
Kader Posyandu Asem Kawak, berfoto bersama petugas kesehatan Puskesmas Wirobrajan, pada pelaksanaan posyandu balita, Selasa (18/8/2026.). (Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).
YOGYAKARTA, EDUKATOR — Posyandu Asem Kawak di RW 10, Kelurahan Wirobrajan, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, tak sekadar menjadi tempat menimbang balita. Layanan kesehatan masyarakat yang digelar Selasa (18/8/2026) itu juga menjadi ruang pemantauan kesehatan warga dari berbagai kelompok usia, sekaligus memastikan warga yang kesulitan hadir tetap mendapatkan perhatian melalui kunjungan rumah.
Posyandu Asem Kawak membuka layanan rutin sebulan sekali. Kegiatan berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB di Jalan Arjuna Nomor 7 dan melibatkan warga, kader Posyandu, petugas kesehatan Puskesmas Wirobrajan, serta staf Kelurahan Wirobrajan.
Penimbangan, pengukuran tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan pada Posyandu Asem Kawak, di RW 10, Wirobrajan, Yogyakarta, Selasa (18/8/2026). (Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).
Pelayanan mencakup pemantauan tumbuh kembang, pemeriksaan kesehatan, edukasi, pencatatan, hingga tindak lanjut bagi warga yang membutuhkan.
Di tengah pemahaman lama bahwa Posyandu identik dengan bayi dan balita, layanan kesehatan berbasis masyarakat kini memiliki cakupan lebih luas. Sasarannya meliputi ibu hamil dan menyusui, bayi dan balita, anak usia sekolah dan remaja, usia produktif, hingga lanjut usia.
“Peran Posyandu di tengah masyarakat sangatlah besar,” kata petugas kesehatan Puskesmas Wirobrajan, Ritha kepada EDUKATOR disela-sela kegiatan Posyandu.
Penyuluhan dan konsultasi, bagian dari kegiatan di Posyandu Asem Kawak, RW 10 Kalurahan Wirobrajan, Kota Yogyakarta.(Foto: Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).
Layanan Menjangkau Semua Siklus Hidup
Pada balita, pemeriksaan meliputi berat badan, panjang atau tinggi badan, lingkar kepala, serta lingkar lengan atas. Data tersebut menjadi dasar untuk memantau pertumbuhan sekaligus mendeteksi lebih dini apabila terdapat masalah kesehatan.
Sementara itu, pemeriksaan bagi remaja, warga usia produktif, dan lansia mencakup berat dan tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, serta lingkar lengan atas bagi perempuan usia subur.
Pelayanan juga dilengkapi penyuluhan kesehatan. Balita mendapat makanan penyuluhan yang kaya protein hewani serta edukasi mengenai tanda-tanda bahaya yang perlu diperhatikan.
Untuk remaja hingga lansia, materi mencakup aktivitas fisik, deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan, pencegahan anemia, bahaya rokok dan NAPZA, serta pencegahan obesitas, hipertensi, diabetes, dan tuberkulosis.
Dengan cakupan tersebut, Posyandu tidak berhenti pada kegiatan datang, ditimbang, lalu pulang. Data hasil pemeriksaan menjadi bagian dari pemantauan kesehatan masyarakat dan dasar bagi tindak lanjut Puskesmas.
Lansia yang Tak Bisa Hadir Tetap Dipantau
Tantangan muncul ketika warga tidak dapat datang langsung ke lokasi pelayanan. Kondisi itu terutama dialami sebagian lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas atau masih bekerja ketika Posyandu dibuka.
Ketua Bidang Kesehatan Posyandu Asem Kawak, Indri Yatmini Madamdari, didampingi Sri Tjatur Wardajastuti, mengatakan kehadiran orang tua yang memiliki balita relatif baik. Namun, partisipasi lansia belum maksimal.
Ada warga lanjut usia yang tidak memiliki anggota keluarga untuk mengantar. Sebagian lainnya masih bekerja sehingga tidak dapat mengikuti pelayanan pada hari buka.
Kondisi tersebut tidak membuat mereka luput dari pemantauan. Kader memperoleh informasi dari warga mengenai lansia yang membutuhkan perhatian. Setelah itu, kader dapat melakukan kunjungan untuk mengetahui kondisi mereka.
Kunjungan rumah bahkan telah menjadi bagian dari aktivitas sosial Posyandu Asem Kawak. Dari sisi Puskesmas, warga yang tidak hadir juga dapat ditelusuri melalui koordinasi dengan bidan kampung untuk mengetahui penyebab ketidakhadiran dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.
Model pelayanan ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan berbasis masyarakat tidak selalu harus menunggu warga datang. Dalam kondisi tertentu, pelayanan justru perlu bergerak mendatangi warga.
