*Lahir dari Keluarga Sederhana, Bermimpi Menjadi Psikolog dan Penulis

Laras Sanggita Prameswari atau akrab disapa Laras menunjukkan salah satu buku karyanya, Cinta di Balik Sarjana. (Dokumen pribadi Laras/EDUKATOR)
PURWOKERTO, EDUKATOR — Bekerja di hotel tidak menghalangi Laras Sanggita Prameswari untuk berkarya. Perempuan kelahiran Banyumas, 16 Desember 2006, ini berhasil menulis empat judul buku meski belajar secara autodidak. Lulusan SMK Negeri Kebasen, Banyumas jurusan Tata Boga tersebut mulai menekuni dunia kepenulisan sejak duduk di kelas XII atau tahun 2024.
Kini, sambil bekerja di Hotel Grand Kanaya, Baturraden, Banyumas, Laras–demikian ia biasa dipanggil– terus mengembangkan kemampuannya. Buku keempatnya, Kaze Banyu, sedang dalam proses cetak setelah ia mengikuti Inkubasi Penulis Banyumas 2026.

Rahmi Wijayanti, pendiri Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) yang juga Direktur Omera Pustaka (angggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) memberikan penghargaan kepada Laras Sanggita Prameswari pada acara inkubasi penulis banyumas, bulan Juni 2026 lalu.(Dokumen pribadi Laras/EDUKATOR)
Lahir dari keluarga sederhana, Laras belajar menulis secara mandiri melalui buku-buku bacaan, referensi internet, dan YouTube. Setelah lulus SMK pada 2025, ia bekerja di bidang hospitality. Hingga Oktober 2026, Laras telah menjalani pekerjaan tersebut selama satu tahun, sembari tetap berusaha menghasilkan karya.
Konsisten Menulis di Tengah Kesibukan
Bekerja di bidang hospitality menuntut Laras memberikan pelayanan terbaik kepada tamu hotel. Namun, kesibukan tersebut tidak membuatnya berhenti menulis. Ia mengatur waktu agar pekerjaan dan kegiatan kreatifnya tetap berjalan seimbang.
“Setelah bekerja, saya sempatkan satu jam untuk menulis,” ungkap Laras kepada EDUKATOR di Hotel Grand Kanaya Baturraden, Banyumas, Rabu (14/10/2026)
Baginya, konsistensi menjadi kunci untuk menyelesaikan naskah. Ia berusaha memanfaatkan waktu setelah bekerja tanpa memaksakan diri hingga mengganggu kondisi fisik dan pikirannya.
Kaze Banyu Padukan Kuliner Jepang Dan Banyumas
Buku keempat Laras berjudul Kaze Banyu . Buku ini mengangkat perpaduan kuliner Jepang dan makanan khas Banyumas yang dikemas dalam bentuk cerita. Gagasannya diwujudkan melalui tokoh-tokoh yang berasal dari negara berbeda.
Pemilihan tema tersebut juga berkaitan dengan latar belakang pendidikan Laras di bidang Tata Boga. Pengetahuan tentang makanan menjadi sumber inspirasi untuk mengembangkan cerita yang mempertemukan dua budaya kuliner.
Selain Kaze Banyu, tiga buku Laras yang telah dipasarkan berjudul Women Can Too, Cinta di Balik Sarjana, dan Labirin Seni yang Berbicara. Karya-karya tersebut mengangkat tema perempuan, cinta, dan seni.
Laras memasarkan bukunya melalui media sosial serta memperkenalkannya kepada kalangan kampus, antara lain Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Banyak mahasiswa dan dosen yang membeli buku tersebut.
Mengikuti Inkubasi Penulis Banyumas
Untuk mengasah kemampuannya menulis, Laras mengikuti komunitas Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest), yang setiap tahun menyelenggarakan Inkubasi Penulis Banyumas. Melalui komunitas tersebut, ia mendapat kesempatan mengembangkan karya dan mengikuti program yang memberikan apresiasi kepada penulis.
Keikutsertaannya dalam Inkubasi Penulis Banyumas 2026 menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan kepenulisannya. Naskah Kaze Banyu kini memasuki proses cetak, menambah daftar karya yang telah dihasilkannya.
Terinspirasi Raditya Dika
Dalam perjalanan menulis, Laras mengagumi Raditya Dika. Ia terinspirasi oleh keberanian penulis tersebut mencoba berbagai hal baru dan mengembangkan perjalanan kreatifnya hingga dikenal sebagai penulis sukses.
“Saya ingin terus mencoba hal-hal baru seperti Kak Raditya,” katanya.
Raditya sudah menulis sejumlah buku, diantaranya yang mengangkat Raditya sebagai penulis terkenal dan buku itu laris di pasaran, diantarnya buku berjudul Kambing Jantan, Marmut Merah Jambu,Koala Kumal dan Cinta Brontosaurus
Inspirasi itu mendorong Laras untuk terus belajar, mengeksplorasi gagasan, dan tidak berhenti berkarya meskipun harus membagi waktu dengan pekerjaan.
Bermimpi Menjadi Psikolog yang Bermanfaat
Selain menekuni dunia kepenulisan, Laras bercita-cita melanjutkan pendidikan di jurusan Psikologi Universitas Diponegoro. Ia ingin menjadi psikolog yang mampu membantu orang lain menghadapi persoalan hidup dan membuat mereka merasa didengarkan.
“Saya ingin membuat orang merasa didengar dan tidak sendirian,” tuturnya.
Laras berharap dapat menjalani dua bidang sekaligus, yakni menjadi psikolog dan penulis. Baginya, keduanya membuka ruang untuk memahami manusia, menyampaikan gagasan, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Harga dan Pemesanan Buku
Tiga buku Laras yang telah dipasarkan ditawarkan dengan harga sebagai berikut:
1.Women Can Too: Rp 80.000
2.Cinta di Balik Sarjana: Rp 55.000
3.Labirin Seni yang Berbicara: Rp 99.500
Pemesanan buku dapat dilakukan melalui WhatsApp 0831 1132 3142 atau Instagram https://www.instagram.com/larassanggitaa.
Didukung GM Hotel Grand Kanaya
General Manager Hotel Grand Kanaya Baturraden Simon Yuliyanto yang dihubungi EDUKATOR secara terpisah mengapresiasi Laras, yang tetap semangat menulis di tengah kesibukan pekerjaanya. Bahkan Simon memuji pekerjaan Laras selama ini sangat baik.
“Saya salut, dia bisa mengatur waktu antara bekerja dan menulis. Semuanya bisa berjalan dengan baik,” ujar Simon.
Simon memberikan ruang kepada Laras untuk terus belajar menulis, mengembangkan kemampuannya hingga kelak menjadi penulis terkenal seperti Raditya Dika
yang menjadi idolanya.
Perjalanan Laras menunjukkan bahwa kemauan belajar dan konsistensi dapat menjadi bekal untuk berkarya. Di tengah kesibukan bekerja, ia terus menulis, mengeksplorasi perpaduan kuliner Jepang dan Banyumas, serta merintis cita-cita menjadi psikolog dan penulis yang bermanfaat bagi sesama. (Prasetiyo)