Arief Ardinugroho, dari Jualan Nugget Keliling, Kini Memiliki Enam Perusahaan

Bagikan :

Arief Ardinugroho

YOGYAKARTA. EDUKATOR–Arief Ardinugroho (40), kini dikenal sebaga salah satu pengusaha sukses di Yogyakarta. Jalan menuju sukses itu tidak ia jalani dengan mudah, namun penuh dengan tikungan tajam.

Pria yang akrab disapa Auf itu tidak lahir dari keluarga pengusaha. Ibunya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), ayahnya seorang pekerja swasta, di antara saudaranya ada yang berprofesi sebagai dokter. Keluarga sang ibu mengutamakan jabatan, sedang keluarga sang ayah kekayaan.

Semua bermula saat ia duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Yogyakarta. Sang ibu memiliki usaha frozen chicken nugget rumahan. Auf kecil tak puas jika hanya menunggu pembeli datang. Ia memilih berkeliling dari rumah ke rumah, menjajakan dagangan. Upahnya hanya seribu-dua ribu rupiah per transaksi.

“Intinya nyales, bersenang-senang dapat uang” kenangnya saat ditemui EDUKATOR di salah satu toko kosmetiknya di Yogyakarta, Rabu (4/2/2026) .

Dari pengalaman itu, ia belajar satu hal penting: eksekusi jauh lebih mahal daripada ide.

Langkah kecil itu berkembang. Ia memberi kesempatan teman-teman sekampung turut menjual frozen chicken nugget. Ia memiliki armada distribusi, hingga penjualan produknya menjadi salah satu yang terbesar di Yogyakarta kala itu.

Jiwa dagangnya semakin terasah ketika bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) De Britto. Ia melihat peluang sederhana. Apa pun bertuliskan “De Brito” pasti laku. Dari kaos, tote bag, hingga sandal, semuanya terjual.

Lulus SMA pada 2004, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Atma Jaya Yogyakarta jurusan Komunikasi, lulus 2010. Ia sempat menikmati masa senang-senang. Namun 2008 menjadi titik seriusnya. Ia aktif sebagai blogger, membangun tim, hingga akhirnya menjual seluruh akun digitalnya pada 2012, karena perubahan algoritma Google.

Bisnisnya terus bertransformasi. Ia mendirikan rumah makan Ayam Goreng Mbok Moro yang berkembang hingga 23 cabang. Ia juga mendirikan brand burger lokal, burgerak.

Semua Dijual, Memulai Kembali dari Nol

Lantas menggawangi Event Organizer (EO) Bisnis UMKM Nusantara. Namun pada 2019, lagi-lagi ia membuat keputusan mengejutkan: melepas semuanya dan memulai kembali dari nol.

“Kenapa saya jual? Karena saya ingin bisnis yang aman. Saya tipe pebisnis yang melihat ceruk pasar tinggi. Ibaratnya, di mana curah hujan tinggi di situ saya akan berusaha,” ujarnya.

Kini Auf memiliki sedikitnya enam perusahaan, dan menjadi konsultan pengembangan organisasi dengan klien besar. Satu di antaranya, Alfamart (2012–2023).

Ia juga terlibat sebagai onvestor pada aplikasi KiriminAja, dengan omsetnya kini mencapai triliunan rupiah.

Pria dengan satu orang putri itu, kini mengembangkan berbagai unit usaha. Mulai dari toko kosmetik “Merona” di tiga lokasi di Yogyakarta, madu untuk anak-anak, pusat kebugaran (gym), dan berbagai layanan lainnya.

Bagi Auf, bisnis bukan sekadar soal untung dan rugi. Ia melihatnya sebagai ruang tumbuh. Bagi diri sendiri, tim, dan masyarakat. Di balik omset, cabang usaha, dan perputaran modal, ada satu benang merah yang ia pegang. Yakni, momentum dan keberanian membaca peluang.

“Bisnis itu perlu momentum. Momentum terjadi ketika kesempatan bertemu kemampuan. Orang menyebutnya beruntung. Padahal kemampuan itu harus diasah terus,” ujarnya.

Pengalaman menutup usaha justru membentuknya. Ia menyadari bahwa inti bisnis bukan produk, melainkan manusia. “Bisnis itu soal bagaimana mengelola SDM.” Kesadaran inilah yang kemudian memengaruhi cara pandangnya tentang inklusi dan kesempatan.

Mindset dan Ruang Inklusif
Ketika berbicara tentang anak muda difabel dalam dunia usaha, Auf tidak langsung menyoroti keterbatasan fisik. Ia justru berbicara tentang pola pikir. “Mindset. Bisa tidak kekurangan kita itu jadi kelebihan?” katanya.