Satu Anak Stunting Kini Dinyatakan Pulih
Pemantauan Posyandu Asem Kawak juga mencatat perkembangan positif dalam penanganan stunting. Dalam satu tahun terakhir, kondisi kesehatan warga RW 10 dinilai baik dan saat ini tercatat zero stunting.
Pada 2025, terdapat satu anak yang mengalami stunting. Setelah mendapatkan pemantauan dan tindak lanjut, tahun ini anak tersebut dinyatakan telah “lulus” dari kondisi tersebut. Pertumbuhan dan kesehatannya telah memenuhi standar normal.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa pengukuran di Posyandu bukan sekadar kegiatan mencatat angka. Hasil pengukuran dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan persoalan kesehatan dan menentukan intervensi yang diperlukan.
Hasil pelayanan Posyandu selanjutnya dipantau secara menyeluruh oleh petugas kesehatan. Data tersebut menjadi bahan bagi Puskesmas untuk menentukan respons dan memastikan hak warga atas pelayanan kesehatan tetap terpenuhi.
Kader Senior Butuh Regenerasi dan Pelatihan
Di balik pelayanan rutin tersebut terdapat para kader yang bekerja secara sukarela. Namun, keberlangsungan Posyandu menghadapi tantangan regenerasi karena sebagian kader aktif merupakan warga senior.
Sementara itu, warga usia produktif umumnya masih bekerja sehingga memiliki keterbatasan waktu untuk terlibat. Kondisi tersebut membuat kebutuhan kader baru menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian.
Selain regenerasi, kader juga membutuhkan peningkatan kapasitas dan dukungan perangkat kerja.
Siti Munawaroh, kader yang menangani pengolahan data, mengungkapkan kebutuhan komputer atau tablet untuk mendukung pencatatan dan pelaporan. Selama ini, ia menggunakan telepon seluler untuk memasukkan data sekaligus membuat laporan.
Penggunaan telepon seluler membuat kapasitas penyimpanan kerap penuh sehingga menghambat proses administrasi.
Kader lainnya, Dian, berharap mendapat pelatihan pemeriksaan gula darah, asam urat, dan kolesterol. Ia mengaku belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk melakukan pemeriksaan tersebut.
Selama ini, pemeriksaan tersebut ditangani Sri Tjatur Wardajastuti, yang akrab disapa Ibu Agung.
“Saya ingin membantu dan mengasisteni Ibu Agung, tetapi belum cukup pengetahuan dan keterampilan,” ujar Dian seusai pelaksanaan kegiatan Posyandu.
Ia berharap Puskesmas maupun pemerintah dapat menyediakan pelatihan sehingga semakin banyak kader memiliki kemampuan melakukan pemeriksaan dasar kesehatan.
Tiga Kali Berpindah Tempat
Persoalan lain yang dihadapi Posyandu Asem Kawak adalah ketersediaan tempat. Hingga kini, kegiatan masih meminjam rumah warga dan lokasi pelaksanaannya telah berpindah sebanyak tiga kali.
Ketua PKK RW 10, Sri Winarti atau Ibu Ardianto, mengatakan keberadaan tempat yang tetap diperlukan agar kegiatan Posyandu dapat berlangsung lebih nyaman dan berkelanjutan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan Posyandu tidak hanya membutuhkan semangat kader. Regenerasi, peningkatan keterampilan, perangkat pendukung, dan tempat pelayanan yang memadai juga menjadi bagian penting dari penguatan layanan kesehatan masyarakat.
Bukan Sekadar Menunggu Warga Datang
Posyandu Asem Kawak menunjukkan bagaimana layanan kesehatan dapat tumbuh dari lingkungan terdekat warga. Pengukuran, pencatatan, penyuluhan, komunikasi antarwarga, hingga kunjungan rumah menjadi rangkaian pelayanan yang saling melengkapi.
Kesadaran orang tua membawa balita ke Posyandu terbilang baik. Seorang anak yang sebelumnya mengalami stunting juga telah menunjukkan pertumbuhan sesuai standar normal.
Namun, masih terdapat warga yang membutuhkan pendekatan khusus, terutama lansia yang terkendala mobilitas maupun pekerjaan. Di saat yang sama, kader menghadapi kebutuhan regenerasi, pelatihan, perangkat pengolahan data, dan tempat pelayanan yang lebih pasti.
Karena itu, keberhasilan Posyandu tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah warga yang hadir pada hari pelayanan. Ukuran keberhasilan juga terletak pada kemampuan menemukan warga yang tidak datang, memahami hambatan mereka, kemudian memastikan pelayanan tetap menjangkau mereka.
Posyandu pada akhirnya bukan hanya tentang membuka pintu dan menunggu warga datang. Lebih dari itu, layanan kesehatan berbasis masyarakat harus mampu bergerak mendekati warga yang membutuhkan. Hal itu agar tidak seorang pun terlewat dari pemantauan dan pelayanan kesehatan. (Harta Nining Wijaya/Prs)