Priyanto, S.Pd.I, M.Pd.I
Kabid Pembinaan SMP
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga
APA yang terjadi ketika sebuah warisan budaya turun dari lemari museum dan masuk ke ruang kelas? Pertanyaan itu penting bagi Purbalingga setelah Batik Naga Tapa ditetapkan dan diluncurkan sebagai batik khas Kabupaten Purbalingga dalam rangkaian peringatan Hari Batik Nasional 2025. Pemerintah daerah mendorong Naga Tapa untuk diperkenalkan dan digunakan lebih luas, termasuk sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif.
Momentum tersebut semestinya tidak berhenti pada seremoni. Sebab, sebuah identitas budaya tidak akan hidup hanya karena ditetapkan melalui kebijakan. Ia membutuhkan ruang untuk dikenali, digunakan, dipahami, dan diwariskan.
Sekolah adalah salah satu ruang itu. Namun, ada pertanyaan lain yang sama pentingnya: bisakah batik menjadi identitas sekolah sekaligus tetap terjangkau bagi keluarga? Di antara dua pertanyaan itulah masa depan seragam batik Purbalingga layak dibicarakan.
Dari Selembar Kain Menjadi Cerita
Batik Naga Tapa memiliki cerita yang panjang. Kajian Universitas Negeri Yogyakarta mencatat bahwa motif Naga Tapa Purbalingga dibuat sekitar 1940 oleh Nyonya Soegiarti. Motifnya memadukan unsur naga, bangunan, dampar, gajah, burung, bajing, harimau, kijang, kumbang, pohon hayat, dan tumbuhan.
Penelitian tersebut juga mencatat makna simbolik Naga Tapa yang berkaitan dengan kesaktian, kekuasaan, dan kekuatan. Pada masa lalu, motif tersebut digunakan oleh pejabat Purbalingga ketika bertugas.
Di sini kita menemukan sesuatu yang menarik. Motif yang dahulu berkaitan dengan lingkungan tertentu kini memiliki kesempatan untuk hadir lebih luas sebagai identitas daerah. Namun, memperluas penggunaan tidak cukup hanya dengan mencetak motif pada kain.
Generasi muda perlu mengetahui mengapa motif itu penting. Mereka perlu memahami bahwa di balik sebuah motif terdapat sejarah, simbol, kreativitas, keterampilan, dan kerja manusia.
Karena itu, ketika seorang siswa mengenakan batik Purbalingga, yang dikenakan sesungguhnya bukan hanya kain. Ada cerita daerah yang ikut dibawa.
Sekolah Sebagai Ruang Pewarisan
Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober memberi kita momentum untuk memikirkan kembali cara melestarikan batik. Pelestarian tidak cukup dilakukan dengan mengenakan batik satu hari dalam setahun. Budaya akan lebih mudah bertahan jika menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Sekolah memiliki posisi strategis dalam proses itu. Di sekolah, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dan identitas. Karena itu, seragam batik dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pakaian.
Ketika Batik Naga Tapa digunakan sebagai bagian dari identitas sekolah, guru dapat membawa siswa menelusuri sejarah motifnya. Pembelajaran seni dapat membicarakan komposisi dan simbol. IPS dapat membahas kehidupan perajin dan rantai ekonomi.
Pembelajaran bahasa dapat mengajak siswa menulis kisah di balik motif. Teknologi dapat digunakan untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan batik lokal.
Dengan cara itu, batik menjadi bahan belajar yang hidup. Siswa tidak sekadar diperintahkan mencintai budaya. Mereka diberi kesempatan untuk mengenal dan memahami budaya yang berada di dekat mereka.
Identitas Jangan Menjadi Beban
Namun, gagasan yang baik tetap harus berhadapan dengan kenyataan. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Karena itu, jika seragam batik hendak dikembangkan sebagai identitas sekolah, keterjangkauan harus menjadi bagian dari desain kebijakan sejak awal, bukan dipikirkan setelah produk selesai dibuat.
Di sinilah sering muncul anggapan bahwa melestarikan budaya berarti harus menggunakan produk yang mahal. Padahal, tidak demikian. Batik sekolah tidak harus menjadi busana eksklusif.
Yang dibutuhkan adalah produk dengan identitas yang kuat, kualitas yang layak, desain yang fungsional, dan harga yang masuk akal.
Desain yang sederhana dapat menekan biaya. Standardisasi ukuran dapat mengurangi kesalahan produksi. Pemesanan dalam skala tertentu dapat meningkatkan efisiensi. Pemilihan bahan yang sesuai dapat menjaga keseimbangan antara kualitas dan harga.
Dengan demikian, keterjangkauan bukan berarti mengorbankan budaya. Justru keterjangkauan membuat budaya memiliki kesempatan untuk dimiliki lebih banyak orang.
Seragam dan Ekonomi Lokal
Ada alasan lain mengapa pembicaraan tentang seragam batik tidak boleh berhenti pada sekolah dan keluarga: perajin. Batik adalah produk budaya sekaligus produk ekonomi.