Ia mencontohkan seorang difabel fisik yang menjadi relasinya, Triyono. Pengguna krug penyangga tubuh, pendiri Difa Bike. Penyedia transportasi ojek roda tiga, di Yogyakarta. Baginya, Triyono menjadikan identitas kedifabelannya sebagai kekuatan layanan. “Triyono tidak melihat kedifabelannya sebagai kelemahan, melainkan kekuatan. Menjual kedifabelannya. Itu sah saja,” katanya.

Menurut Auf, pasar selalu terbuka bagi siapa pun yang mampu membaca ceruk dan mengeksekusinya dengan tepat. Tantangannya bukan hanya akses fisik, tetapi juga akses pada lingkungan yang mendukung.

“Pilih lingkungan yang tepat. Kasih tahu lima orang terdekatmu, saya ingin tahu isi dompetmu,” ujarnya. Lingkar pergaulan, menurutnya, sangat menentukan arah pertumbuhan seseorang. Termasuk bagi anak muda difabel yang ingin mandiri secara ekonomi.

Bisnis yang Berdampak
Di setiap unit usahanya, Auf berusaha menghadirkan dampak sosial, sekecil apa pun. Ia memastikan karyawan menerima upah minimal setara, di atas Upah Minimum Provinsi (UMP), bahkan memberi tambahan voucher belanja bagi pegawai toko offline. Baginya, kesejahteraan tim adalah fondasi produktivitas.

“Kalau karyawan sudah tidak mikir perut, mereka bisa bekerja dengan tenang,” katanya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa inklusi bukan sekadar memberi kesempatan bekerja, tetapi memastikan sistem yang adil dan berkelanjutan. Dalam konteks yang lebih luas, model bisnis yang dibangun Auf membuka ruang kolaborasi dengan gerakan sosial dan pemberdayaan. Termasuk yang fokus pada penguatan difabel muda.

Belajar dari yang Tidak Berhasil

Pengalamannya membangun organisasi, membaca pasar, serta membentuk tim yang solid, pendekatan berbasis momentum dan eksekusi, dapat menjadi jembatan bagi program-program yang ingin mendorong kemandirian ekonomi kelompok rentan. Karena pada akhirnya, sebagaimana yang ia yakini, keberhasilan hanya dua persen. Sisanya adalah keberanian mencoba berkali-kali, belajar dari penolakan, dan terus mengevaluasi diri.

“Jangan fokus pada keberhasilan. Itu bisa bikin lupa diri. Belajar dari yang tidak berhasil.”

Di usia matangnya, Auf tidak lagi sibuk membuktikan diri pada siapa pun. Ia memilih membangun legasi. Sesuatu yang kelak bisa dikenang, bukan hanya dihitung. Dari sanalah titik temu antara bisnis dan inklusi: ketika keuntungan bertemu kebermanfaatan, dan peluang terbuka untuk semua.

Peluang Kolaborasi
Dalam konteks yang lebih luas, model bisnis yang dibangun Auf membuka ruang kolaborasi dengan gerakan sosial dan pemberdayaan. Termasuk yang fokus pada penguatan difabel muda.

Dengan pengalamannya membangun organisasi, membaca pasar, serta membentuk tim yang solid, pendekatan berbasis momentum dan eksekusi dapat menjadi jembatan bagi program-program yang ingin mendorong kemandirian ekonomi kelompok rentan.

Di sinilah kolaborasi menjadi relevan. Ketika dunia usaha bertemu dengan gerakan sosial sebagaimana dilakukan Mega Gloryoung International (MGI), yang mendorong edukasi, pemberdayaan, dan perluasan akses.

MGI membuka peluang menciptakan ekosistem bisnis yang tidak hanya bertumbuh secara finansial, tetapi juga inklusif. Bukan sekadar memberi ruang, melainkan membangun kapasitas, mempertemukan kemampuan dengan kesempatan, dan menciptakan momentum bersama. (Harta Nining Wijaya)

BERITA TERKINI

hj2
Tasyakuran dan Ziarah Awali Hari Jadi Banyumas
difabel
Bupati Sadewo Dorong Disabilitas Jadi Wirausaha Digital
ar1
37 Murid KB Arrahmah Belajar Transportasi di Terminal Bobotsari
001
Menang Adu Penalti, Persibangga Melaju ke Final
6080345747837620072 (1)
Pengrus IPPK Purbalingga Diajak Menghidupkan Organisasi