
Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Kabupaten Purbalingga
MALAM itu, penulis menerima kiriman sebuah video dari seorang kawan. Video tersebut menampilkan pidato seorang guru besar berseragam toga lengkap yang sedang memberikan sambutannya. Dari motif mimbar yang digunakan, tampak jelas ukiran bertuliskan UIN Alauddin Makassar. Namun setelah penulis telusuri ternyata beliau adalah Prof. Dr. Hamdan Juhannis, Rektor UIN Alauddin Makassar.
Hal yang paling menarik perhatian justru muncul pada bagian awal pidato. Sang rektor mengajukan sebuah pertanyaan pemantik yang sederhana, namun sarat makna kepada para hadirin, “Apa yang pertama kali dilepas oleh seorang tunanetra ketika ia pertama kali dapat melihat?”
Sejenak suasana menjadi hening. Para pendengar saling berbisik, mencoba menebak jawabannya. Namun sebelum para tamu undangan sempat memberikan jawaban, sang pembicara langsung menjelaskannya.
Menurutnya, hal pertama yang dilepas oleh seorang tunanetra ketika ia dapat melihat adalah tongkat yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. Tongkat itu menjadi alat bantu, penuntun, sekaligus penopang dalam menjalani kehidupan. Namun, ketika tongkat tersebut dianggap tidak lagi dibutuhkan, ia pun segera dibuang.
Kisah sederhana itu, menurut sang guru besar, merupakan cermin dari realitas kehidupan manusia. Tidak jarang kita menjumpai seseorang atau sesuatu yang dahulu sangat berjasa, tetapi kemudian dilupakan, bahkan dicampakkan, ketika tidak lagi memberikan manfaat langsung. Rasa berterima kasih sering kali berhenti pada perasaan sesaat, bukan diwujudkan dalam sikap dan penghargaan yang berkelanjutan.
Nilai Empati dan Kemanusiaan
Padahal, yang jauh lebih penting dari sekadar ucapan terima kasih adalah bagaimana nilai empati dan kemanusiaan itu diwariskan, terutama kepada anak-anak sebagai generasi masa depan. Mereka perlu diajak untuk tidak hanya terpaku pada apa yang dirasakan hari ini, tetapi juga mampu mengingat jasa-jasa yang pernah diberikan oleh orang lain dalam perjalanan hidup mereka.
Guru Memiliki Peran Strategis
Dari permasalahan tersebut, guru memiliki peran strategis untuk menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa empati dan rasa kemanusiaan tidak tumbuh secara instan. Nilai-nilai tersebut perlu dilatih melalui kesadaran dan pembiasaan. Siswa perlu diajak menyadari bahwa keberhasilan yang mereka raih tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap pencapaian, selalu ada peran orang tua, guru, teman, dan lingkungan yang turut berkontribusi.
Guru dapat menanamkan pemahaman bahwa menghargai jasa seseorang tidak diukur dari apakah orang tersebut masih memberi manfaat saat ini atau tidak. Justru, nilai kemanusiaan yang sejati tampak ketika seseorang tetap menghormati, mengingat, dan berterima kasih kepada mereka yang pernah berjasa, meskipun peran itu telah berlalu.
Melalui kisah tongkat tunanetra, siswa diajak untuk merenung bahwa melupakan jasa sama halnya dengan mengingkari proses. Oleh karena itu, mereka perlu dibiasakan untuk bersikap rendah hati, tidak merasa paling berjasa, serta menyadari bahwa setiap orang yang pernah hadir dalam hidupnya memiliki peran penting dalam membentuk siapa dirinya hari ini.
Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan keberhasilan semata, tetapi juga membentuk pribadi yang berempati, memiliki rasa kemanusiaan yang mendalam, dan mampu menghargai kontribusi orang lain dalam setiap tahap kehidupannya.
Memahami Proses
Pada akhirnya, pendidikan sejati bukan semata-mata tentang seberapa tinggi seseorang melangkah, tetapi tentang seberapa dalam ia memahami proses yang telah membawanya ke sana. Keberhasilan tanpa empati akan melahirkan pribadi yang rapuh secara moral, sementara keberhasilan yang disertai rasa kemanusiaan akan melahirkan manusia yang utuh.
Dalam kerangka Profil Pelajar Pancasila, nilai ini sejalan dengan karakter berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global, di mana siswa tidak hanya dituntut untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap peran dan jasa orang lain. Menghargai kontribusi orang tua, guru, dan sesama adalah wujud nyata dari akhlak mulia dan empati sosial yang harus ditanamkan sejak dini.
Oleh karena itu, tugas pendidik bukan sekadar mengantarkan siswa menuju prestasi, melainkan juga membimbing mereka agar tidak melupakan tangan-tangan yang pernah menuntun langkahnya. Sebab, siswa yang tumbuh dengan kesadaran akan jasa orang lain akan menjadi pribadi yang rendah hati, bertanggung jawab, dan memiliki rasa kemanusiaan yang kuat.
Hormatilah Proses
Oleh karena itu pula, kepada para siswa dan juga kepada kita semua, pesan ini layak direnungkan: jangan pernah membuang tongkatmu hanya karena kamu sudah bisa melihat. Hormatilah proses, ingatlah jasa, dan rawatlah empati. Sebab tanpa tongkat itu, tanpa mereka yang pernah menopang langkahmu, tidak akan pernah ada perjalanan, apalagi keberhasilan. (***)
Daftar Pustaka
1)Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek
2)www.youtube.com/@officialuinalauddin6496