
SEMARANG, EDUKATOR–Sebanyak 34 peserta Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Permadani Cabang Ratualian diwisuda setelah menjalani pendidikan selama enam bulan. Mereka diharapkan menjadi bagian dari generasi yang ikut menjaga dan melestarikan adat dan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.
Wisuda Purna Wiyata tersebut digelar Dewan Pimpinan Daerah – Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (DPD Permadani) Kota Semarang, Cabang Kecamatan Semarang Barat, Tugu, dan Ngaliyan (Ratualian), di Gedung Utama Museum Jawa Tengah Ronggowarsito, Semarang, Rabu (2/9/2026).
Ketua DPD Permadani Kota Semarang, R.H. Subardo, S.H., mengatakan adat, tradisi, dan budaya merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Karena itu, pelestarian budaya Jawa menjadi tanggung jawab bersama.
“Budaya Jawa harus terus dijaga dan dilestarikan bersama,” ujar Subardo.
Menurutnya, DPD Permadani Kota Semarang memiliki sejumlah komunitas budaya yang konsisten mengajarkan tata cara adat Jawa melalui Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda.
Hingga kini, program tersebut telah mendidik dan meluluskan 122 angkatan. Adapun wisuda angkatan ke-35 dari Cabang Ratualian menjadi bagian dari perjalanan panjang Permadani dalam menjaga keberlangsungan budaya Jawa.
Belajar Enam Bulan, Dua Kali Seminggu
Ketua Cabang Permadani Ratualian, M. Ng. Tugino Rekso Carito Diprodjo, mengatakan setiap angkatan mengikuti pendidikan selama enam bulan. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dua kali seminggu, yakni Selasa dan Jumat, pukul 19.00–22.00 WIB.
“Setiap angkatan belajar selama enam bulan penuh,” kata Tugino.
Materi pembelajaran mencakup berbagai aspek budaya dan tata cara Jawa. Di antaranya Basa tuwin Sastra Jawi, Kapanatacaran, Ngadat Tata Cara Jawi, Sekar lan Gendhing, Kapermadanen, Renggeping Wicara, Pamedhar Sabda, Budi Pekerti, Ngedi Busana Kakung lan Putri, Padhuwungan, serta materi lain yang berkaitan dengan kapanatacaran dan pamedhar sabda.
Seluruh materi diberikan para dwija yang dinilai kompeten dan memiliki kemampuan di bidangnya.
Dari 34 peserta angkatan ke-35 yang diwisuda, terdapat sembilan perempuan dan 25 laki-laki. Usia peserta cukup beragam, mulai 20 tahun yang berstatus mahasiswa hingga 63 tahun yang telah memasuki masa purnakarya.
Selain prosesi Wisuda Purna Wiyata, kegiatan juga diisi peragaan Siraman Calon Penganten Putri Gagrag Ngayogyakarta Hadiningrat oleh para wisudawan.
Sesanti Tri Niti Yogya Jadi Pegangan
Ketua kelas Bregada 35 Ratualian, Harmoko, salah satu peserta terbaik, menyampaikan apresiasi kepada para pamong dan dwija Permadani. Menurut dia, pembelajaran yang diterima menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia mengatakan seluruh pembelajaran dilandasi Sesanti Tri Niti Yogya yang menjadi pedoman keluarga besar Permadani.
“Tri Niti Yogya menjadi landasan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Harmoko.
Tiga sesanti tersebut meliputi Hamemayu Hayuning Sasama, Dados Juru Ladosing Bebrayan Ingkang Sae, dan Sadhengah Pakaryan Tansah Ngremenaken Tiyang Sanes.
Bregada 35 Diberi Nama Kridha Sabda Budaya
Ketua Umum DPP Permadani, Dr. Suyitno Yoga Pamungkas, M.Pd., mengingatkan keluarga besar Permadani untuk terus menjaga dan mengembangkan adat budaya Jawa sebagai kekayaan budaya Nusantara.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berita negatif yang banyak beredar melalui media sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Suyitno memberikan nama “Kridha Sabda Budaya” kepada Bregada 35 Permadani Ratualian.
“Nama Bregada 35 adalah Kridha Sabda Budaya,” ucap Suyitno.
Pemberian nama tersebut disambut para wisudawan dengan berdiri dan melakukan gerakan sembah kalbu sebagai ungkapan penghormatan serta rasa terima kasih.
Kepala Disbudpar Semarang Tertarik Belajar
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, S.E., M.A.P., yang hadir mewakili Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, mengapresiasi penyelenggaraan Wisuda Purna Wiyata tersebut.
Menurutnya, kegiatan Permadani memiliki peran penting dalam menjaga adat budaya Jawa yang mengandung nilai-nilai luhur bagi kehidupan masyarakat.
“Budaya Jawa memiliki nilai luhur bagi masyarakat,” kata Indriyasari.
Menariknya, Indriyasari mengaku tertarik mengikuti pendidikan di Permadani. Ia ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa sekaligus mempelajari nilai-nilai budaya Jawa yang dinilainya sangat luhur.
“Setelah ini saya akan mendaftar menjadi siswa Permadani,” ujarnya.
Dibuka Tari Beksan hingga Rangkaian Wisuda
Prosesi wisuda diawali penampilan tari Beksan yang dibawakan dua wisudawati, Devi Chandra dan Rizki Wulan Artika, bersama dua penari dari Sanggar Tari Larasati.
Acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Manghastungkara, dan berbagai rangkaian prosesi hingga acara berakhir.
Hadir dalam kegiatan tersebut para pamong Permadani Ratualian, para dwija, pengurus DPD, DPW, dan DPP Permadani, keluarga wisudawan, serta sejumlah tamu undangan.
Melalui Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda, Permadani terus berupaya memastikan pengetahuan, tata cara, bahasa, dan nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap diwariskan kepada generasi berikutnya. (Purwanto/Prs)