
PURWOKERTO, EDUKATOR–Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kembali mendampingi Kelompok Tani Hutan (KTH) Sido Rukun, Desa Canduk, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, Sabtu (5/9/2026).
Memasuki tahun kedua, pendampingan diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pengembangan agroforestry lada perdu, sekaligus memperkuat tata kelola usaha dan diversifikasi produk.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Pendapatan Petani melalui Pengembangan Agroforestry Lada Perdu pada KTH Sido Rukun, Kecamatan Lumbir” tersebut merupakan bagian dari Skema Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berbasis Riset Tahun 2026.
Program ini diinisiasi melalui kerja sama Program Pascasarjana Unsoed yang dipimpin Prof. Dr. rer. nat Imam Widhiono, M.Z., M.S., dengan KTH Sido Rukun melalui Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) Kabupaten Banyumas.
Empat Program Jadi Fokus Pendampingan
Ketua Tim PkM, Dr. Dindy Darmawati Putri, S.P., M.P., mengatakan program tahun kedua merupakan kelanjutan dari pendampingan yang telah dilakukan pada 2025.
“Program ini melanjutkan pendampingan yang telah dilakukan sebelumnya,” kata Dindy Darmawati kepada EDUKATOR.
Pada tahun pertama, kegiatan telah menghasilkan produk berupa bibit lada perdu serta demplot pembibitan lada. Adapun pada 2026, tim merancang empat program utama untuk memperkuat keberlanjutan usaha KTH Sido Rukun.
Program pertama berupa pendampingan dan pelatihan pembukuan usaha. Petani dibekali kemampuan mencatat transaksi keuangan usaha tani secara sistematis. Dengan pembukuan yang lebih tertib, kondisi keuangan usaha lada perdu dapat dipantau dan dievaluasi secara lebih baik.
Program kedua berfokus pada pendampingan dan pelatihan pemasaran. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan petani menyusun strategi pemasaran hasil olahan lada perdu. Penguatan pemasaran dilakukan sejalan dengan upaya membangun tata kelola keuangan usaha yang lebih tertib.
Program ketiga diarahkan pada penguatan kelompok untuk mendukung strategi kemitraan. Penguatan kelembagaan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya sekaligus memperkuat posisi tawar petani dalam menghadapi tantangan pasar.
Sementara itu, program keempat berupa diversifikasi produk lada. Melalui inovasi pengolahan, lada perdu dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, antara lain lada kemasan dan bubuk lada instan.
Alat Produksi Diperkenalkan
Diversifikasi produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, memperluas pangsa pasar, serta mengoptimalkan pendapatan petani. Untuk mendukung keberlangsungan usaha, tim PkM juga memperkenalkan alat pengolahan pupuk kompos serta alat pengemasan pupuk kompos dan lada.
Introduksi peralatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi proses produksi. Selain itu, peralatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan berbagai produk yang sedang dirintis KTH Sido Rukun.
Ketua KTH Sido Rukun, Akum Mustofa, menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan pendampingan yang diberikan Program Pascasarjana Unsoed.
“Pendampingan Unsoed sangat membantu usaha lada kami,” ujar Akum.
Menurut Akum, pendampingan tersebut memberikan manfaat bagi kelompok, terutama dalam mengelola usaha lada perdu. Pendampingan mencakup pembukuan, pemasaran, hingga pengolahan produk sehingga petani memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap dalam mengembangkan usaha.
Keberlanjutan program PkM pada tahun kedua sekaligus menunjukkan komitmen Unsoed untuk mendampingi KTH Sido Rukun secara berkelanjutan. Pendampingan tidak hanya menyasar aspek budidaya lada perdu, tetapi juga mencakup penguatan kelembagaan, tata kelola usaha, strategi pemasaran, serta pengembangan produk bernilai tambah.
Tim PkM yang diketuai Dr. Dindy Darmawati Putri, S.P., M.P., tersebut beranggotakan Dr. Irene Kartika Eka Wijayanti, S.P., M.P., Drs. Iman Budisantoso, M.P., Kunandar Prasetyo, S.P., M.Si., dan Dr. Lilik Kartika Sari, S.Pi., M.Si.
Program ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian KTH Sido Rukun, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan petani melalui usaha agroforestry lada perdu. (Prasetiyo)