FTBI Jadi Benteng Pelestarian Bahasa Jawa

Bagikan :

*FTBI Tingkat Kecamatan Tembalang Digelar, Diikuti 245 Murid SD

Salah seorang peserta lomba sesorah (pidato Bahasa Jawa) di FTBI tingkat Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. (Foto: Purwanto/EDUKATOR). 

SEMARANG, EDUKATOR–Bahasa Jawa menghadapi tantangan serius di kalangan generasi Z dan Alpha. Untuk membangun kembali kecintaan terhadap bahasa daerah sekaligus menepis kekakuan dalam penggunaannya, FTBI Jenjang SD Tingkat Kecamatan Tembalang, Kota Semarang tahun 2026 digelar di SDN Sendangmulyo 04 Semarang, Rabu (16/9/2026), diikuti 245 murid dari 35 SD negeri dan swasta.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal, mengembangkan dan melestarikan bahasa serta sastra Jawa melalui berbagai perlombaan. Yakni lomba ndongeng, sesorah (pidato), ndagel ijen (komedi tunggal), nulis cerkak, nembang macapat, maca geguritan, dan maca lan nulis aksara Jawa.

Mintardi, juri Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) sekaligus Manggala Budaya Permadani Kota Semarang, mengungkapkan masih banyak anak yang asing menggunakan bahasa Jawa secara tepat.

“Pocapan mereka kaku karena terpengaruh intonasi bahasa Indonesia,” kata Mintardi.

Mintardi. (Foto: Purwanto/EDUKATOR)

Menurutnya, persoalan tidak hanya terlihat dari pelafalan. Anak-anak juga masih terbatas dalam penguasaan kosakata dan kerap keliru menerapkan unggah-ungguh basa.

Ia mencontohkan, anak-anak masih sering keliru membedakan kata yang digunakan untuk diri sendiri dan orang yang lebih tua, seperti sare dan rawuh.

Pembiasaan Jadi Kunci Pelestarian
Mintardi menilai pembiasaan menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan tersebut. Orang tua dan guru memiliki peran utama karena menjadi contoh bagi anak dalam menggunakan bahasa Jawa secara baik dan benar.

Sementara itu, FTBI Kecamatan Tembalang 2026 menghadirkan berbagai cabang lomba seni bahasa dan sastra Jawa. Cabang tersebut meliputi menulis cerkak, geguritan, mendongeng, pidato atau sesorah, nembang macapat, komedi tunggal, serta menulis dan membaca aksara Jawa.

Ketua Panitia FTBI Kecamatan Tembalang Tahun 2026, Fauzi, mengatakan kegiatan berlangsung tertib dan lancar. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan festival didukung objektivitas juri dan partisipasi seluruh sekolah peserta.

“Festival ini menjadi ruang seleksi menuju tingkat kota,” ujar Fauzi.

Fauzi yang juga Kepala SD Al Hikmah Tembalang menegaskan, FTBI tidak sekadar menjadi ajang perlombaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menemukan bibit baru yang dapat meneruskan penggunaan dan pelestarian bahasa Jawa.

Ketua Panitia FTBI Kecamatan Tembalang 2026, Fauzi. (Foto: Purwanto/EDUKATOR)

Juara Bersiap Bawa Nama Tembalang
Para juara setiap cabang lomba selanjutnya dipersiapkan mengikuti FTBI tingkat Kota Semarang. Di antara mereka terdapat Maria Gemma Sanctisima yang meraih juara pertama cabang pidato dan Nafia Mecca Al Khaira sebagai juara pertama mendongeng.

Para pemenang dari cabang lainnya juga akan membawa nama Kecamatan Tembalang dalam ajang tingkat kota. Kehadiran mereka diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa Jawa agar tetap hidup dan digunakan generasi muda.

Melalui FTBI, pelestarian bahasa Jawa tidak berhenti pada pembelajaran di kelas. Festival tersebut menjadi ruang praktik bagi anak-anak untuk mengenal, menggunakan, dan mengembangkan bahasa serta sastra Jawa sejak dini.(Purwanto/Prs)

 

 

BERITA TERKINI

School Report Card Day Celebration
Mulai 2027, Murid Tak Otomatis Naik Kelas
upshoot-47
Trofeo PGRI Banjarnegara Dibuka, PGRI Bawang dan PGRI Mandiraja Unggul
WhatsApp Image 2026-10-09 at 11.47
Murid SMAN 1 Sigaluh Pamer Karya Batik Shibori
WhatsApp Image 2026-10-09 at 05.20
20 Tim Sepak Bola Guru dan Tendik Ikuti Trofeo PGRI Banjarnegara
WhatsApp Image 2026-10-08 at 12.42
Perawatan Wajah Penting, Riasan Menor Jangan di Sekolah