Atasi Kerusakan Lahan, Pertanian Terpadu Harus Dikembangkan

by -42 Views
Foto bersama, nara sumber bersama peserta seminar. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR)

KEBUMEN, EDUKATOR–Sistem pertanian terpadu kini mendesak diterapkan di Kebumen. Jangan sampai, penerapan pertanian terpadu menunggu sampai ada kerusakan lahan pertanian. Penerapan sistem pertanian terpadu yang sudah berjalan saat ini, harus terus dikembangkan, dan diikuti para petani atau kelompok tani lainnya.Dekan Faperta UMNU Kebumen, Umi Barokah SP.MP (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR)

Sistim Pertanian Terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan dan lainnya yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan yang sama. Dengan adanya sistim pertanian terpadu diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas lahan.Dua narasumber, Kres Dahana (nomor dua dari kanan) dan Shofyan Adi Cahyono, SP (nomor dua dari kiri) menerima cendera mata dari panitia. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR)

“Mengantisipasi kerusakan lahan yang sekarang terjadi, penerapan sistem pertanian terpadu mendesak dilakukan, termasuk di Kebumen. Banyak manfaat yang bisa dipetik dari sistem pertanian terpadu ini,” ujar Penyuluh Pertanian pada BIdang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Pangan (Distapang) Kabupaten Kebumen, Kres Dahana SP, MP pada Seminar Pertanian Terpadu – Implementasi Sistem Usaha Tani Terpadu Dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan”.

Seminar diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (BEM Faperta) Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen, di Gedung Teater Perpusda Kebumen, Minggu (7/7/2024). Seminar diikuti Mahasiswa UMNU, siswa siswi SMA/MA/SMK, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kebumen, dan masyarakat umum. Pada hari yang sama, di Kampus UMNU juga digelar Festival Entok dan Pasar Murah.Penyuluh Pertanian pada Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Pangan (Distapang) Kabupaten Kebumen, Kres Dahana SP, MP saat tampil sebagai nara sumber. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR)

Selain Kres Dahana, tampil pula sebagai narasumber dalam seminar itu, Shofyan Adi Cahyono, SP, duta petani milenial Kementerian Pertanian RI. Shofyan juga dikenal sebagai Chief Executive Officer (CEO) dari Sayur Organik Merbabu (SOM)– Perusahaan Sayuran organik di Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang yang bergerak di bidang Budidaya dan Penjualan aneka sayuran Organik secara online.

Menurut Dekan Faperta UMNU Kebumen, Umi Barokah SP.MP, seminar ini untuk mengedukasi kepada peserta bahwa sistem usaha tani sekarang ini penting dilakukan, dengan harapan pertanian yang diterapkan bisa berkelanjutan, dan tidak meninggalkan sampah. “Bahkan , sampah yang ada bisa diolah menjadi sesuatu yang menghasilkan,” ujarnya.Peserta seminar dan narasumber. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR)

Kres Dahana yang juga alumni Magister Penyuluhan Pertanian Pascasarjana Unsoed ini selanjutnya mengemukakan, implementasi dari pertanian terpadu melalui lima hal. Yakni mengubah mindset dari pertanian konvensional ke modern, mengombinasikan tanaman dengan ternak, mengombanisikan tanaman dengan ikan, mengombinasikan 3 sub unsur yakni tanaman, ternak dan ikan, serta mengintegrasikan dengan industri yang berbasis pertanian atau agro industri.

“Para petani, termasuk ibu-ibu anggota KWT harus bisa mengubah mindset dan menerapkan sistem pertanian terpadu, sehingga kesejahteraannya meningkat,” jelas Kresna Dahana, yang produktif menulis buku-buku pertanian, peternakan dan perikanan ini.

Pertanian terpadu, lanjut Kres Dahana, memiliki tujuan. Yakni meningkatkan efisiensi dan produktivitas sumber daya (lahan, manusia, dan faktor tumbuh lainnya). Selain itu, meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. (Prasetiyo)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.