
Foto bersama usai kegiatan IHT Literasi dan Numerasi di SMPN 23 Semarang.
SEMARANG, EDUKATOR— Guru dituntut mampu mengintegrasikan strategi literasi membaca dan numerasi ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal itu agar kemampuan murid dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan bernalar semakin berkembang. Penguatan kedua kompetensi tersebut harus dirancang sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian pembelajaran.
Hal itu disampaikan Tukijo, S.Pd., M.Pd., saat menjadi narasumber dalam kegiatan In House Training (IHT) bertema Literasi dan Numerasi di Aula SMP Negeri 23 Semarang, Kamis (5/11/2026). Kegiatan yang dibuka Kepala Sekolah Tjatoer Rini Indriani S.S.M.Pd. tersebut, diikuti seluruh guru SMPN 23 Semarang.
Selain Tukijo, tampil sebagai narasumber Aloysius Kristiyanto, M.Pd, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Semarang.
RPP Perlu Mengintegrasikan Tiga Aspek
Dalam paparannya, Tukijo menjelaskan bahwa perencanaan pembelajaran tidak cukup hanya mencantumkan topik atau materi pelajaran. “Guru perlu memperhatikan tiga aspek utama, yaitu konten, tingkat kognitif, dan konteks pembelajaran,” ujar Tukjo yang juga guru SMPN 17 Kota Semarang.
Pada literasi membaca, lanjutnya, konten mencakup teks informasi dan teks fiksi. Sedangkan literasi numerasi meliputi bilangan, geometri, data dan ketidakpastian, serta aljabar.
Dari aspek kognitif, literasi membaca mencakup kemampuan menemukan informasi, menafsirkan dan mengintegrasikan informasi, serta mengevaluasi dan merefleksikan informasi. Adapun literasi numerasi meliputi tiga tingkatan, yakni knowing (pengetahuan dan pemahaman), applying (penerapan), dan reasoning (penalaran).
Selain itu, guru perlu menggunakan konteks personal, sosial budaya, dan saintifik agar materi pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari murid.
Lima Langkah Penguatan Literasi dan Numerasi
Tukijo yang juga mahasiswa S-3 Ilmu Pendidikan Bahasa, Universitas Negeri Semarang (UNNES) memaparkan lima langkah untuk mengintegrasikan literasi membaca dan numerasi dalam perencanaan pembelajaran.
Pertama, memahami capaian pembelajaran atau kompetensi dasar. Kedua, merumuskan tujuan pembelajaran yang memuat penguatan literasi membaca dan numerasi. Ketiga, menentukan sumber bacaan dan materi ajar yang menarik serta kontekstual.
Keempat, merancang kegiatan pembelajaran dan pengelolaan kelas dengan mengeksplorasi berbagai keterampilan berpikir murid. Kelima, menentukan asesmen, refleksi, dan umpan balik untuk mengukur pencapaian kompetensi murid.
Selanjutnya dijelaskan, sumber bacaan dan materi ajar yang digunakan guru diharapkan bervariasi, menggugah minat baca, serta menyajikan informasi yang dekat dengan kehidupan murid. “Guru juga dapat memanfaatkan berbagai media, baik cetak maupun digital,” ujarnya.
Peserta IHT antusias mengikuti paparan dari narasumber, Tukijo, S.Pd, M.Pd.
Guru Praktik Menganalisis dan Menyusun Modul Ajar
Dalam kegiatan inti, Tukijo mengajak peserta mengikuti dua penugasan. Pertama, menganalisis contoh modul ajar menggunakan instrumen telaah yang telah disediakan. Kedua, mengembangkan modul ajar secara mandiri sesuai mata pelajaran yang diampu.
Kegiatan telaah dilakukan secara berkelompok berdasarkan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran. Guru mengidentifikasi bagian-bagian modul yang telah mengintegrasikan literasi membaca dan numerasi, sekaligus memberikan saran perbaikan apabila masih terdapat kekurangan.
Selanjutnya, setiap guru menyusun modul ajar dengan kerangka literasi membaca dan atau numerasi. Hasil pekerjaan kemudian ditukar dengan rekan satu kelompok untuk memperoleh masukan dan penyempurnaan. Modul yang dikembangkan juga dipersiapkan untuk digunakan dalam kegiatan simulasi mengajar pada materi berikutnya.
Melalui kegiatan ini, guru SMPN 23 Semarang diharapkan semakin kompeten merancang dan melaksanakan pembelajaran yang mengintegrasikan literasi membaca dan numerasi.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan murid dalam memahami informasi, memecahkan masalah, berpikir kritis, dan bernalar. (Prasetiyo)