
Dea Aflah Numa Wajiah
BANJARNEGARA, EDUKATOR –Memiliki sederet prestasi di bidang seni tidak membuat Dea Aflah Numa Wajiah melupakan cita-cita mulianya. Murid kelas VI SDN 1 Pucang, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, ini bercita-cita menjadi dokter agar kelak dapat menolong banyak orang. Menariknya, Dea ingin memadukan profesi dokter dengan kecintaannya terhadap musik dan menari untuk menghibur pasien.
“Bagi Dea, menyanyi dan menari itu cara terbaik mengekspresikan rasa,” ungkap Dea–demikian pangglan akrabnya ketika ditemui EDUKATOR di rumahnya, Kamis (5/11/2026).
Dea, yang lahir di Banjarnegara pada 11 Oktober 2015, dikenal sebagai murid multitalenta. Hobi menyanyi dan menari telah mengantarkannya meraih berbagai penghargaan, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Kemampuannya tidak hanya terlihat dalam seni modern, tetapi juga seni budaya tradisional.
Pada awal Agustus 2026, Dea kembali menunjukkan bakatnya saat tampil dalam Festival Bintang-Bintang Cilik 2026. Dalam ajang yang diselenggarakan Dinas Kominfo tersebut, ia berhasil meraih Juara 2 Lomba Solo Vokal.
Dea bersama ibunya, Amy.
Sederet Prestasi di Bidang Seni
Prestasi Dea di bidang tarik suara telah dirintis sejak beberapa tahun terakhir. Dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), ia berhasil meraih Juara 1 tingkat Kecamatan Bawang selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2024 dan 2025. Pada 2025, ia juga meraih Juara 3 tingkat Kabupaten Banjarnegara.
Selain itu, Dea meraih Juara 2 Duet Religi tingkat Kecamatan Bawang. Kemampuannya dalam seni tradisional juga terbukti melalui keberhasilannya meraih Juara 2 Lomba Macapat tingkat Kecamatan Bawang.
Prestasinya semakin lengkap setelah terpilih mewakili Kabupaten Banjarnegara ke tingkat Provinsi Jawa Tengah dalam cabang MAPSI Rebana SD.
Ia mengaku bangga dapat mempelajari berbagai jenis kesenian, termasuk macapat dan rebana. Menurutnya, seni tradisional memiliki keindahan yang perlu terus dilestarikan.
Dukungan Keluarga Menjadi Kekuatan
Berbagai prestasi tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga. Dea merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Eko dan Amy, yang tinggal di Perum Griya Gemuruh Indah.
Kedua orang tuanya selalu memberikan motivasi agar Dea rajin belajar dan tetap rendah hati. Dukungan juga datang dari kedua kakak laki-lakinya, terutama ketika Dea mengikuti perlombaan atau tampil di panggung.
“Ayah dan Bunda selalu berpesan agar giat belajar dan jangan sombong,” tuturnya.
Dukungan keluarga tersebut membuat Dea semakin percaya diri dalam mengembangkan bakatnya. Meski aktif mengikuti berbagai kegiatan seni, ia tetap berusaha menjalankan kewajibannya sebagai murid dengan baik.
Ingin Menjadi Dokter yang Menghibur Pasien
Di balik kecintaannya terhadap dunia seni, Dea menyimpan cita-cita besar menjadi seorang dokter. Ia ingin membantu orang sakit sekaligus memberikan semangat kepada mereka yang sedang menjalani pengobatan.
Bagi Dea, profesi dokter dan musik memiliki kesamaan dalam memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Dokter membantu menyembuhkan penyakit fisik, sedangkan musik dapat menghibur hati dan memberikan ketenangan.
“Dea ingin jadi dokter supaya bisa menolong banyak orang sakit,” katanya penuh semangat.
Ia bahkan membayangkan suatu saat dapat menyanyi untuk menghibur pasien agar merasa lebih tenang selama menjalani perawatan.
Cita-cita tersebut menunjukkan bahwa bagi Dea, prestasi bukan sekadar penghargaan, melainkan juga bekal untuk memberikan manfaat kepada sesama. Dengan dukungan keluarga, semangat belajar, dan ketekunan mengembangkan bakat, Dea berharap dapat mewujudkan impiannya menjadi dokter yang peduli terhadap orang lain. (Muji Prasetyo/Prs)