*Pameran Lintas Budaya: JDA Indonesia – Community Murals CIC 
YOGYAKARTA, EDUKATOR–Batik tambalan, yang secara filosofis melambangkan penyatuan kembali bagian-bagian yang terluka hingga menjadi utuh, menjadi inspirasi kolaborasi seni lintas budaya Indonesia dan budaya Welsh, Britania Raya (United Kingdom/UK).
Melalui pameran “Exploring Indonesian Batik and Welsh Culture Through Collaborative Art and Conversations on Healing”, Jogja Disability Arts (JDA) Indonesia bersama Community Murals CIC dari Wales, Britania Raya, mengajak publik melihat seni sebagai ruang penyembuhan (healing), memperkuat sistem dukungan bagi penyandang disabilitas, sekaligus mendorong pemenuhan hak-hak mereka. Pameran akan dibuka di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta, Sabtu (18/7/2026) jam 13.00 WIB siang ini.
Pameran tersebut merupakan puncak proyek kolaborasi bertajuk Batik Tambalan, setelah diawali rangkaian lokakarya di Wales dan dilanjutkan di Yogyakarta pada 13–15 Juli 2026.
Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman Indonesia dan seniman Welsh memadukan motif batik Nusantara dengan budaya Welsh untuk mengajak masyarakat memahami seni sebagai media penyembuhan, penerimaan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas.
Karya yang dipamerkan merupakan hasil kreasi Nano Warsono, Andrew Bolton, Edi Priyanto, Mel Hobday, Mylo Elliot, Rowenna Williams, Rhys Trimble, Sukri Budi Dharma, Triarani Utami, dan Wiji Astuti.
Filosofi Batik Tambalan dan Penyembuhan
Konseptor proyek Batik Tambalan, Triarani Utami, menjelaskan nama Batik Tambalan dipilih karena memiliki makna filosofis tentang penyembuhan. Seperti kain tambalan yang menyatukan bagian-bagian yang robek hingga kembali utuh, proyek ini mengajak masyarakat merawat luka bersama, membangun harapan, sekaligus memperkuat sistem dukungan bagi penyandang disabilitas dan para pendampingnya.
Menurut Triarani, selama ini masih banyak kesalahpahaman mengenai Disability Art. Seni disabilitas kerap dipandang hanya sebagai karya yang dibuat oleh penyandang disabilitas, padahal ruang lingkupnya jauh lebih luas karena berbicara tentang hak, kesetaraan, dan keterhubungan antarmanusia.
“Seni menjadi ruang untuk saling terhubung, saling memahami, dan saling menguatkan,” ujarnya.
Ia mengatakan proyek ini juga mengeksplorasi pengalaman para care giver, seperti orang tua, keluarga, maupun lingkungan yang selama ini mendampingi penyandang disabilitas. Mereka berperan membantu proses tumbuh kembang, mencari informasi, menemukan solusi, hingga memastikan hak-hak penyandang disabilitas tetap terpenuhi.
Namun, menurutnya, perhatian terhadap para pendamping masih sangat minim.
“Belum ada rekognisi terhadap para care giver. Padahal mereka juga membutuhkan dukungan,” katanya.
Karena itu, Batik Tambalan tidak hanya dimaknai sebagai karya seni, tetapi juga simbol penyembuhan dan ajakan untuk membangun kepedulian bersama terhadap penyandang disabilitas beserta sistem pendukungnya.
Seluruh proses kolaborasi menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan experiential learning, sehingga setiap karya lahir dari pengalaman nyata para peserta, bukan sekadar kajian akademik.
Kolaborasi Lintas Budaya Perkuat Inklusi
Ketua Jogja Disability Arts, Sukri Budi Dharma atau Butong, menjelaskan kolaborasi ini berawal dari riset mengenai tokoh pewayangan Petruk yang dipandang sebagai representasi tokoh difabel dalam budaya Jawa. Riset tersebut kemudian dipertemukan dengan tokoh Myrddin dalam budaya Welsh yang memiliki nilai-nilai serupa.
Melalui penelitian partisipatif, penyandang disabilitas bersama para pendampingnya dilibatkan secara aktif dalam seluruh proses berkarya.
“Kami menemukan titik temu tentang Disability Art dan bagaimana difabel maupun non-difabel bekerja bersama secara setara. Inilah makna inklusi,” ujar Butong.
Menurutnya, inklusi tidak cukup menjadi konsep dalam dokumen kebijakan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pemberian ruang, kesempatan, dan dukungan kepada penyandang disabilitas.
Butong menambahkan, proyek ini mendapat dukungan Pemerintah Britania Raya melalui seniman Andrew Bolton, penyandang brain damage sekaligus pendiri Community Murals CIC asal Wales, yang kembali datang ke Yogyakarta bersama istrinya, Sophie, dan putri mereka, Many. Kolaborasi JDA dengan Community Murals CIC telah terjalin sejak 2019 dan menghasilkan pameran pada 2022 serta 2024, sebelum berlanjut melalui proyek Batik Tambalan pada 2026.
Seni Menguatkan Sistem Dukungan
Seniman Edi Priyanto mengaku memperoleh pengalaman yang jauh melampaui proses berkarya. Selain memperluas wawasan mengenai budaya Indonesia dan budaya Welsh, ia juga memahami pentingnya hak asasi manusia serta kepedulian sosial.
“Saya mendapat banyak pemahaman tentang budaya, hak asasi, dan kepedulian,” katanya.
Ia menjelaskan, peserta mempelajari kisah Petruk dari budaya Jawa dan Myrddin dari budaya Welsh yang sama-sama menghadirkan narasi tentang penyandang disabilitas serta perjuangan keluarga mereka.
Menurut Edi, pesan terbesar proyek ini bukan sekadar memperkenalkan dua tokoh budaya tersebut, melainkan mengingatkan bahwa pemenuhan hak penyandang disabilitas tidak pernah terwujud sendirian.
“Selalu ada sistem dan orang-orang yang mendukung di belakangnya,” ujarnya.
Melalui Batik Tambalan, seni tidak hanya menjadi karya yang dipajang di dinding galeri, tetapi juga menjadi ruang dialog, ruang belajar, sekaligus ruang penyembuhan bersama.
Kolaborasi ini menegaskan bahwa pemenuhan hak penyandang disabilitas hanya dapat terwujud melalui dukungan keluarga, komunitas, masyarakat, dunia seni, dan negara yang bersama-sama membangun sistem pendukung yang inklusif. (Harta Nining Wijaya/Prs)