
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Budi Dharmawan, S.P., M.Si., Ph.D (nomor dua dari kanan) pada Focus Group Discussion (FGD) Inventarisasi Masukan untuk Penyempurnaan Dokumen Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RAD-PGBPSDL) Provinsi Jawa Tengah 2026–2029, di Atria Hotel, Magelang, Senin (26/10/2026).
MAGELANG, EDUKATOR–Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan Jawa Tengah. Pada tahun 2024, lahan padi yang terdampak banjir dan kekeringan mencapai 41,8 ribu hektare, dengan 19,1 ribu hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen. Kondisi tersebut mendorong pentingnya penguatan pangan lokal dan diversifikasi sumber pangan untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat.
Hal itu menjadi salah satu sorotan dalam paparan dosen Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Budi Dharmawan, S.P., M.Si., Ph.D., pada Focus Group Discussion (FGD) Inventarisasi Masukan untuk Penyempurnaan Dokumen Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RAD-PGBPSDL) Provinsi Jawa Tengah 2026–2029, di Atria Hotel, Magelang, Senin (26/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, pakar sosial ekonomi pertanian alumnus program doktor (S3) University of Göttingen, Jerman ini memaparkan tentang analisis situasi pangan, dampak perubahan iklim terhadap pangan, serta potensi pengembangan pangan lokal di Jawa Tengah .
Peserta Focus Group Discussion (FGD)
Perubahan Iklim Tekan Produksi Pangan
Selanjutnya Budi Dharmawan menjelaskan, perubahan iklim berdampak terhadap sistem pertanian, mulai dari keterbatasan air, mundurnya jadwal tanam, hingga risiko gagal panen. Data yang dipaparkan menunjukkan, luas lahan padi terdampak banjir dan kekeringan pada 2025 menurun menjadi 27,6 ribu hektare.
“Meski demikian, ancaman terhadap produksi pangan tetap perlu diantisipasi,” ujarnya.
Selain banjir dan kekeringan, perubahan kondisi iklim juga menjadi tantangan dalam menjaga produktivitas pertanian dan kelancaran distribusi pangan. Karena itu, penguatan sistem pangan perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari ketersediaan, keterjangkauan, pemanfaatan pangan bergizi, hingga tata kelola pangan.
Budi Dharmawan menekankan, diversifikasi pangan lokal menjadi penting menghadapi perubahan iklim.
Potensi Pangan Lokal Perlu Dikembangkan
Saat ini, ujar Budi Dharmawan, Jawa Tengah memiliki beragam potensi sumber daya pangan lokal yang dapat dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan. Selain padi, komoditas jagung, kacang-kacangan, dan umbi-umbian dapat menjadi bagian dari upaya diversifikasi pangan.
Potensi tersebut perlu didukung dengan pengembangan komoditas lokal sesuai karakteristik wilayah dan kondisi sumber daya yang tersedia.
Budi Dharmawan yang sering diundang menjadi narasumber ahli dalam perumusan kebijakan daerah, termasuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jawa Tengah juga menyoroti perubahan produksi berbagai komoditas.
Produksi padi Jawa Tengah pada 2025 tercatat 9,30 juta ton. Sementara itu, produksi kedelai mengalami penurunan sekitar 91 persen, dari 166 ribu ton pada 2018 menjadi 15 ribu ton pada 2025. Sebaliknya, produksi cabai rawit meningkat sekitar 88 persen selama periode 2018–2025.
Data tersebut menunjukkan perlunya penguatan strategi pengembangan komoditas pangan berdasarkan potensi daerah, sekaligus mengantisipasi perubahan produksi dan risiko akibat iklim.
Pangan dan Gizi Butuh Kolaborasi Daerah
FGD tersebut diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan UNICEF. Kegiatan ini bertujuan menghimpun masukan dan rekomendasi pemerintah kabupaten/kota mengenai persoalan pangan dan gizi, potensi sumber daya pangan lokal, serta kebutuhan intervensi sesuai karakteristik dan kondisi masing-masing wilayah.
Kegiatan diikuti perwakilan UNICEF, Bappeda Jawa Tengah, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Hadir pula perwakilan pemerintah kabupaten/kota dari Magelang, Temanggung, Wonosobo, Kebumen, Banyumas, Purbalingga, Purworejo, Cilacap, dan Banjarnegara.
Masukan dari berbagai pemangku kepentingan tersebut diharapkan menjadi bahan penyempurnaan dokumen RAD-PGBPSDL Jawa Tengah 2026–2029. Dokumen ini diharapkan dapat memperkuat perencanaan pangan dan gizi berbasis potensi sumber daya lokal, sekaligus meningkatkan ketahanan sistem pangan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. (Prasetiyo)