
PURBALINGGA, EDUKATOR – Sebanyak 62 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) nonformal dari Kecamatan Bobotsari, Kertanegara, dan Rembang mengikuti workshop digitalisasi pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi pendidik di era teknologi. Kegiatan yang berlangsung di SD Negeri 1 Limbasari, Kecamatan Bobotysariu, Purbalingga ,Kamis (22/10/2026), itu menekankan pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, menarik, dan bermakna bagi anak.
Workshop tersebut menjadi upaya memperkuat keterampilan guru dalam menggunakan perangkat digital, termasuk Interactive Flat Panel (IFP), sekaligus mendorong kolaborasi dan pertukaran praktik baik antarpendidik PAUD nonformal.
Teknologi Harus Memperkaya Pembelajaran
Kepala Seksi Pembinaan PAUD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Agus Tri Rusianto, S.Pd., yang membuka kegiatan secara resmi, menegaskan bahwa teknologi harus memperkuat kompetensi guru, bukan menggantikan peran pendidik.
Guru tetap menjadi sosok utama dalam membangun interaksi dengan anak, menanamkan karakter, memberikan pendampingan, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan.
“Teknologi harus memperkaya pengalaman belajar anak,” tegas Agus.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital harus dilakukan secara bijak, terarah, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Perangkat digital diharapkan mampu mendorong kreativitas serta meningkatkan keterlibatan anak dalam kegiatan pembelajaran.
Agus juga mengingatkan pentingnya pemahaman guru terhadap regulasi pendidikan, terutama ketentuan mengenai standar proses pembelajaran. Pemahaman tersebut diperlukan agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran berjalan sesuai ketentuan.
Selain itu, guru perlu memahami konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Dalam layanan PAUD, pendekatan ini diterapkan melalui kegiatan yang bermakna, menyenangkan, dan kontekstual, sesuai dengan tahap perkembangan anak, bukan sekadar menyampaikan informasi.
IFP Jangan Hanya Menjadi Pajangan
Koordinator Wilayah Kecamatan (Korwilcam) Dindikbud Bobotsari, Mutohar, S.Pd., menekankan pentingnya kemampuan guru memanfaatkan teknologi digital, khususnya IFP, untuk mendukung proses pembelajaran.
“IFP harus dimanfaatkan untuk pembelajaran interaktif,” ujarnya.
Menurut Mutohar, penguasaan teknologi merupakan kebutuhan penting agar guru mampu mengikuti perkembangan pendidikan dan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi anak.
Ia berharap peserta mengikuti workshop dengan sungguh-sungguh, memahami materi yang disampaikan, kemudian menerapkannya di lembaga masing-masing. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.
Mutohar juga menyampaikan apresiasi kepada para narasumber yang telah berbagi ilmu dan pengalaman. Ia berharap kegiatan tersebut memperkuat kebersamaan, memperluas wawasan, serta mendorong guru saling berbagi praktik baik dalam penyelenggaraan PAUD nonformal.
Dua Penilik Berbagi Pengalaman
Workshop tersebut menghadirkan dua narasumber dari bidang pendidikan nonformal, yakni Mutohar, S.Pd., selaku Penilik Nonformal, dan Suyatno, S.Pd., selaku Penilik PAUD Nonformal.
Keduanya memberikan penguatan materi mengenai pemanfaatan teknologi digital, peningkatan kompetensi pendidik, serta penerapan prinsip Pembelajaran Mendalam dalam layanan PAUD nonformal.
Melalui pemaparan materi dan berbagi pengalaman, peserta memperoleh kesempatan memperluas pemahaman tentang penggunaan perangkat digital sebagai alat bantu untuk mendukung kreativitas dan partisipasi aktif anak.
Sementara itu, Ketua Panitia, Siti Nur Faida, S.Pd.AUD, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap workshop tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta, tetapi juga mempererat silaturahmi serta memperkuat kolaborasi antarguru dari tiga kecamatan.
Melalui kegiatan ini, 62 guru PAUD nonformal diharapkan semakin siap menghadapi perkembangan teknologi pendidikan dan mampu menerapkannya secara tepat guna. Digitalisasi pembelajaran pun diharapkan tidak berhenti pada penggunaan perangkat, tetapi benar-benar meningkatkan profesionalisme guru dan menghadirkan pengalaman belajar yang berkualitas, menyenangkan, serta berpusat pada kebutuhan anak. (Iko/Prs)