Menyelamatkan Paru-Paru Dunia, Sekolah Garda Terdepan Peduli Lingkungan

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

“245 orang akhirnya dijadikan tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla).” Kalimat tersebut muncul dalam running text sebuah stasiun televisi swasta pada 31 Oktober 2026. Angka itu tentu bukan sekadar statistik penegakan hukum. Ia menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan masih menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk lainnya.

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia telah meninggalkan persoalan panjang. Api tidak hanya menghanguskan pepohonan dan tumbuhan, tetapi juga merusak habitat satwa, mengganggu keseimbangan ekosistem, serta menghasilkan asap yang membahayakan kesehatan manusia. Partikel halus dalam asap kebakaran dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap dampaknya.

Data terbaru menunjukkan bahwa persoalan ini belum selesai. Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan mencatat luas indikatif kebakaran hutan dan lahan Indonesia mencapai 202.004,30 hektare selama Januari–Juli 2026. Angka tersebut meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Sementara itu, analisis MapBiomas Indonesia yang diberitakan pada Oktober 2026 memperkirakan luas area terbakar mencapai 637.011 hektare sepanjang Januari–Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 331.246 hektare berada di dalam kawasan hutan, termasuk 69.353 hektare di kawasan hutan lindung.

Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan sumber data, periode pengamatan, dan metode penghitungan yang digunakan. Namun, keduanya menunjukkan satu kenyataan: kebakaran hutan masih menjadi ancaman yang tidak boleh dianggap remeh.

Hutan selama ini dikenal sebagai paru-paru dunia karena perannya dalam menyerap karbon, menyimpan air, menjaga keanekaragaman hayati, dan membantu mengatur iklim. Ketika hutan terbakar, kita bukan sekadar kehilangan pepohonan. Kita sedang kehilangan salah satu penyangga utama kehidupan.

Karhutla Mengancam Kehidupan, Pencegahan Harus Diutamakan
Terlepas dari berbagai kepentingan ekonomi, kelalaian manusia, maupun kondisi alam yang memengaruhi terjadinya kebakaran, penanganan setelah api membesar tentu membutuhkan biaya, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit. Karena itu, pencegahan seharusnya mendapatkan perhatian lebih besar. Salah satu tempat strategis untuk membangun kesadaran tersebut adalah sekolah.

Sekolah memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan murid berprestasi secara akademik. Sekolah juga menjadi tempat membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai kehidupan. Salah satunya adalah kepedulian terhadap lingkungan.

Generasi yang sedang belajar hari ini kelak akan menjadi pengambil keputusan, pemimpin masyarakat, pengusaha, petani, dan berbagai profesi lainnya. Mereka akan menentukan bagaimana alam diperlakukan pada masa mendatang. Jika sejak sekarang mereka terbiasa mengabaikan lingkungan, bukan tidak mungkin kerusakan yang terjadi hari ini akan terulang dengan skala lebih besar. Sebaliknya, apabila kepedulian terhadap alam telah menjadi bagian dari karakter, mereka akan memiliki pertimbangan moral ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi yang berpotensi merusak lingkungan.

Pendidikan lingkungan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sekolah telah mengenal program Adiwiyata, penghijauan, kebun sekolah, pengelolaan sampah, dan gerakan hemat energi. Namun, berbagai program tersebut perlu dijalankan secara konsisten agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Menanam pohon, misalnya, tidak cukup hanya dilakukan pada peringatan hari lingkungan hidup. Murid perlu diajak merawatnya, menyiramnya, mengamati pertumbuhannya, dan memahami manfaatnya. Begitu pula kegiatan memilah sampah. Kebiasaan tersebut harus menjadi budaya sekolah, bukan sekadar tugas ketika ada penilaian kebersihan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga membangun kebiasaan untuk menjaganya.

Pengetahuan Lingkungan Belum Tentu Melahirkan Kepedulian
Ada satu persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian para pendidik, yaitu kesenjangan empati ekologis (ecological empathy gap). Persoalan ini menggambarkan jarak antara pengetahuan seseorang tentang pentingnya lingkungan dan kepedulian nyata untuk melindunginya. Selama ini, murid mungkin sudah mengetahui bahwa hutan merupakan paru-paru dunia. Mereka memahami bahwa pembakaran hutan menghasilkan asap berbahaya, merusak habitat satwa, dan mempercepat perubahan iklim. Akan tetapi, pengetahuan tersebut belum tentu membuat mereka memiliki kepedulian dalam perilaku sehari-hari.

Contoh sederhana dapat ditemukan di lingkungan sekolah. Murid bisa saja hafal tentang bahaya sampah plastik, tetapi masih membuang bungkus makanan sembarangan. Mereka memahami pentingnya tanaman, tetapi kurang peduli ketika melihat tanaman di halaman sekolah rusak. Ada pula yang mengetahui manfaat menghemat air dan listrik, tetapi belum terbiasa melakukannya. Di sinilah letak persoalannya. Pendidikan lingkungan sering kali lebih menekankan aspek kognitif daripada pembentukan kesadaran dan tanggung jawab.

Pengetahuan memang penting, tetapi pengetahuan tanpa kepedulian tidak selalu menghasilkan tindakan. Karena itu, sekolah perlu mengubah pendekatan dari sekadar learning about nature (belajar tentang alam) menjadi connecting with nature (membangun keterikatan dengan alam).

