
BANJARNEGARA, EDUKATOR – Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dimulai Senin pekan depan, SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara, menghidupkan kembali tradisi doa bersama menjelang ujian yang sempat menghilang hampir 10 tahun setelah Ujian Nasional (UN) ditiadakan. Kegiatan bagi murid kelas XII tersebut berlangsung khidmat di GOR Indoor SMAN 1 Sigaluh, Jumat (23/10/2026), diawali dengan khataman Al-Qur’an.
Kepala SMAN 1 Sigaluh, Linovia Karmelita, mengatakan doa bersama menjadi bagian dari persiapan murid setelah menjalani pengayaan soal TKA selama lebih dari sebulan.
“Kami sudah berikhtiar melalui pengayaan soal TKA,” ujar Linovia.
Menurutnya, persiapan akademik perlu disertai doa agar murid diberi kemudahan dalam menghadapi ujian. Ia menyebut belajar sebagai ikhtiar nyata, sedangkan doa menjadi bentuk permohonan pertolongan kepada Allah SWT atas hal-hal di luar kendali manusia.
TKA Menuntut Kesungguhan Akademik
TKA menjadi salah satu tolok ukur capaian akademik nasional, meskipun bukan syarat kelulusan. Hasilnya juga dapat digunakan sebagai validator nilai rapor bagi murid yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri melalui jalur prestasi.
Ketua Komite Sekolah, KH Dr. Nafis Athoillah, yang memimpin doa bersama, memotivasi murid agar tidak hanya mengandalkan doa, tetapi juga memaksimalkan usaha. Pengasuh Pondok Pesantren Miftakhussolikhin tersebut menjelaskan bahwa manusia perlu berikhtiar untuk menggapai hasil terbaik.
“Takdir harus disertai ikhtiar dan usaha sungguh-sungguh,” pesannya.
Menurut Nafis, TKA perlu dipersiapkan secara serius karena mengukur kemampuan akademik murid. Berbeda dengan nilai rapor yang mencakup berbagai aspek, seperti akademik, sikap, dan tugas, TKA lebih berfokus pada kemampuan akademik yang diukur melalui pengerjaan soal.
Karena itu, murid diminta belajar dengan sungguh-sungguh, berdoa, serta memohon restu orang tua agar lebih siap menghadapi ujian.
Doa Bersama Perkuat Mental Murid
Nafis juga mengajak murid memaksimalkan doa, baik secara pribadi maupun bersama-sama. Menurut Bendahara MUI Banjarnegara tersebut, doa kolektif menjadi simbol kekuatan kebersamaan dalam memohon pertolongan Allah SWT.
“Doa bersama ibarat sapu lidi, lebih kuat saat bersatu,” ungkapnya.
Ia turut mengingatkan murid agar meminta doa orang tua. Bagi yang orang tuanya telah meninggal, ia menyarankan agar membacakan Surah Al-Fatihah sebelum mengerjakan soal. Semua ikhtiar tersebut tetap harus disertai kebiasaan belajar dan persiapan yang matang.
Nafis menjelaskan, doa dalam proses berusaha dapat membantu seseorang menyikapi hasil dengan bijaksana. Ketika berhasil, seseorang tidak menjadi sombong. Sebaliknya, ketika hasilnya belum sesuai harapan, ia tidak mudah putus asa.
Manfaatkan Waktu Mustajab untuk Berdoa
Dalam kesempatan itu, Nafis mengingatkan kemuliaan hari Jumat sebagai waktu yang baik untuk berdoa. Ia menyebut beberapa waktu yang diyakini mustajab, antara lain ketika turun hujan, antara azan dan ikamah, sepertiga malam terakhir, saat khatib duduk di antara dua khotbah, serta setelah Asar pada hari Jumat.
Ia juga berpesan agar doa diawali dengan pertobatan, selawat, dan permohonan pertolongan yang sungguh-sungguh, disertai prasangka baik kepada Allah SWT.
Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Sigaluh berharap murid kelas XII dapat menghadapi TKA dengan persiapan akademik, ketenangan batin, dan keyakinan. Perpaduan belajar, doa, serta dukungan orang tua diharapkan membantu murid meraih hasil terbaik.(Heni Purwono/Prs)