Berani Bilang Tidak, Bukan Membangkang

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

PERNAHKAH kita melihat seorang murid mengangguk ketika diberi tugas tambahan, meskipun wajahnya tampak ragu? Atau seorang anak yang sebenarnya ingin pulang karena sudah lelah, tetapi tetap mengikuti ajakan teman karena takut disebut tidak kompak? Kadang-kadang kita mengira mereka baik karena selalu menurut.

Murid yang tidak banyak bertanya dianggap santun. Murid yang selalu mengatakan “iya” dianggap mudah diarahkan. Anak yang tidak pernah menolak ajakan teman dianggap memiliki pergaulan yang baik. Namun, pernahkah kita bertanya: apakah setiap “iya” benar-benar lahir dari keinginan untuk mengiyakan? Jangan-jangan ada “iya” yang sebenarnya menyimpan “tidak”.

Ada murid yang mengiyakan karena takut mengecewakan gurunya. Ada yang takut dianggap tidak setia kawan oleh teman. Ada pula yang sebenarnya tidak nyaman, tetapi tidak tahu bagaimana menyampaikan penolakannya.

Di sinilah kemampuan berkata “tidak” menjadi penting. Bukan untuk mengajarkan anak menjadi pembangkang. Bukan pula untuk membentuk generasi yang suka membantah orang tua dan guru. Justru sebaliknya, kemampuan berkata “tidak” dengan santun merupakan bagian dari belajar mengenali diri, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pilihan.

Katakan “Iya” dan “Tidak” Secara Tepat
Gagasan ini menarik ketika dikaitkan dengan buku Baca Buku Ini Saat Engkau Ingin Berubah karya Rahma Kusharjanti (2020). Dalam buku tersebut, kebiasaan tidak mampu menolak ajakan orang lain dibicarakan sebagai salah satu kebiasaan yang dapat membawa seseorang pada persoalan jika terus dibiarkan.

Saya kira gagasan itu tidak hanya berlaku dalam kehidupan pertemanan. Sekolah pun menjadi ruang penting untuk belajar mengatakan “ya” dan “tidak” secara tepat.

Mengatakan “tidak” ternyata tidak sesederhana mengucapkan dua kata. Ada perasaan takut dianggap tidak sopan. Ada kekhawatiran membuat orang lain kecewa. Ada pula ketakutan kehilangan teman atau dianggap berbeda dari kelompok.

Dalam budaya kita, terutama di lingkungan yang menjunjung tinggi penghormatan kepada orang tua dan orang yang lebih tua, sikap ewuh pakewuh memiliki sisi positif. Kita belajar menjaga perasaan orang lain, berbicara dengan santun, dan menghargai mereka yang lebih tua.

Persoalannya muncul ketika ewuh pakewuh dipahami sebagai kewajiban untuk selalu menurut.

Anak yang berbeda pendapat dianggap melawan. Murid yang bertanya dianggap membantah. Murid yang menolak tugas tambahan kadang buru-buru dicap tidak mau membantu.

Padahal, sopan dan kritis tidak harus dipertentangkan. Seorang murid dapat menghormati gurunya sekaligus menyampaikan bahwa dirinya sedang kesulitan. Seorang anak dapat menyayangi temannya sekaligus menolak ajakan yang menurutnya tidak baik.

Kita mungkin perlu menggeser cara pandang sederhana: anak baik bukan selalu anak yang mengatakan “iya”, melainkan anak yang mampu mengetahui kapan harus mengatakan “iya” dan kapan harus mengatakan “tidak”.

Sopan dan Kritis Tidak Harus Bertentangan
Di sekolah, hubungan guru dan murid memang tidak sepenuhnya setara. Guru memiliki tanggung jawab, kewenangan, dan posisi tertentu dalam proses pendidikan. Guru memberikan arahan, memberikan umpan balik, melakukan penilaian, dan menjaga ketertiban pembelajaran.

Karena itu, wajar jika seorang murid terkadang merasa sungkan menyampaikan keberatan. Tetapi justru karena ada perbedaan posisi tersebut, sekolah perlu memberi ruang agar murid dapat menyampaikan pendapat tanpa merasa terancam.

Misalnya, ketika seorang guru meminta seorang murid membantu sebuah kegiatan sekolah. Murid itu sebenarnya sudah memiliki beberapa tugas lain. Ia ingin menolak, tetapi tidak tahu bagaimana mengatakannya.

“Pak, saya tidak mau.”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar terlalu singkat dan berpotensi menimbulkan salah paham. Tetapi bukan berarti pilihannya hanya dua: menurut atau membangkang.

Ada pilihan ketiga, yaitu asertif.

“Terima kasih, Pak, sudah mempercayai saya. Saya sebenarnya ingin membantu, tetapi tugas saya minggu ini cukup banyak. Kalau diperbolehkan, apakah tugas ini bisa saya kerjakan bersama teman?”