Di balik selembar kain terdapat pengetahuan dan keterampilan yang tidak lahir dalam sehari. Ketika pasar tersedia, keterampilan itu mempunyai alasan untuk terus dipertahankan dan diwariskan.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga sendiri telah mendorong pengembangan batik melalui berbagai kegiatan. Dalam rangka Hari Batik Nasional 2025, misalnya, lomba desain motif diikuti 90 peserta. Salah satu kategorinya khusus mengangkat pola klasik Naga Tapa. Desain terpilih diarahkan untuk disempurnakan agar dapat diproduksi di sentra-sentra batik Purbalingga.
Ini menunjukkan bahwa pelestarian dan pengembangan batik dapat berjalan bersama. Sekolah dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem tersebut.
Jika kebutuhan seragam sekolah dapat terhubung secara sehat dengan perajin dan pelaku usaha lokal, belanja seragam tidak hanya menghasilkan pakaian bagi siswa. Ia juga dapat menciptakan permintaan terhadap produk daerah.
Namun, hubungan itu harus dibangun dengan prinsip yang adil. Sekolah membutuhkan kualitas. Keluarga membutuhkan harga yang terjangkau. Perajin membutuhkan harga yang memungkinkan mereka tetap berproduksi dan memperoleh penghasilan yang layak.
Karena itu, tujuan akhirnya bukan sekadar seragam termurah, melainkan seragam yang memberikan nilai terbaik bagi semua pihak.
Dari Memakai Menjadi Memiliki
Ada perbedaan antara memakai dan memiliki. Seorang siswa dapat mengenakan Batik Naga Tapa karena aturan sekolah. Namun, belum tentu ia memahami bahwa motif tersebut merupakan bagian dari sejarah daerahnya.
Rasa memiliki lahir dari pengetahuan. Karena itu, penggunaan batik sebagai seragam idealnya diikuti dengan pengenalan budaya.
Sekolah dapat mengajak siswa berdialog dengan perajin, mengunjungi sentra batik, mendokumentasikan motif, atau membuat proyek sederhana tentang sejarah Batik Naga Tapa.
Dengan begitu, siswa tidak hanya menjadi konsumen budaya. Mereka menjadi bagian dari proses pewarisan budaya. Inilah yang membedakan pelestarian yang bersifat seremonial dengan pelestarian yang berkelanjutan.
Naga Tapa Untuk Generasi Berikutnya
Purbalingga memiliki modal penting: sebuah motif dengan sejarah, makna, dan identitas yang kuat. Tantangannya sekarang adalah membuat identitas itu relevan dengan kehidupan generasi muda.
Batik Naga Tapa tidak harus tetap berada dalam bentuk yang sama seperti masa lalu. Nilai dan identitasnya perlu dijaga, sementara cara menghadirkannya dapat terus berkembang. Di sinilah pendidikan memiliki peran.
Sekolah dapat menjadi tempat bertemunya sejarah dengan masa depan. Di satu sisi, siswa mengenal warisan daerahnya. Di sisi lain, mereka belajar bahwa budaya bukan benda mati yang hanya disimpan, melainkan sesuatu yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.
Seragam batik dapat menjadi langkah kecil menuju ke sana. Namun, langkah itu harus dirancang dengan hati-hati. Jangan sampai identitas budaya justru menjadi sumber beban bagi keluarga. Jangan pula upaya menekan harga membuat perajin kehilangan ruang untuk berkembang.
Yang dibutuhkan adalah titik temu: batik yang memiliki karakter, seragam yang berkualitas, harga yang terjangkau, perajin yang memperoleh ruang hidup, dan siswa yang memahami apa yang mereka kenakan.
Hari Batik dan Masa Depan Identitas
Hari Batik Nasional seharusnya tidak hanya mengajak kita bertanya, “Batik apa yang kita pakai hari ini?” Pertanyaan yang lebih jauh adalah: batik apa yang akan dikenal anak-anak kita sepuluh atau dua puluh tahun mendatang?
Jawabannya tidak hanya ditentukan oleh perajin atau pemerintah. Sekolah juga memiliki peran.
Jika Batik Naga Tapa hadir di lingkungan pendidikan, diperkenalkan sejarahnya, dipahami maknanya, diproduksi dengan standar yang baik, dan dapat dibeli dengan harga yang terjangkau, sebuah kebijakan seragam dapat memiliki arti yang jauh lebih besar.
Ia menjadi jembatan antara budaya dan pendidikan, antara generasi sekarang dan generasi berikutnya, serta antara perajin dan pasar. Ia juga menjadi penghubung antara identitas daerah dan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelestarian batik bukan semata-mata seberapa sering kita mengenakannya.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah generasi muda mengenal cerita di balik motifnya, menghargai tangan yang membuatnya, mampu membelinya, dan merasa bangga menjadikannya bagian dari identitas mereka.
Bagi Purbalingga, cerita itu dapat dimulai dari Naga Tapa. Dari selembar kain yang membawa sejarah. Dari seragam yang dikenakan anak-anak setiap minggu. Dan dari keyakinan sederhana bahwa budaya yang diwariskan dengan baik adalah budaya yang mampu hidup di tengah generasi yang terus berubah.(*)