
Suasana praktik membuat Batik Sibhori
BANJARNEGARA, EDUKATOR–Murid-murid SMAN 1 Sigaluh tampak sibuk melipat gulungan kain mori putih. Setelah dilipat, kesibukan mereka berubah menjadi mengikat dengan tali karet dan juga tali rafia. Sesudahnya mereka mencelup kain-kain tersebut dengan pewarna sintetis Remasol.
Usai diwarnai, kain tersebut dikeringkan di tembok kelas, lantai maupun tali jemuran yang dibuat dari rafia.
Hal itu merupakan gambaran dari praktik Kokurikuler batik Shibori yang digelar Rabu (7/10/2026).

Proses mengeringkan Batik Sibhori
Teknik Sederhana, Kreativitas Tanpa Batas
Instruktur dari Rapakem Handcraft Gumiwang, Yuli Sadarmi, mengatakan batik Shibori relatif mudah dibuat. Teknik tersebut memberikan keleluasaan kepada murid untuk bereksperimen sesuai kreativitas masing-masing.
“Batik Shibori membebaskan anak bereksperimen sesuka hati,” kata Yuli.
Shibori merupakan teknik pewarnaan kain yang berasal dari Jepang. Nama Shibori berasal dari kata shiboru, yang berarti memeras atau menekan. Teknik tersebut dilakukan dengan melipat, mengikat, menjepit, atau menekan bagian tertentu pada kain sebelum dicelupkan ke pewarna.
Bagian kain yang terlipat atau terikat akan membatasi masuknya pewarna. Proses itu menghasilkan pola khas yang unik pada permukaan kain.
Menurut Yuli, teknik dasar yang digunakan dalam praktik tersebut adalah pola arkodion. Sementara pilihan warna sepenuhnya diserahkan kepada murid.
“Semakin berani bereksperimen, hasilnya akan semakin menarik,” ujarnya.
Keunggulan Shibori adalah pola terbentuk melalui teknik lipat dan ikat. Kondisi tersebut membuat murid tidak perlu terlalu khawatir apabila hasil pewarnaannya berbeda dari rencana.
“Anak tidak perlu takut salah saat mewarnai,” jelas Yuli.
Lebih Sederhana Dibanding Batik Tulis
Yuli menjelaskan, Shibori berbeda dengan batik tulis dan batik cap yang menggunakan malam dalam pembuatan motif. Pada Shibori, pembentukan pola cukup mengandalkan lipatan dan ikatan sebelum kain dicelupkan.
“Shibori cukup menggunakan lipatan dan tali,” ungkapnya.
Dari sisi proses, teknik tersebut juga relatif lebih sederhana. Kemudahan itu membuat biaya pembuatan Shibori lebih terjangkau dibandingkan teknik batik yang membutuhkan proses lebih panjang.
“Shibori lebih simpel sehingga harganya juga lebih murah,” kata Yuli.
Belajar Kreatif Melalui Pengalaman Langsung
Bagi murid, Praktik membuat batik shibori bukan sekadar praktik membuat karya seni. Mereka belajar mengikuti proses secara teliti, mulai dari melipat kain, mengikat, mencelupkan ke pewarna, hingga mengeringkannya.
Muhamad Ahyal, salah satu murid SMAN 1 Sigaluh, mengaku praktik tersebut menjadi pengalaman pertamanya membuat batik Shibori.
“Ini pengalaman pertama saya membuat batik Shibori,” ujar Ahyal.
Ia mengaku proses pembuatan Shibori cukup membutuhkan ketelitian. Namun, rasa lelah terbayar ketika melihat hasil karya yang telah selesai.
“Prosesnya cukup repot, tetapi hasilnya membuat kami puas,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, murid-murid SMAN 1 Sigaluh tidak hanya mengenal teknik pewarnaan kain dari Jepang. Mereka juga mendapat pengalaman mengembangkan kreativitas, keberanian mencoba, ketelitian, dan kepuasan menghasilkan karya sendiri. (Heni Purwono/Prs)