Sekolah Bergerak, Empati Ekologis Tumbuh
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sekolah untuk membangun kepedulian ekologis murid.

Pertama, menghadirkan pengalaman langsung dengan alam. Pembelajaran lingkungan sebaiknya tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Guru dapat mengajak murid mengamati kondisi sungai, mengenali berbagai jenis tumbuhan, menanam pohon, atau mempelajari ekosistem di sekitar sekolah. Pengalaman langsung akan membantu murid memahami bahwa alam bukan sekadar objek dalam buku pelajaran. Alam merupakan bagian dari kehidupan yang mereka nikmati setiap hari. Rasa memiliki dan kepedulian lebih mudah tumbuh ketika seseorang mengenal serta berinteraksi dengan lingkungannya.

Kedua, mengintegrasikan kepedulian lingkungan dalam berbagai mata pelajaran. Pendidikan lingkungan bukan hanya tanggung jawab guru IPA. Guru Pendidikan Agama dapat mengajarkan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Guru IPS dapat membahas hubungan aktivitas ekonomi dengan kerusakan lingkungan. Guru Bahasa Indonesia dapat mengajak murid menulis artikel tentang persoalan sampah atau kebakaran hutan. Guru Seni dapat memberikan ruang bagi murid untuk mengekspresikan keindahan alam melalui karya. Dengan pendekatan lintas mata pelajaran, murid akan memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, bukan sekadar materi pelajaran tertentu.

Ketiga, memberikan proyek nyata untuk menyelesaikan persoalan lingkungan. Sekolah dapat melibatkan murid dalam proyek sederhana, seperti pengelolaan sampah organik, pembuatan kompos, penanaman pohon, pemanfaatan air hujan, atau pembuatan biopori sesuai kondisi lingkungan sekolah. Murid juga dapat diajak melakukan kampanye pencegahan pembakaran lahan melalui poster, tulisan, video edukasi, dan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat. Proyek tersebut tidak harus mahal atau membutuhkan teknologi canggih. Hal yang lebih penting adalah keterlibatan murid dalam menemukan masalah, memikirkan solusi, dan melaksanakan tindakan nyata.

Keempat, menjadikan keteladanan sebagai budaya sekolah. Pendidikan karakter akan kehilangan kekuatannya apabila tidak disertai keteladanan. Guru yang mengajak murid menjaga kebersihan harus menunjukkan perilaku yang sama. Sekolah yang mengampanyekan penghematan energi perlu membiasakan mematikan lampu dan perangkat listrik yang tidak digunakan. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah harus menjadi contoh. Kebiasaan kecil yang dilakukan bersama dan terus-menerus akan membentuk budaya peduli lingkungan.

Kasus kebakaran hutan seharusnya menjadi bahan refleksi bahwa kerusakan lingkungan bukan persoalan yang jauh dari kehidupan kita. Asap kebakaran dapat melintasi wilayah, mengganggu kesehatan masyarakat, dan merusak keseimbangan alam yang manfaatnya dinikmati bersama.

Penegakan hukum terhadap pelaku karhutla memang diperlukan. Namun, penindakan saja tidak cukup. Masyarakat juga membutuhkan pendidikan yang mampu membangun kesadaran bahwa alam bukan warisan yang boleh dihabiskan sesuka hati, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Sekolah memiliki kesempatan besar untuk mengambil bagian dalam upaya tersebut. Tidak harus menunggu program besar atau bantuan anggaran yang melimpah. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, merawat tanaman, menghemat air, mengurangi penggunaan plastik, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan lingkungan bukan diukur dari seberapa banyak murid mampu menjelaskan fungsi hutan atau menghafal penyebab kebakaran. Keberhasilan yang sesungguhnya terlihat ketika mereka memiliki kepedulian dan bersedia melakukan sesuatu untuk melindungi alam.

Kita tentu tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal hutan yang hijau melalui gambar di buku pelajaran. Kita juga tidak ingin mereka sekadar melihat satwa liar melalui layar karena habitatnya telah hilang.

Menjaga hutan bukan hanya tugas petugas pemadam kebakaran, pemerintah, atau aktivis lingkungan. Itu adalah tanggung jawab seluruh manusia. Sekolah dapat menjadi tempat terbaik untuk memulainya. Sebab, menyelamatkan paru-paru dunia sejatinya bukan hanya tentang menyelamatkan pepohonan, melainkan tentang menjaga hak setiap makhluk hidup untuk bernapas, tumbuh, dan menikmati bumi yang sehat.(*)

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

FULAD6
Israel di Persimpangan Sejarah: Pergantian Pemimpin, Perang Iran, dan Ujian Legitimasi Dunia
WhatsApp Image 2026-10-31 at 13.48
Yuk, Ikuti Undangan Menulis Antologi Penulis Perempuan Purbalingga
WhatsApp Image 2026-10-31 at 15.43
Lansia di Sekolah Lansia Terpadu Firdaus Belajar Olah Lidah Buaya Jadi Minuman Sehat
WhatsApp Image 2026-10-31 at 10.52
Tiga Pasangan Bersaing dalam Pilketos di SMPN 3 Satap Rembang
FAUZI PAKAIAN JAWA
Menyelamatkan Paru-Paru Dunia, Sekolah Garda Terdepan Peduli Lingkungan