Collective Art Exhibition “Wahyu Tumurun” Pamerkan 33 Karya Lukis dan Batik

Bagikan :

*Digelar di Hotel 1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro hingga 2 Desember

Salah satu karya yang dipamerkan, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

YOGYAKARTA, EDUKATOR—Sebanyak 33 karya lukis dan batik dari 25 seniman berbagai daerah dipamerkan dalam Collective Art Exhibition “Wahyu Tumurun” di Hotel 1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro. Pameran yang digelar bertepatan dengan Hari Batik Nasional 2026 itu menawarkan pengalaman berbeda . Pasalnya,  karya seni tidak hanya ditempatkan di ruang pamer, tetapi hadir di tengah aktivitas para tamu hotel.

Pameran dibuka Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, Jumat (2/10/2026), di area lobby Hotel 1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro, dan akan  berlangsung selama dua bulan hingga 2 Desember 2026 mendatang.

Waikota Yogya, Wawan Harnawan saat membuka  Collective Art Exhibition “Wahyu Tumurun” di Hotel 1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro.

Mengusung inspirasi motif batik klasik Keraton Jawa, “Wahyu Tumurun” membawa pesan tentang turunnya anugerah, petunjuk, berkah, dan kebahagiaan dari Tuhan kepada manusia. Makna tersebut diterjemahkan melalui karya lukis dan batik dengan beragam narasi, mulai dari alam, kehidupan, keindahan, budaya hingga spiritualitas.

Walikota Yogyakarta Wawan Harnawan bersama management Hotel 101 STYLE Yogyakarta Malioboro , pengusaha dan seniman.

Seni Hadir Di Tengah Aktivitas Hotel
Hotel Manager 1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro, AR Atik Damarjati, mengatakan pameran tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman budaya yang lebih autentik bagi para tamu selama berada di Yogyakarta.

“Pameran ini menjadi bentuk komitmen melestarikan budaya Indonesia,” ujar Atik.

Menurut dia, penyelenggaraan pameran juga menjadi bagian dari upaya memberikan pengalaman terbaik kepada tamu. Karya para seniman ditempatkan di sejumlah ruang hotel, mulai dari lobby, lantai dua, hingga Amerta Restaurant.

Salah satu karya yang dipamerkan

Konsep tersebut membuat seni tidak lagi hanya ditemui di galeri atau ruang pamer khusus. Para tamu dapat menikmati karya seni sembari menjalankan aktivitas sehari-hari di lingkungan hotel.

Dengan demikian, seni menjadi bagian dari pengalaman tamu hotel. Karya-karya yang dipajang tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga mengajak pengunjung berinteraksi dengan nilai budaya dan ekspresi seni selama berada di hotel.

Front Office Manager 1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro, M. Alkahfi Siddik, menilai lobby memiliki posisi penting dalam konsep tersebut. Sebagai pusat aktivitas dan interaksi, lobby menjadi ruang pertama yang memberikan kesan kepada tamu ketika memasuki hotel.

“Lobby menjadi ruang penting dalam menciptakan kesan pertama,” kata M. Alkahfi.

Konsep tersebut sejalan dengan tujuan pameran yang menempatkan seni sebagai bagian dari keseharian. Pameran “Wahyu Tumurun” mempertemukan warisan budaya dengan ruang modern dan menjadikan karya seni sebagai bagian dari pengalaman para tamu.

Dari Tradisi Keraton Hingga Ekspresi Kekinian
Dalam katalog pameran menyebut “Wahyu Tumurun” sebagai motif batik klasik Keraton Jawa yang mengandung makna anugerah, petunjuk, berkah, dan kebahagiaan. Pameran ini bertumpu pada tiga gagasan utama, yakni pelestarian warisan budaya, dialog estetika, dan pemanfaatan ruang secara harmonis.

Melalui pertemuan lukisan dan batik, pameran menghadirkan beragam cara seniman menerjemahkan alam, kehidupan, keindahan, dan spiritualitas. Tradisi batik pun tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berhenti pada bentuk masa lalu, melainkan terus berkembang melalui kreativitas para seniman.

