UKS Perlu Tenaga Kesehatan, Bukan Sekadar Kasur

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

RUANG Unit Kesehatan Sekolah (UKS) semestinya menjadi tempat yang memberi rasa aman bagi murid ketika mengalami gangguan kesehatan di sekolah. Namun, di sejumlah sekolah, keberadaan UKS masih lebih banyak dimaknai sebagai ruang istirahat sementara. Di dalamnya tersedia tempat tidur, kotak pertolongan pertama, dan beberapa perlengkapan sederhana. Ketika ada murid yang sakit, guru piketlah yang biasanya mengambil alih penanganan.

Kondisi tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Guru dan sekolah telah berusaha memberikan pertolongan sesuai kemampuan yang dimiliki. Persoalannya, apakah fasilitas dan tenaga yang tersedia sudah cukup untuk menghadapi berbagai persoalan kesehatan murid?

Bayangkan ketika seorang murid tiba-tiba pingsan saat upacara bendera. Guru yang berada di lokasi harus segera mengambil keputusan. Murid tersebut perlu mendapat pertolongan yang tepat, sementara kegiatan sekolah tetap berlangsung. Dalam situasi seperti ini, pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama sangat dibutuhkan.

Sayangnya, tidak semua guru memiliki bekal yang memadai untuk menangani keadaan darurat kesehatan. Karena itu, penguatan UKS tidak cukup dilakukan dengan melengkapi ruangan dan peralatan. Sekolah juga perlu memastikan adanya dukungan tenaga kesehatan profesional.

Guru Bukan Tenaga Medis: Perlu Pembagian Peran yang Jelas
Guru memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik, membimbing, dan membentuk karakter murid. Dalam kesehariannya, guru juga menghadapi persoalan kedisiplinan, perbedaan kemampuan belajar, dinamika pergaulan, hingga tuntutan administrasi sekolah.

Di tengah berbagai tanggung jawab tersebut, guru sering kali menjadi orang pertama yang dimintai bantuan ketika murid mengeluh sakit. Tidak jarang guru harus meninggalkan kegiatan pembelajaran untuk mengantar murid ke UKS atau menghubungi orang tuanya.

Kepedulian semacam ini patut diapresiasi. Akan tetapi, kepedulian tidak seharusnya membuat semua urusan kesehatan dibebankan kepada guru. Ada batas antara memberikan pertolongan awal dan melakukan penanganan yang membutuhkan kompetensi tenaga kesehatan.

Guru tetap perlu dibekali keterampilan pertolongan pertama. Mereka harus mengetahui langkah awal yang aman ketika menghadapi murid yang sakit atau mengalami kecelakaan. Namun, untuk pemeriksaan kesehatan, pemantauan kondisi tertentu, dan penanganan sesuai kompetensi medis, sekolah membutuhkan dukungan tenaga kesehatan profesional.

Kehadiran perawat di sekolah bukan untuk menggantikan peran guru. Sebaliknya, perawat dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman sehingga guru bisa lebih fokus menjalankan tugas pendidikan.

Program MBG Membutuhkan Pengawasan Kesehatan
Kebutuhan terhadap layanan kesehatan di sekolah semakin penting seiring dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diharapkan membantu memenuhi kebutuhan gizi anak dan mendukung tumbuh kembang mereka. Namun, keberhasilan program tidak cukup diukur dari makanan yang dibagikan setiap hari. Makanan yang disediakan juga harus aman dikonsumsi dan sesuai dengan kebutuhan murid.

Sekolah perlu memiliki mekanisme untuk mendata murid yang mempunyai alergi makanan atau kondisi kesehatan tertentu. Jika muncul keluhan setelah makan, sekolah pun harus mengetahui langkah yang tepat untuk meresponsnya.

Pengawasan keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama. Penyedia makanan, pengelola program, pihak sekolah, dan puskesmas perlu bekerja sama agar makanan yang sampai kepada murid memenuhi ketentuan keamanan pangan.

Di sinilah tenaga kesehatan dapat berperan penting. Perawat dapat membantu mendata kebutuhan kesehatan murid, memberikan edukasi mengenai kebersihan dan kesehatan, serta berkoordinasi dengan puskesmas apabila ditemukan masalah. Untuk urusan kandungan gizi dan evaluasi menu, tenaga gizi juga perlu dilibatkan sesuai kebutuhan.

Dengan demikian, MBG tidak hanya menjadi program pembagian makanan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah.

