Mahasiswa Jangan Hanya Menjadi Konsumen Konten

Bagikan :

*Diskusi Publik Awali Rangkaian Dafest ke-29 UIN Saizu

Sesi foto bersama narasumber dan peserta diskusi publik dalam rangkaia Dafest ke 29 UIN Saizu Purwokerto. 

PURWOKERTO, EDUKATOR–Di tengah derasnya arus informasi digital, mahasiswa jangan hanya menjadi konsumen konten, tetapi didorong tampil sebagai produsen konten positif. Peran tersebut dinilai penting untuk membangun ekosistem digital yang sehat, sekaligus memastikan media sosial dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai edukatif, keislaman, dan kebangsaan.

Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertema “Penguatan Ekosistem Digital yang Sehat: Peran Komunikasi Publik Generasi Muda Indonesia”, di Auditorium Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Senin (5/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi pembuka rangkaian Dakwah Anniversary Festival (Dafest) ke-29.

Diskusi dalam rangka memperingati Hari Jadi Fakultas Dakwah UIN Saizu tersebut menghadirkan Dr. Edi Santoso, S.Sos., M.Si., dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed; Nur Azizah, S.Sos.I., M.Si., akademisi sekaligus Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Saizu; serta M. Irfan Bahtiar, pegiat media sosial dan Founder Info Purwokerto, sebagai narasumber.

Diskusi dipandu M. Rifqi Atsani, M.Kom., sebagai moderator. Sedangkan Dekan Fakultas Dakwah UIN Saizu, Prof. Dr. Muskinul Fuad, M.Ag. memberikan penguatan mengenai pentingnya peran mahasiswa di ruang digital.

Jangan Hanya Menjadi Konsumen Konten
Prof  Muskinul Fuad  mengingatkan kepada mahasiswa agar mengambil peran aktif di ruang digital. Generasi muda tidak cukup hanya menikmati atau membagikan konten, tetapi perlu menghasilkan konten yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mahasiswa juga didorong tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam memproduksi maupun menyebarkan konten di ruang digital.

“Generasi muda harus menjadi produsen konten positif,” pesannya

Media Sosial Makin Lekat Dalam Keseharian
Moderator diskusi, M. Rifqi Atsani mengawali pembahasan dengan menyoroti semakin lekatnya media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi membuat akses terhadap informasi dan komunikasi menjadi semakin mudah.

Mennggapi itu, Edi Santoso menegaskan ruang digital tidak dapat diabaikan. Tingginya penetrasi internet di Indonesia menunjukkan masyarakat semakin bergantung pada perangkat digital.

Bahkan, angka kepemilikan gadget di Indonesia telah berada di atas 100 persen. Kondisi tersebut menunjukkan adanya masyarakat yang memiliki lebih dari satu perangkat.

Berpotensi Menjadi Korban Penipuan Digital
Di balik tingginya penggunaan teknologi, terdapat paradoks yang perlu mendapat perhatian. Akses terhadap teknologi digital belum selalu berbanding lurus dengan kecakapan penggunanya.

Edi Santoso mengungkapkan bahwa persoalan keamanan digital juga perlu mendapat perhatian serius. Generasi muda yang selama ini dianggap lebih cakap menggunakan teknologi tetap berpotensi menjadi korban penipuan digital.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan keterampilan digital, bukan hanya kemampuan mengoperasikan perangkat dan mengakses media sosial.

Edi Santoso juga menegaskan pentingnya peran generasi muda karena kelompok tersebut menjadi salah satu pengguna terbesar media digital dalam keseharian.

Generasi muda perlu mempersiapkan diri menghadapi banjir informasi yang bergerak cepat dan masif. Mereka juga diingatkan agar tidak terjebak dalam algoritma media sosial yang dapat memengaruhi perilaku pengguna.

“Pengguna kerap secara sukarela mengunggah konten demi mendapatkan perhatian dan menjadi viral. Padahal, algoritma media sosial ditentukan oleh pemilik platform. Untuk itu, jangan sampai algoritma mengendalikan perilaku kita,” tegasnya.

Verifikasi Sebelum Membagikan Informasi
Senada dengan Edi Santoso, pegiat media sosial dan Founder Info Purwokerto, M. Irfan Bahtiar, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak keinginan menjadi orang pertama yang membagikan informasi. Setiap informasi yang diterima perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum disebarluaskan.

“Jangan terburu-buru membagikan informasi yang diterima,” pesannya.

Ia juga mendorong pengguna untuk aktif melaporkan informasi yang dinilai tidak sesuai. Dengan demikian, pengguna tidak hanya menjadi penonton ketika menemukan kekeliruan yang beredar di ruang digital.

Peluang dan Tantangan
Narasumber lainnya yang juga Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Saizu, Nur Azizah menambahkan, media digital memiliki peluang sekaligus tantangan. Jika dimanfaatkan secara tepat, ruang digital dapat digunakan untuk membangun personal branding, menggerakkan aksi sosial, hingga meningkatkan sektor ekonomi.

Namun, berbagai risiko juga mengiringinya. Eksploitasi data pribadi, perundungan siber atau cyberbullying, disinformasi, dan hoaks menjadi sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai.

Karena itu, pengguna media digital didorong memanfaatkan teknologi untuk membangun, menguatkan, dan mengedukasi sesama. Media digital hendaknya tidak digunakan untuk melukai, mempermalukan, maupun memprovokasi orang lain.

“Gunakan media digital untuk membangun sesama,” pesannya.

Diskusi publik dalam rangkaian Dafest ke-29 tersebut menegaskan bahwa sehatnya ekosistem digital tidak hanya bergantung pada teknologi. Kecakapan dan tanggung jawab pengguna, khususnya mahasiswa dan generasi muda, menjadi faktor penting agar ruang digital berkembang sebagai sarana edukasi, pemberdayaan, dan penyebaran konten positif. .(Bayu Rizqi Sutanto/Prs)

 

BERITA TERKINI

FAUZI MERAH
Ketika Murid Takut Salah, Kelas Kehilangan Keberanian
WhatsApp Image 2026-10-06 at 13.37
Penyalahgunaan Narkoba Masih Tinggi, Kurikulum Anti Narkoba Diperkuat
WhatsApp Image 2026-10-06 at 07.10
SI INDUNG SMPN 17 Semarang Karya Tukijo Direplikasi Empat SMP
WhatsApp Image 2026-10-06 at 15.35
Nurul ‘Ilmi SDN Galor 2 Siap Melaju Kembali ke Tingkat Provinsi Jateng
Screenshot 2026-10-06 213052
718 Calon Pramuka Garuda Kwarran Bukateja Jalani Visitasi