Orasi kebudayaan 
Sementara itu saat  pembukaan pameran ada orasi budaya  yang disampaikan Prof. Dr. M. Baiquni, MA, Guru Besar Universitas Gadjah Mada “Pameran sebagai ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, tradisi dan kreativitas, serta warisan leluhur dan harapan masa depan,” ujarnya.

Menurut Baiquni, karya seni dapat dibaca sebagai peta pengalaman manusia. Lukisan dan batik merekam identitas budaya, hubungan manusia dengan alam, dinamika masyarakat, hingga harapan tentang masa depan.

“Tradisi bertahan karena mampu beradaptasi dengan zaman,” ujarnya.

Beragam Karya, Beragam Cerita
Dalam pameran ini, keragaman karya ditampilkan, diantarnya ada “My Mother House” karya Kusbudiyanto, “Kenangan di Jogja” karya Irwan Sukendra, “Kembang Setaman” karya Sithowati Sandrarini, serta “Titik Temu” karya Drajat Nurangkoso.

Ada pula “Purnama di Samudra” karya Tulus Warsito, “Nusantara” karya Rina Istriastuti, “Hanya di Secangkir Kopi” karya Yayan Suherlan, dan “Semar” karya Acep Zamzam Noor.

Karya lainnya  “Traditional Culture” karya Rendra Santana, “Keluarga Gunung” karya Tono Hartono, “Gadis dan Bunga” karya Dwi Retno Sri Ambarwati, serta “Keluarga Kucing” karya Sismarmanto Soewardjo.

Sementara itu, karya seperti “Hutan” karya Prof. Noer Ilman, “Camar” karya Sudjadijono, dan “Best Friends” karya Endang Apriyanto memperlihatkan penggunaan medium yang beragam, dari lukisan hingga batik pada kain.

Karya-karya lainnya yang juga menarik, diantaranya  “My Hero (Jagoanku)” karya Kusbudiyanto, “Circle of Humanity” karya Aruman, “Walyatalatthaf” karya Rispul, serta “Harmoni” karya Liliek.

Selanjutnya  “Bergerak” karya Hanang Banyu Sabrang, “Suku Asmat” karya Heri Susanto, “Dzikrulloh” karya Anwar Sanusi, dan “Pohon Terakhir” karya Yayan Suherlan turut memperkaya ragam ekspresi dalam pameran.

Juga ada  “WOS WUTAH-Doa Kelimpah” karya Gatut Yuwono, “Taman Budaya Embung Giwangan” karya Sindu Cutter, “Tugu Jogja” karya Ikman Mudzakir, serta “Krakatau Eruption 2026” karya M. Baiquni.

Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa tema “Wahyu Tumurun” tidak diterjemahkan secara tunggal. Setiap seniman memiliki cara masing-masing dalam mengolah gagasan, medium, bentuk, warna, serta pengalaman personal menjadi karya seni.

Pada akhirnya, pameran ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang memberikan manfaat bagi seniman, hotel, dan masyarakat. Seni sekaligus menjadi medium untuk kembali mengenali nilai-nilai luhur warisan leluhur di tengah kehidupan modern.

Penyelenggaraan “Wahyu Tumurun” menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan di ruang tradisional. Ketika batik dan seni rupa hadir di ruang hotel, warisan budaya dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat dan generasi masa kini.(Harta Nining Wijaya/Prs)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp-Image-2026-10-03-at-18.31
Diikuti 568 Peserta, Inilah Hasil Kejuaraan Lomba MAPSI SD XXVII Purbalingga
WhatsApp Image 2026-10-03 at 20.02
PGRI Banyumas Raya Desak Pemerintah agar Akses Kesejahteraan Guru Dipermudah
FULAD6
Lapas Cibinong: Ketika Di Atas Tidak Ada Allah, Di Bawah Tidak Ada Tanah
WhatsApp Image 2026-10-03 at 18.52
Collective Art Exhibition “Wahyu Tumurun” Pamerkan 33 Karya Lukis dan Batik
Screenshot 2026-10-02 184039
Urus Adminduk Tak Perlu Antre, Ada OPTIMA