
BANJARNEGARA, EDUKATOR — Sebanyak 180 murid kelas V dan VI SDN 1 Krandegan mengikuti Panen Raya Ecoenzym di halaman sekolah, Kamis (1/10/2026). Mereka memanen ratusan liter ecoenzym yang dibuat dari limbah kulit buah, terutama sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG), setelah difermentasi selama tiga bulan. Kegiatan ini menjadi pengalaman pembelajaran lingkungan yang nyata sekaligus upaya sekolah mengolah limbah organik menjadi produk bernilai guna.
Kepala SDN 1 Krandegan, Slamet Sugiyanto, mengatakan panen ecoenzym menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi murid karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut juga menjadi salah satu solusi sekolah dalam mengolah limbah kulit buah yang dihasilkan dari program MBG.
“Ini menjadi solusi mengolah limbah kulit buah MBG,” katanya di hadapan tamu yang hadir, diantaranya Korwilcandikpora Banjarnegara, pengawas TK/SD, serta dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Banjarnegara..
Ecoenzym merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik, seperti kulit buah dan sayuran, dengan campuran gula dan air. Hasil fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain membantu membersihkan lingkungan, mengurangi bau, serta mendukung perawatan tanaman setelah digunakan dengan cara yang tepat.
Lebih dari itu, pembuatan ecoenzym menjadi media pembelajaran bagi murid untuk memahami pemilahan dan pengelolaan sampah organik. Sampah yang sebelumnya dibuang dapat dimanfaatkan kembali sehingga mendukung upaya pengurangan dan pemanfaatan kembali limbah.
Sampah MBG Diolah Menjadi Produk Bermanfaat
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) Banjarnegara, Herrina Indri Hastuti, yang diwakili Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DPKPLH, Yuni Amin, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pengolahan kulit buah menjadi ecoenzym menunjukkan kepedulian murid terhadap lingkungan sekolah.
“Murid menunjukkan kepedulian nyata terhadap lingkungan sekolah,” ujar Yuni.
Menurut Yuni, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sampah kulit buah tidak selalu menjadi limbah yang tidak berguna. Dengan pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat menghasilkan ecoenzym yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
“Kulit buah dapat diolah menjadi ecoenzym bermanfaat,” katanya.
Ia menyebutkan, ecoenzym dapat dimanfaatkan untuk membantu pemupukan tanaman, mencuci piring, serta membantu mengurangi persoalan lingkungan tertentu. Namun, pemanfaatannya perlu dilakukan secara tepat sesuai kebutuhan.
Kegiatan tersebut sekaligus memberikan pengalaman kepada murid bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Murid belajar mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
PLN Indonesia Power Dukung Gerakan Peduli Lingkungan
Officer Community Development PT PLN Indonesia Power (PLN IP) Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica, Condro Budiarto, yang turut menghadiri Panen Raya Ecoenzym, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan berbasis lingkungan tersebut.
Menurut Condro, kegiatan itu menunjukkan kemampuan murid dalam menyikapi dan mengelola sampah organik maupun anorganik secara tepat.
“Kami bahagia melihat kepedulian lingkungan para murid,” ungkap Condro.
Ia berharap kebiasaan menjaga lingkungan tersebut terus dibawa murid dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga didorong untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menjadi pelopor kebersihan di lingkungan masing-masing.
“Jadilah pionir menjaga kebersihan di mana pun berada,” pesannya.
Pembelajaran Mendalam Berbasis Kehidupan Nyata
Pembuatan hingga panen ecoenzym memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan kurikulum saat ini. Murid tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga belajar melalui praktik langsung atau pengalaman di lapangan.
Pengalaman tersebut sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam yang menekankan pengalaman belajar kontekstual dan dekat dengan kehidupan murid.
Dari Sampah Menjadi Media Edukasi
Pembuatan ecoenzym di SDN 1 Krandegan tidak hanya berorientasi pada hasil cairan fermentasi. Kegiatan tersebut juga mengajarkan murid tentang pentingnya mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Melalui kegiatan ini, murid belajar bahwa kulit buah dan sisa bahan organik lainnya masih dapat dimanfaatkan. Proses tersebut sekaligus mengenalkan prinsip ekonomi sirkular, yakni memanfaatkan kembali bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. (Heni Purwno/Prs)
Ecoenzym juga menjadi sarana edukasi untuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan. Murid diajak memahami bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah.
Panen Raya Ecoenzym akhirnya bukan sekadar kegiatan memanen hasil fermentasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi contoh pembelajaran berbasis pengalaman yang menghubungkan kurikulum dengan persoalan nyata di lingkungan sekolah.
Dari kulit buah sisa MBG, murid belajar mengolah sampah, menjaga lingkungan, bekerja sama, sekaligus menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak usia sekolah.