraksi dengan orang yang berada di bagian depan. Karena itu, kesan terhadap sekolah sering kali terbentuk sejak beberapa menit pertama.
Namun, ramah bukan berarti semua permintaan harus dipenuhi. Ini bagian yang kadang terlupakan dalam memahami pelayanan. Sopan bukan berarti harus selalu mengatakan “iya”. Santun bukan berarti tidak boleh mengatakan “tidak”.
Sekolah tetap membutuhkan aturan, prosedur, dan batas kewenangan.
Ketika seseorang datang dan ingin langsung bertemu kepala sekolah, misalnya, petugas tidak harus serta-merta mengantar masuk. Tetapi menolak dengan wajah masam atau kalimat yang membuat tamu merasa tidak dihargai juga bukan pilihan yang tepat.
Ada cara yang lebih bijak.
“Selamat pagi, Bapak/Ibu. Ada yang bisa kami bantu?”
Setelah mengetahui keperluannya, petugas dapat menjelaskan, “Untuk bertemu kepala sekolah, mohon kami cek terlebih dahulu apakah beliau sedang menerima tamu. Silakan menunggu sebentar.”
Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan dua hal sekaligus: keramahan dan ketegasan.
Jika pimpinan sedang tidak dapat ditemui, penjelasan juga dapat disampaikan dengan baik.
“Mohon maaf, Bapak/Ibu. Saat ini beliau sedang ada kegiatan. Kami bisa membantu menyampaikan keperluannya atau mencatat pesan yang ingin disampaikan.”
Bukankah jauh lebih nyaman daripada sekadar mengatakan, “Tidak bisa”?
Di Sinilah 5S Menemukan Maknanya
Ada persoalan lain yang juga perlu kita renungkan. Tidak semua orang yang datang ke sekolah harus dilayani dengan cara yang sama. Sekolah tetap memiliki keamanan, tata tertib, dan kepentingan utama yang harus dijaga.
Misalnya, ada seseorang yang datang menawarkan dagangan ketika sekolah sedang melaksanakan pembelajaran. Apakah warga sekolah harus menerima? Tentu tidak. Sekolah boleh mengatakan tidak.
Namun, cara mengatakan tidak juga merupakan pendidikan.
“Terima kasih, Bapak/Ibu, sudah datang. Untuk sementara kami belum dapat menerima penawaran karena kegiatan pembelajaran sedang berlangsung. Jika berkenan, silakan menyampaikan informasi melalui bagian tata usaha.”
Kalimat semacam ini tidak merendahkan orang yang datang. Kepentingan sekolah tetap terjaga, tetapi martabat orang lain juga dihormati.
Dengan demikian, 5S bukan budaya untuk menjadi “terlalu baik” kepada semua orang. 5S adalah cara untuk tetap manusiawi ketika menjalankan aturan. Inilah yang seharusnya dipahami oleh setiap warga sekolah.
Dari Slogan Menjadi Karakter Sekolah
Kadang muncul alasan sederhana: “Saya tidak mengenalnya.”
Justru karena tidak mengenal, sapaan menjadi berarti. Seorang murid yang melihat orang asing berada di lingkungan sekolah sebenarnya dapat melakukan hal yang sangat sederhana.
“Selamat pagi, Pak.”
“Selamat siang, Bu.”
“Bapak mencari siapa?”
“Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Tidak perlu percakapan panjang. Jika murid belum mengetahui siapa orang tersebut, ia tidak harus mengambil keputusan sendiri. Ia dapat menyapa kemudian melaporkan kepada guru atau petugas yang berwenang.
Di sinilah keberanian sosial tumbuh. Anak tidak hanya belajar berani berbicara di depan kelas, tetapi juga belajar peka terhadap lingkungan di sekitarnya.
Murid yang terbiasa menyapa akan lebih mudah memahami bahwa lingkungan sekolah bukan sekadar tempat dirinya datang, belajar, kemudian pulang. Ia merupakan bagian dari komunitas.
Kita tidak perlu memusuhi telepon genggam. Teknologi adalah bagian dari kehidupan anak-anak sekarang. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana memastikan teknologi tidak membuat kemampuan berinteraksi secara langsung semakin berkurang.
Anak mungkin sangat terampil mengirim pesan, membuat konten, menggunakan aplikasi, atau berkomunikasi melalui media sosial. Tetapi apakah ia juga berani menyapa orang yang baru ditemuinya? Apakah ia mampu mengucapkan terima kasih? Apakah ia bisa meminta maaf? Apakah ia mampu menyampaikan penolakan dengan sopan? Apakah ia bisa mendengarkan orang lain tanpa sibuk melihat layar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sesungguhnya jauh lebih mendasar daripada sekadar kemampuan menggunakan teknologi.
Sebab, teknologi dapat menghubungkan manusia, tetapi karakterlah yang menentukan kualitas hubungan itu. Maka, 5S dapat menjadi salah satu cara sekolah menjaga keseimbangan tersebut. Anak boleh akrab dengan dunia digital, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk menghargai manusia yang berada di hadapannya.
Barangkali inilah bagian terpenting dari pembiasaan 5S di sekolah. Jangan sampai kita menunjuk guru piket untuk mengawasi murid agar menyapa, sementara guru dan tenaga kependidikan sendiri berjalan melewati murid tanpa sapaan.
