Besi Rongsok Itu “Disulap” Jadi Barang Seni Bernilai Tinggi

Bagikan :

*Paguyuban Bengkel Las Tasikmalaya Dikukuhkan

Pemberian cendera mata motor gede daur ulang besi bekas, oleh Sekjen KBLI, Nirwan kepada Deputi KemenUMKM, Sekda Pemkot Tasik, Pengurus KAUnsoed, Disnakerprov Jabar.

TASIKMALAYA, EDUKATOR— Potongan-potongan besi rongsokan di bengkel las yang kerap dianggap tak bernilai, kini menjelma karya seni eksklusif yang diburu pasar. Pengusaha bengkel las Tasikmalaya, Jabar berhasil menyulap limbah logam menjadi miniatur moge, robot, ayam jago, burung, hewan, hingga furnitur. Barang-barang unik dan artistik itu kini mulai  dikoleksi pengelola mal, hotel, dan kafe sebagai instalasi ikonik penghias ruangan.

Gerakan kreatif ini mencuat dalam ajang “Tasik Menyala 2026”, Rabu (4/2/2026),di Gedung Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK) Tasikmalaya.

Kegiatan itu dirangkai dengan deklarasi berdirinya Paguyuban Bengkel Las Tasikmalaya yang dikukuhkan secara simbolis oleh Ketua Komunitas Bengkel Las Indonesia (KBLI) Jabar Ngahiji,  dihadiri 150 pemilik bengkel dan juru las se-Tasikmalaya.

Dirangkai juga pameran serta mini bazaar produk teknik pengelasan, .

Dalam kesempatan tersebut, Pendiri dan Sekjen KBLI, Drs. Nirwan Lesmana, SP, menyerahkan cendera mata unik kepada Deputi Kemenkop UMKM RI, Mohammad Mahrisyafrisal dan tamu unadangan lainnya, berupa empat unit miniatur motor gede (moge).

“Cendera mata itersebut merupakan hasil karya Totong Satori, kreator asal Kawalu, Tasikmalaya. Miniatur itu dibuat dari pernak-pernik bekas perabotan dan aksesori motor,” ujar Nirwan yang juga Ketua Ikatan Alumni FISIP Unsoed Jabodetabek dan Luar Negeri kepada EDUKATOR.

Sekda Kota Tasikmalaya, Drs.H.Asep Goparullah, M.Pd, Sedang melihat hasil karya juru las di Gedung PPIK Kota Tasikmalaya.

Berawal dari Menunggu Order
Totong Satori, yang akrab disapa Tori, mengaku ide merakit miniatur motor muncul saat bengkel sepi pesanan akibat lesunya order dan maraknya besi impor.

“Sambil menunggu order yang tak kunjung datang, saya coba merangkai sisa-sisa aksesori motor, diotak-atik menjadi motor trail mini. Itu karya pertama saya. Kalau sekarang yang penting ada bahan, saya bisa kerjakan,” kenangnya.

Kini, Tori telah memiliki hampir 100 koleksi aneka jenis moge, vespa, trail, dan kendaraan roda dua lainnya. Karyanya tak hanya diminati kolektor, tetapi juga pelaku usaha yang membutuhkan dekorasi unik untuk ruang komersial.

Selain Tori, kreator lain seperti Juana Putra Priangan memamerkan lebih dari 20 item miniatur robot, hewan, dan bentuk unik berbahan besi bekas las. Dalam satu hari pameran, sejumlah karyanya terjual dan menghasilkan pendapatan jutaan rupiah.

Limbah bengkel las berupa potongan besi-besi disulap menjadi barang seni yang artistik

Diapresiasi Deputi Kemenkop UMKM RI
Deputi Kemenkop UMKM RI, Mohammad Mahrisyafrisal, mengapresiasi kreativitas para juru las yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Saya mengapresiasi krativitas para pengusaha bengkel las dan juru las ini. Ekonomi kreatif yang melibatkan bengkel las bisa menyulap tumpukan limbah besi bekas menjadi karya seni bernilai tinggi, ini luar biasa,” ujarnya.

Seiring meningkatnya tren desain interior industrial dan gerakan ramah lingkungan, instalasi besi bekas kini dilirik sebagai landmark visual yang memberi kesan maskulin dan eksklusif.

Peluang Besar
Senada dengan itu, Sekjen Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), Andrian Lame, melihat peluang besar kolaborasi dalam program revitalisasi pasar rakyat di seluruh Indonesia.

“Saya melihat peluang besar bagi komunitas bengkel las dan juru las dalam program revitalisasi pasar rakyat. Inkoppas membawahi ribuan pasar yang akan direvitalisasi, dan kami mendorong agar proyek tersebut melibatkan juru las lokal, termasuk dari Tasik,” ucap Andrian.

Deklarasi Paguyuban Bengkel Las Tasikmalaya turut dihadiri Sekda Pemkot Tasikmalaya Drs. H. Asep Goparullah, M.Pd., Kadis Kominfo H. Amran Saefullah, S.E., M.M., perwakilan Disnaker Provinsi Jawa Barat, serta pengurus KA Unsoed.

Gerakan ini menegaskan bahwa limbah rongsokan bukan akhir dari sebuah benda tak berharga. Di tangan para juru las kreatif Tasikmalaya, besi bekas berubah menjadi karya seni bernilai ekonomi dan simbol kebangkitan industri kreatif berbasis komunitas. (Alief Einstein/Prs)

 

 

 

BERITA TERKINI

Mendikdasmen
Anggaran Pendidikan 2026 Naik, 43 Juta Murid Terima MBG
PRIYANTO1
Takwa sebagai Etos Hidup di Tengah Krisis Moral
polres1
Polres Purbalingga Ungkap Dua Kasus Narkoba
luminor1
Luminor Hotel Purwokerto Luncurkan “Shining Six Ramadan Kareem – Iftar All You Can Eat”
peng2
Puluhan ASN Setda Banyumas Ikuti Pengajian Ramadan