Akses Tenaga Kesehatan Harus Merata
Kondisi setiap sekolah tentu berbeda. Sekolah swasta yang memiliki sumber daya memadai mungkin mampu menyediakan perawat sendiri. Sebaliknya, sekolah negeri dan sekolah swasta kecil belum tentu memiliki anggaran untuk merekrut tenaga kesehatan secara khusus.

Perbedaan kemampuan tersebut tidak seharusnya membuat perlindungan kesehatan murid menjadi timpang. Anak-anak memiliki kebutuhan yang sama untuk memperoleh lingkungan belajar yang aman, terlepas dari sekolah tempat mereka menuntut ilmu.

Karena itu, menyediakan satu perawat untuk setiap sekolah merupakan gagasan yang patut dipertimbangkan, tetapi pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan daerah. Hal terpenting adalah setiap sekolah mempunyai akses yang jelas terhadap tenaga kesehatan profesional.

Pemerintah daerah dapat memulai langkah ini melalui kerja sama antara dinas pendidikan, dinas kesehatan, puskesmas, dan satuan pendidikan. Puskesmas dapat memberikan pendampingan kesehatan secara terjadwal kepada beberapa sekolah di wilayah kerjanya. Sekolah dengan jumlah murid besar atau kebutuhan kesehatan khusus dapat diprioritaskan untuk memperoleh dukungan lebih intensif.

Pada saat yang sama, pelatihan pertolongan pertama bagi guru, pembenahan perlengkapan UKS, serta penyusunan prosedur penanganan keadaan darurat harus terus dilakukan. Sekolah juga perlu memiliki jalur komunikasi yang jelas dengan orang tua dan fasilitas kesehatan terdekat.

Langkah-langkah tersebut lebih realistis untuk dimulai daripada menunggu setiap sekolah memiliki tenaga kesehatan sendiri.

UKS Bukan Sekadar Tempat Istirahat, tetapi Pusat Edukasi Kesehatan
UKS yang baik bukanlah UKS yang hanya ramai ketika ada murid sakit. UKS seharusnya menjadi bagian dari upaya membangun budaya hidup sehat di sekolah.

Melalui UKS, murid dapat belajar menjaga kebersihan diri, memahami pentingnya makanan bergizi, mengenali kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan, serta membangun kepedulian terhadap kesehatan teman-temannya. Pemeriksaan dan pemantauan kesehatan juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan puskesmas dan tenaga kesehatan terkait.

Aspek kesehatan mental pun tidak boleh diabaikan. Perundungan, tekanan pergaulan, dan masalah pribadi dapat memengaruhi kenyamanan murid dalam belajar. Guru, tenaga kesehatan, dan tenaga profesional yang sesuai perlu bekerja sama untuk mengenali tanda-tanda awal masalah dan membantu murid memperoleh pendampingan yang tepat.

Dengan dukungan tersebut, UKS tidak lagi sekadar menjadi ruangan dengan kasur dan kotak P3K. UKS dapat berkembang menjadi pusat kegiatan kesehatan sekolah yang mengutamakan pencegahan, edukasi, pertolongan awal, dan rujukan ketika diperlukan.

Menjaga Kesehatan Murid adalah Investasi Pendidikan
Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai dan prestasi akademik. Sekolah juga harus menjadi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara sehat dan aman.

Sudah saatnya penguatan UKS menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Upaya tersebut tidak harus dimulai dengan membangun fasilitas mahal atau menempatkan seorang perawat di setiap sekolah sekaligus.

Langkah awal dapat dilakukan dengan memperkuat kerja sama antara sekolah dan puskesmas, melatih guru, serta memastikan setiap murid memperoleh akses pertolongan yang tepat.

Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dipelajari murid di dalam kelas, tetapi juga oleh sejauh mana sekolah mampu menjaga kesehatan dan keselamatan mereka selama belajar.(*)

 

 

 

 

BERITA TERKINI

markus bidiraharjo
Pendidikan Sains di Era Krisis Iklim: Mengubah Hafalan Rumus Menjadi Aksi Ekologis
Screenshot 2026-10-18 061909
Enam SMP di Kota Semarang Kembangkan Pembelajaran Inovatif Berbasis Digital
WhatsApp Image 2026-10-17 at 12.46
Banyumas Ditargetkan Jadi Kota Pendidikan Nomor Dua di Jateng
FULAD6
Kehutanan Indonesia: Saatnya Menegakkan Kepastian Usaha, Integritas, dan Kedaulatan Sumber Daya Alam
WhatsApp Image 2026-10-17 at 05.09
PGRI Punggelan & Pandanarum Masuk Perempat Final Trofeo PGRI Banjarnegara