Jangan sampai petugas keamanan diminta ramah kepada tamu, sementara warga sekolah lainnya menunjukkan sikap tak acuh. Jangan pula kita menuntut murid tersenyum kepada tamu, sementara kita sendiri merasa terganggu ketika ada orang datang membawa kepentingan tertentu.
Budaya tidak lahir dari satu petugas. Budaya lahir dari kebiasaan bersama.
Karena itu, 5S seharusnya menjadi kesepakatan seluruh warga sekolah. Kepala sekolah memberi contoh. Guru memberi contoh. Tenaga kependidikan memberi contoh. Petugas keamanan memberi contoh. Petugas kebersihan memberi contoh. Murid mengikuti contoh.
Bahkan, tamu yang datang ke sekolah pun pada akhirnya akan merasakan atmosfer tersebut.
Jika seluruh warga sekolah terbiasa memberikan senyum, salam, sapaan, serta menunjukkan sikap sopan dan santun, lama-kelamaan 5S tidak lagi terasa sebagai program. Ia menjadi karakter sekolah.
Karena berhadapan langsung dengan masyarakat, petugas di bagian depan sekolah perlu mendapat perhatian khusus. Mereka bukan sekadar penjaga pintu. Mereka adalah penghubung pertama antara dunia luar dengan kehidupan sekolah.
Karena itu, mereka membutuhkan pedoman yang jelas. Ketika tamu datang, misalnya, setidaknya ada pola sederhana: Senyum → salam → sapa → dengarkan keperluan → jelaskan prosedur → bantu sesuai kewenangan.
Tidak Perlu Rumit. Yang Penting Konsisten
Jika tamu ingin bertemu pimpinan, jangan langsung mengatakan “tidak boleh”. Cari tahu keperluannya. Jika pimpinan dapat ditemui, sampaikan. Jika belum dapat ditemui, tawarkan alternatif. Jika persoalannya harus ditangani bagian lain, arahkan dengan jelas.
Dengan cara demikian, pelayanan tidak kehilangan sisi manusiawinya. Dan yang lebih penting, murid yang menyaksikan proses tersebut sedang mendapatkan pembelajaran nyata. Mereka melihat bahwa ketegasan dapat berjalan bersama keramahan.
Lalu, bagaimana agar 5S tidak berhenti sebagai slogan?
Jawabannya mungkin bukan dengan menambah banyak aturan. Justru kita perlu membuatnya sederhana, berulang, dan nyata.
Guru dapat membiasakan menyapa murid di gerbang. Warga sekolah dapat membiasakan memberi salam ketika bertemu. Murid yang melihat tamu dapat dibiasakan menyapa atau melaporkan kepada guru. Petugas depan sekolah memiliki standar pelayanan yang sederhana dan mudah dipraktikkan.
Setiap warga sekolah dapat saling mengingatkan tanpa mempermalukan. Dan yang paling penting, sekolah perlu memberikan ruang untuk refleksi.
Bukan sekadar bertanya, “Sudahkah kamu menerapkan 5S?” Tetapi, “Apa yang kamu rasakan ketika seseorang menyapamu dengan ramah?”
“Bagaimana perasaanmu ketika datang ke suatu tempat tetapi tidak ada seorang pun yang memperhatikanmu?”
“Bagaimana cara mengatakan tidak tanpa menyakiti orang lain?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat 5S tidak berhenti pada hafalan. Anak diajak memahami maknanya.
Mungkin kita semua pernah merasakan datang ke sebuah tempat dan disambut dengan baik. Ada senyum. Ada salam. Ada sapaan. Ada seseorang yang bersedia mendengarkan. Kita merasa dihargai, meskipun mungkin urusan kita belum tentu dapat dipenuhi.
Sebaliknya, kita juga pernah berada dalam situasi ketika kehadiran kita seolah-olah tidak dianggap. Tidak ada sapaan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada senyum. Bahkan pertanyaan sederhana pun dijawab dengan nada yang membuat kita merasa tidak nyaman.
Dari pengalaman itu kita sebenarnya sudah belajar satu hal: manusia tidak selalu membutuhkan apa yang kita miliki; terkadang ia hanya ingin diperlakukan sebagai manusia.
Menghargai Setiap Orang
Maka, sekolah yang menerapkan 5S bukan berarti sekolah yang selalu berkata “iya” kepada semua orang. Sekolah yang menerapkan 5S adalah sekolah yang mampu menghargai setiap orang tanpa kehilangan ketegasan terhadap aturan. Di situlah letak kedewasaan pelayanan.
Dan mungkin, inilah pesan terbesar yang perlu kita wariskan kepada anak-anak. Bahwa menjadi manusia terdidik bukan hanya mampu menjawab soal dengan benar. Bukan hanya memperoleh nilai tinggi. Bukan pula sekadar mahir menggunakan teknologi.
Tetapi juga mampu tersenyum ketika bertemu, mengucapkan salam, menyapa dengan tulus, berbicara dengan sopan, dan memperlakukan orang lain dengan santun.
Sebab, suatu hari nanti anak-anak itu akan meninggalkan gerbang sekolah. Mereka akan memasuki masyarakat yang jauh lebih luas. Di sana mereka akan bertemu dengan orang yang berbeda usia, latar belakang, pemikiran, dan kepentingan.
Ilmu pengetahuan akan membantu mereka bekerja. Teknologi akan membantu mereka bergerak. Tetapi sikaplah yang membuat mereka diterima.(*)