*Cegah Perundungan di Sekolah

SEMARANG,EDUKATOR–Inovasi digital untuk mencegah perundungan karya guru SMP Negeri 17 Semarang, Tukijo, S.Pd., M.Pd., meluas ke empat sekolah di Jawa Tengah. Aplikasi yang diberi nama SI INDUNG (Sistem Informasi Perlindungan Anak dan Anti Perundungan) itu, kini direplikasi atau diterapkan kembali di empat SMP lain dengan mengacu pada model, sistem, atau inovasi yang sudah ada.
Empat sekolah tersebut terdiri SMP Negeri 2 Bawen, SMP Negeri 2 Bringin, SMP Negeri 23 Semarang, dan SMP Negeri 9 Salatiga.
Replikasi lintas kabupaten/kota tersebut menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari sekolah negeri mampu menjawab kebutuhan pendidikan saat ini, khususnya dalam upaya mencegah perundungan berbasis data.
SI INDUNG Jawab Tantangan Sekolah Aman
“Aplikasi SI INDUNG dikembangkan selaras dengan amanat Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Bersekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Regulasi tersebut menekankan pentingnya pencegahan perundungan, perundungan siber, kekerasan, serta penguatan keadaban digital di lingkungan sekolah,” ujar Tukijo kepada EDUKATOR di SMPN 17 Semarang, Selasa (6/10/2026)..
SI INDUNG dirancang sebagai aplikasi yang sederhana, ringan, dan ramah pengguna. Sistem tersebut memiliki tiga fitur utama yang mendukung upaya sekolah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Fitur pertama adalah edukasi, yang menyediakan materi interaktif mengenai jenis-jenis perundungan, perundungan siber, dampak psikologis, serta etika dan keadaban digital bagi murid.
Fitur kedua berupa pelaporan yang aman dan terlindungi. Melalui fitur ini, murid dapat menyampaikan laporan tanpa khawatir identitasnya tersebar. Sistem dirancang untuk menjaga kerahasiaan pelapor maupun korban.
Selanjutya fitur ketiga berupa statistik dan analisis hasil. Kepala sekolah dan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) dapat melihat peta kasus, tren, serta rekapitulasi secara otomatis. Data tersebut dapat digunakan sebagai dasar mengambil kebijakan secara cepat dan tepat.
Empat Sekolah Siap Terapkan Inovasi
Sebelum diterapkan di sekolah replikator, tim pengembang bersama empat sekolah tersebut menggelar Webinar Penguatan dan Replikasi Aplikasi SI INDUNG. Kegiatan membahas alur penggunaan aplikasi, pengelolaan akun TPPK, hingga komitmen menjaga keberlanjutan program.
Kepala SMP Negeri 17 Semarang Yustina Kusumawati, S.Pd., M.Pd menegaskan bahwa SI INDUNG bukan sekadar aplikasi, melainkan gerakan bersama untuk mencegah perundungan dan membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.
“SI INDUNG menjadi gerakan kolektif mencegah bullying,” tegasnya.
Menurutnya, aplikasi tersebut dirancang dengan pendekatan pentahelix yang melibatkan murid, guru, orang tua, kepala sekolah, dan komite sekolah. Inovasi itu juga akan diajukan kepada Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Semarang sebagai Inovasi Daerah Kota Semarang Tahun 2026.
Dukungan senada juga disampaikan empat kepala SMP yang menjadi replikator. Yakni SMP Negeri 2 Bawen, SMP Negeri 2 Bringin, SMP Negeri 23 Semarang, dan SMP Negeri 9 Salatiga.
Dari Inovasi Sekolah Menjadi Gerakan Bersama
Direplikasinya SI INDUNG oleh empat sekolah sekaligus memperkuat posisi SMP Negeri 17 Semarang sebagai salah satu penggerak inovasi pendidikan dalam pencegahan perundungan.
Inovasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai program di satu sekolah. Lebih jauh, SI INDUNG diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama untuk membangun sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Melalui pemanfaatan teknologi dan data, upaya pencegahan perundungan, perundungan siber, serta kekerasan diharapkan dapat dilakukan secara lebih sistematis, terukur, dan preventif.
Gerakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong Jawa Tengah sebagai pelopor Sekolah Aman, Nyaman, dan Menyenangkan yang bebas dari bullying, cyberbullying, dan kekerasan. (Prasetiyo)