Pesannya tetap sama: ia sedang menyampaikan keterbatasan. Bedanya, ia tidak menyerang orang lain. Ia juga tidak merendahkan dirinya sendiri.

Inilah keterampilan yang perlu dilatih.

Berani Menolak Tekanan Teman
Dalam kehidupan sehari-hari, anak juga menghadapi tekanan dari teman sebaya. Teman mengajak bermain ketika ada tugas yang belum selesai. Teman mengajak melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai. Bahkan, kadang-kadang seorang anak mengikuti kelompok hanya karena takut tertinggal.

“Kalau kamu teman saya, mestinya ikut.”

Kalimat semacam itu terdengar sederhana, tetapi bagi seorang remaja bisa sangat kuat pengaruhnya.

Pada usia sekolah, penerimaan kelompok memang penting. Anak sedang belajar menemukan identitasnya. Karena itu, kehilangan teman atau merasa dikucilkan bisa menjadi sesuatu yang sangat menakutkan.

Maka, mengajarkan anak mengatakan “tidak” bukan berarti mengajarkan mereka menjauhi pertemanan. Justru anak perlu belajar mengenali pertemanan yang sehat.

Teman yang baik tidak selalu mengajak kita melakukan hal yang menyenangkan. Kadang teman yang baik justru menghormati ketika kita mengatakan, “Maaf, saya tidak bisa ikut.”

Kalau sebuah pertemanan hanya bertahan selama seseorang selalu mengikuti kemauan kelompok, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan keberanian anak untuk berkata “tidak”, melainkan kualitas relasi tersebut.

Anak Belajar Dari Sikap Orang Dewasa
Salah satu bagian menarik dari buku Rahma Kusharjanti adalah pembahasan mengenai bagaimana kebiasaan terbentuk melalui pengulangan dan lingkungan.

Pemikiran Albert Bandura tentang social learning atau pembelajaran sosial juga membantu menjelaskan hal tersebut. Manusia tidak hanya belajar melalui nasihat, tetapi juga melalui pengamatan dan peniruan terhadap perilaku orang-orang di sekitarnya.

Anak mengamati. Ia melihat bagaimana orang tua berbicara. Ia memperhatikan bagaimana guru merespons perbedaan pendapat. Ia mengamati bagaimana teman diperlakukan ketika mengatakan tidak.

Jika setiap penolakan selalu dibalas dengan kemarahan, anak dapat belajar bahwa berkata tidak adalah sesuatu yang berbahaya.

Sebaliknya, jika orang dewasa mampu mengatakan, “Tidak apa-apa kalau kamu tidak setuju. Coba jelaskan alasannya,” anak mendapatkan pengalaman berbeda.

Ia belajar bahwa berbeda pendapat bukan akhir dari hubungan. Ia belajar bahwa penolakan dapat disampaikan dengan santun. Ia belajar bahwa batas diri boleh dibicarakan.

Dari situlah keberanian tumbuh.

Sekolah Bukan Sekadar Mengajarkan Kepatuhan
Saya kira ini menjadi refleksi penting bagi kita di sekolah. Selama ini pendidikan sering berbicara tentang disiplin, kepatuhan, tanggung jawab, dan tata tertib. Semua itu penting. Sekolah tentu tidak mungkin berjalan tanpa aturan.

Tetapi pendidikan tidak berhenti pada kemampuan mengikuti aturan.

Kita juga ingin murid mampu berpikir, mampu bertanya, mampu mempertimbangkan akibat, mampu mengambil keputusan, dan yang tidak kalah penting, mampu mengatakan tidak ketika memang harus mengatakan tidak.

Bayangkan seorang murid kelak berada di lingkungan yang mengajaknya melakukan sesuatu yang tidak baik. Jika sejak sekolah ia hanya mengenal satu jawaban—“iya” kepada orang yang lebih kuat—bagaimana ia akan mengambil keputusan?

Sebaliknya, jika sejak sekolah ia terbiasa berpikir dan menyampaikan keberatan dengan santun, ia memiliki bekal untuk menjaga dirinya.

Karena itu, pembelajaran tentang sikap asertif tidak harus selalu berupa ceramah.

Guru Bahasa Indonesia dapat mengajak murid membuat dialog tentang cara menolak dengan santun. Guru Bahasa Inggris dapat memasukkan ungkapan agreeing and disagreeing dalam pembelajaran. Guru BK dapat menggunakan permainan peran tentang tekanan teman sebaya.

Bahkan dalam percakapan sederhana di kelas pun keterampilan itu dapat ditumbuhkan.

“Menurut kamu bagaimana?”

