
Suasana diskusi film “Judheg” di Kedai Pojok Taman Kota, Purbalingga, Selasa (06/10/2026).
PURBALINGGA, EDUKATOR — Judheg, sebuah film layar lebar berdialek Banyumasan atau Ngapak yang membongkar luka sosial pedesaan di Purbalingga, diputar dan menjadi bahan diskusi menarik, dihadiri langsung sutradara dan pemainnya.
“Ini pertama kalinya Judheg diputar terbuka untuk publik di Purbalingga,” ujar Misya Latief, sutradara film Judheg di Kedai Pojok Taman Kota, Purbalingga, Selasa (06/10/2026).

Potret Perempuan di Tengah Tekanan Sosial
Misya, yang berasal dari Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Purbalimngga mengatakan, Judheg terinspirasi dari berbagai persoalan sosial yang ia lihat di lingkungan pedesaan. Film tersebut mengangkat kemiskinan, pernikahan dini, jeratan rentenir, kekerasan dalam rumah tangga, degradasi moral, serta berbagai problem sosial lainnya.
“Saya ingin film ini menggugah empati penonton,” kata Misya.
Film berdurasi 117 menit itu berkisah tentang Warti (Darti Yatimah), gadis berusia 16 tahun yang telah menjadi ibu muda. Dalam tekanan kemiskinan, Warti berjuang merawat dan menyusui bayinya, Cahyo (Adzfar AI Kautsar).
Namun, tekanan hidup, stres, dan kondisi gizi buruk membuat ASI Warti tidak keluar. Di sisi lain, suaminya, Supri (Sigit Blewuk), yang menganggur justru terjerumus dalam judi online, mabuk-mabukan, dan kekerasan dalam rumah tangga.
Warti juga bekerja sebagai pengrajin bulu mata palsu sambil mengasuh anaknya. Kondisi tersebut mendorongnya mengambil keputusan besar untuk menentukan masa depan dirinya dan sang buah hati.
“Warti harus memilih bertahan atau meninggalkan rumah tangga,” jelas Misya.
Luka Perempuan Dan Harapan Perubahan
Menurut Misya, Judheg tidak sekadar menghadirkan kisah rumah tangga yang penuh persoalan. Film itu juga menggambarkan bagaimana tubuh perempuan menyimpan luka sosial dan emosional, sekaligus menunjukkan daya hidup untuk bangkit dari keterpurukan.
“Film ini memotret perempuan muda kehilangan masa remajanya,” ujarnya.
Film produksi Rekam Films tersebut tercatat sebagai film panjang pertama dari Purbalingga atau Banyumas Raya yang menggunakan Bahasa Jawa dialek Banyumasan (Ngapak). Seluruh pemain dan kru juga berasal dari wilayah Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara.
Sebelumnya, Judheg dengan judul internasional Penat atau Worn Out telah diputar dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 pada 2025. Film tersebut berkompetisi dalam program Indonesian Screen Awards.
Penonton Dorong Pemutaran Keliling
Salah seorang penonton, Sidik Nur Rahmat, mengapresiasi film tersebut dan mendorong agar Judheg diputar di berbagai wilayah Purbalingga.
“Film ini bagus untuk menyadarkan persoalan sosial pedesaan,” katanya.
Menurut Sidik, pemutaran Judheg dapat menjadi sarana sosialisasi sekaligus membuka kesadaran masyarakat terhadap persoalan yang benar-benar terjadi di pedesaan Purbalingga. Film tersebut juga dinilai dapat mendorong berbagai pemangku kepentingan untuk ikut mencari solusi.
Sementara itu, Sigit Nurmianto alias Sigit Blewuk, pemeran Supri, berharap Judheg memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Semoga tidak ada lagi Supri dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Ia juga berharap masyarakat semakin menyadari bahwa pernikahan dini memiliki risiko besar bagi kehidupan keluarga dan masa depan anak.
Film Sebagai Media Literasi
Penggagas acara, Gunanto Eko Saputro, berharap diskusi dan pemutaran film semacam itu dapat dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari budaya literasi masyarakat.
“Diskusi film bisa menjadi budaya literasi yang baik,” kata Gunanto.
Misya juga membuka kesempatan bagi berbagai komunitas untuk mengundang dirinya dalam kegiatan diskusi dan pemutaran Judheg. Ia menyatakan film tersebut dapat diputar secara gratis sebanyak mungkin.
“Semoga film ini menggerakkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” pungkas Misya. (*/Prasetiyo)