*Tembus Top Income MGI

Barji (50), saat berbagi kisah sukses di kantor MGI Yogyakarta, Rabu (7/1/2026). (Foto Harta Nining Wijaya/EDUKATOR)
YOGYAKARTA, EDUKATOR –Namanya Barji. Usianya 50 tahun, dan kini tinggal di Gamping, Sleman, Yogyakarta. Pria kelahiran 9 Juni 1975 ini pernah berada di titik terendah hidupnya, dikejar penagih utang, sementara kebutuhan istri dan anak-anak harus tetap terpenuhi.
Jaket hijau ojol menjadi sandaran terakhirnya untuk bertahan hidup, sebelum ia menemukan jalan perubahan nasib melalui Mega Gloryoung International (MGI).
MGI adalah perusahaan jaringan pemasaran (network marketing) yang bergerak di bidang produk kesehatan mata, khususnya kacamata medis, dengan konsep bisnis berbasis donasi.
MGI menggabungkan penjualan produk dengan program sosial berupa pembagian kacamata medis kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui sistem jaringan, mitra MGI memperoleh penghasilan dari penjualan produk dan pengembangan tim, sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Kisah Barji
Setiap hari Barji bekerja dari pagi hingga malam. Namun penghasilan terus menurun seiring ketatnya persaingan. “Di awal, narik ojol bisa dapat Rp 200–300 ribu per hari. Tapi makin lama makin turun. Pernah seharian kerja cuma dapat Rp 35 ribu,” kenangnya kepada EDUKATOR di kantor MGI Yogyakarta-Macho Kopi, Jalan Piere Tendean Nomor 50 Yogyakarta, Rabu (7/1/2026).
Trauma Masa Lalu
Kondisi itu diperparah trauma masa lalu terhadap skema money game berkedok multi level marketing (MLM), minimnya dukungan keluarga, bahkan penolakan dari pasangan. Latar itulah yang ia bawa saat pertama kali mendengar MGI pada 2020. Awalnya ia menolak.
Namun satu hal membuatnya bertahan: program donasi kacamata medis. “Saya berpikir, sepahit-pahitnya gagal, saya masih bisa bersedekah,” ujarnya.
Dengan niat itu, Barji bergabung tanpa modal besar dan tanpa ekspektasi bonus. Ia tetap mengojek sambil menyampaikan program donasi kepada siapa pun yang ditemuinya—pelanggan ojol, pemilik warung, hingga orang-orang di jalan. Enam bulan pertama, penghasilannya dari MGI menyamai penghasilan awal ojol, kecil namun konsisten.
“Saya niatkan ibadah. Mau ditolak atau diterima jadi ringan,” katanya.
Tidak Mulus
Perjalanan tidak selalu mulus. Barji hampir menyerah karena menilai bonus pasif terlalu kecil. Titik balik datang saat ia memahami sistem jaringan. “Saya diajari membangun sistem, bukan hanya jualan produk. Sejak tim bertumbuh, saya sadar cara lama saya keliru,” tuturnya.
Enam bulan sebelum benar-benar berhenti dari GoJek, penghasilannya dari MGI sudah setara gaji ojol sebulan. Setahun kemudian mencapai sekitar Rp 1 juta per hari. Pada 2023, Barji masuk Top Income ke-13 MGI Indonesia dengan penghasilan Rp1,8 miliar per tahun.
Penghasian Rp 3 Miliar Per Tahun
Tahun 2024–2025, ia bertahan di Top Income ke-10 dengan penghasilan mendekati Rp 3 miliar per tahun. Istrinya, Dian Rahmawati, yang semula paling menolak, menyusul menjadi Top Income ke-21 MGI pada 2025.
Perubahan hidup datang bertahap. Utang terbayar, mobil operasional terbeli, dan kebebasan finansial diraih. “Yang paling membahagiakan, saya bisa menggaji orang tua saya setiap bulan—ibu kandung, ibu mertua, dan tante. Mereka tidak perlu bekerja,” ucapnya pelan.
Bagi Barji, MGI bukan sekadar bisnis, melainkan kendaraan perubahan hidup dengan ruh donasi. Salah satu pengalaman paling membekas saat menyalurkan kacamata medis kepada anak berusia tiga tahun dengan minus 32 yang terancam buta.
“Kurang dari satu bulan, minusnya berangsur turun. Sejak itu keyakinan saya makin kuat. Donasi bukan hanya memberi, tapi merangkai doa,” ujarnya.
Jangan Menyerah
Kini berada di jajaran Top 10, Barji menegaskan ingin tetap rendah hati dan fokus menciptakan pemimpin baru di timnya. Targetnya jelas: membuka lapangan kerja dan membantu orang meraih penghasilan jutaan rupiah per hari melalui sistem yang dibangun bersama. Pesannya sederhana namun tegas. “Jangan pernah keluar arena. MGI ini kendaraan yang cepat dan tepat. Lakukan terus sampai tujuan tercapai.”
Ia tak menyesali masa lalu. “Jangan menyesal lahir dari keluarga miskin. Tapi kalau kita meninggalkan anak dan istri dalam kemiskinan, itu kesalahan kita,” ujarnya.
Dari jaket ojol ke panggung pengakuan nasional, kisah Barji adalah cerita tentang niat yang diluruskan, sistem yang dipelajari, dan keberanian bertahan hingga hidup benar-benar berubah. (Harta Nining Wijaya)