“Saya kurang setuju, Bu, karena…”

“Kalau pendapatmu berbeda, apa alasannya?”

Kalimat-kalimat sederhana semacam itu sebenarnya sedang membangun budaya akademik.

Belajar Mengatakan “Tidak” dengan Santun

Murid tidak perlu diajari kalimat yang rumit untuk mengatakan tidak. Ada pola sederhana yang dapat digunakan.

Pertama, hargai orang yang mengajak.

“Terima kasih sudah mempercayai saya.”

Kedua, sampaikan penolakan dengan jelas.

“Maaf, kali ini saya belum bisa ikut karena…”

Ketiga, jika memungkinkan, tawarkan alternatif.

“Bagaimana kalau kita melakukannya besok?” atau “Mungkin tugas ini bisa dikerjakan bersama.”

Tentu tidak semua penolakan membutuhkan alternatif. Untuk ajakan yang jelas-jelas berbahaya atau merugikan, anak justru perlu belajar mengatakan tidak dengan tegas dan mencari bantuan orang dewasa yang dipercaya.

Yang terpenting adalah anak memahami bahwa menjaga diri bukan tindakan egois.

Guru Perlu Memberi Ruang Untuk Berbeda
Pada akhirnya, pembicaraan tentang keberanian murid berkata “tidak” juga menjadi cermin bagi orang dewasa.

Sudahkah kita mampu mendengarkan penolakan murid tanpa buru-buru tersinggung?

Ketika seorang murid berkata, “Saya belum sanggup, Bu,” mungkin ia bukan sedang malas. Ketika murid berkata, “Saya kurang setuju, Pak,” mungkin ia bukan sedang kurang ajar.

Bisa jadi ia justru sedang belajar bertanggung jawab terhadap pikirannya sendiri.

Tentu guru tetap perlu memeriksa alasan dan konteksnya. Tidak semua penolakan harus diterima begitu saja. Ada aturan yang memang harus dipatuhi dan ada tanggung jawab yang tidak boleh dihindari.

Namun, antara menolak dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dan membangkang tanpa alasan terdapat perbedaan yang perlu kita kenali.

Di sinilah kedewasaan pendidik diuji. Bukan hanya pada kemampuan membuat murid patuh, tetapi juga pada kemampuan menciptakan ruang agar murid berani berpikir dan berbicara.

Keberanian Memilih adalah Pendidikan Karakter

Pada akhirnya, kemampuan berkata “tidak” bukan sekadar keterampilan berbicara. Ia adalah bagian dari pendidikan karakter.

Anak yang mampu mengatakan tidak sedang belajar mengenali batas dirinya. Ia belajar bahwa dirinya memiliki pilihan. Ia belajar mempertimbangkan konsekuensi. Ia juga belajar menghargai orang lain tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.

Saya teringat pesan penting yang tersirat dari buku Rahma Kusharjanti: perubahan kebiasaan tidak selalu terjadi dalam satu malam. Ia membutuhkan kesadaran, pengulangan, dan kemauan untuk terus mencoba.

Begitu pula dengan keberanian berkata “tidak”. Mungkin awalnya terbata-bata. Mungkin masih disertai rasa tidak enak. Mungkin setelah mengatakannya masih muncul kekhawatiran, “Jangan-jangan dia marah.”

Tidak apa-apa. Keberanian memang sering kali tumbuh sedikit demi sedikit.

Barangkali tugas kita sebagai orang tua dan guru bukan membuat anak selalu mengatakan “iya” kepada kita. Tugas kita adalah membantu mereka memahami mengapa harus mengatakan iya, kapan boleh mengatakan tidak, dan bagaimana menyampaikannya dengan baik.

Sebab, dunia yang akan mereka masuki kelak tidak selalu menyediakan orang yang memberi mereka pilihan. Akan ada ajakan. Akan ada tekanan. Akan ada kelompok. Akan ada orang yang memaksa.

Pada saat itulah seorang anak membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk mengikuti. Ia membutuhkan keberanian untuk memilih.

Dan kadang-kadang, pilihan terbaik itu hanya membutuhkan dua kata sederhana:

“Maaf, tidak.”. (*)

 

 

BERITA TERKINI

FAUZI MERAH
Berani Bilang Tidak, Bukan Membangkang
FULAD6
Tiga Londo dan Pengkhianatan Terhadap Amanat Rakyat
WhatsApp Image 2026-08-10 at 22.07
Gunakan Tiga Bahasa, 40 Penggalang Kwarcab Purbalingga Pamitan Ikuti Jamnas XII
WhatsApp Image 2026-08-10 at 12.03
Smanda Cup Basket 5x5 Sukses, Ini Daftar Juaranya
FAUZI PAKAIAN JAWA
Ketika Guru “Belum Yakin”, Itulah Awal Pembelajaran Mendalam