*Mengintegrasikan Padi Gogo dengan Pengelolaan Sampah
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga Ir .Prayitno. M.Si (nomer empat dari kanan) yang didampingi Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Hafidah Kusniati SP dan Tim Faperta Unsoed yang diketuai Prof. Dr Ir Tamad, M.Si (nomer dua dari kiri) foto bersama di halaman Kantor Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga, usai audiensi, Selasa (6/1/2026).
PURBALINGGA, EDUKATOR–Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Faperta Unsoed) Purwokerto akan melakukan reklamasi tanah marjinal potensial atau tanah tidak produktif dengan mengintegrasikan tanaman padi gogo dan pengelolaan sampah menjadi pupuk kompos di Purbalingga. Hal ini untuk mendukung program ketahanan pangan yang sedang digencarkan oleh pemerintah.
Sebagai langkah awal, Tim Faperta Unsoed yang diketuai Prof. Dr. Ir. Tamad, M.Si melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga Ir. Prayitno, M.Si di Kantor Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga, Selasa (6/1/2026).
Dalam audiensi tersebut, Prof. Tamad didampingi oleh anggota tim terdiri Dr. Akhmad Rizqul Karim, Ahmad Fauzi, SP., MP., serta Rifki Andi Novia, SP., M.Sc. Pertemuan juga dihadiri Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga, Hafidah Kusniati, SP.
Suasana audiensi tim Faperta Unsoed dengan Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga.
Audiensi membahas rencana penerapan teknologi perbaikan tanah pada lahan-lahan marjinal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Reklamasi dimaksud adalah upaya memperbaiki dan memulihkan kualitas tanah yang kurang subur atau tidak produktif, agar kembali layak ditanami, melalui pendekatan teknologi pertanian dan pengelolaan lingkungan.
Fokus Pengembangan Padi Gogo Lokal
Program ini difokuskan pada pengembangan padi gogo lokal dengan karakter khas Purbalingga—beraroma wangi dan pulen—yang berpotensi menjadi komoditas unggulan daerah.
Selain padi gogo, pengembangan juga akan dilakukan dengan diversifikasi pada tanaman kapulaga dan kopi, yang sekarang sedang naik daun karena harganya meroket.
Adapun pendanaan program ini direncanakan bersumber dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema hilirisasi riset.
Ketua Tim Faperta Unsoed, Prof. Tamad, menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan memiliki pembaruan signifikan. Selama ini, pupuk kompos umumnya berasal dari kotoran ternak. Namun, dalam program ini, Faperta Unsoed mengembangkan teknologi pengolahan sampah menjadi pupuk kompos yang dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur tanah sekaligus sebagai pupuk tanaman, termasuk padi gogo.
“Ini solusi ganda, mengatasi masalah kesuburan tanah sekaligus persoalan sampah,” ujar Prof Tamad yang juga guru besar ilmu tanah ini.
Program hilirisasi riset ini akan berlangsung selama dua tahun. Tahun pertama difokuskan pada perancangan teknologi, pengolahan sampah menjadi kompos, serta uji kesesuaian lahan.
Tahun kedua diarahkan pada pengelolaan hasil produksi dan penguatan kelembagaan petani. Jika program ini sukses, pengembangannya akan diperluas ke sejumlah desa lain di Kabupaten Purbalingga.
“Fokus kami menghidupkan kembali padi gogo di lahan marginal melalui teknologi pengolahan sampah. Jika berhasil, model ini bisa menjadi percontohan,” ujar Prof. Tamad.
77 Hektar Tidak Produktif
Kepala Dinas Pertanian, Ketananan Pangan dan Perikanan Kabupaten Purbalingga, Ir. Prayitno, M.Si, menyambut positif langkah Faperta Unsoed yang bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemkab Purbalingga.
Ia mengatakan, potensi lahan untuk program ini masih cukup luas. “Masih ada tanah tidak produktif seluas kurang lebih 77 hektare di Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari. Ini masih cukup luas dan sangat potensial untuk dikembangkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan lahan marjinal tersebut menjadi penting di tengah terus menyusutnya lahan baku sawah (LBS) di Purbalingga. Saat ini, data terbaru LBS Purbalingga tercatat sekitar 16.800 hektare, atau turun dibandingkan beberapa bulan sebelumnya yang masih mencapai 17.605 hektare.
“Kondisi ini menuntut inovasi agar ketahanan pangan tetap terjaga,” katanya.
Menurut Prayitno, padi gogo di Purbalingga saat ini masih dijumpai di sejumlah desa, antara lain Desa Cendana, Karangjengkol, dan Kutasari, semuanya di wilayah Kecamatan Kutasari.
Kemudian di Desa Bumisar Kecamatan Bojongsari, Desa Binangun Kecamatan Mrebet, Desa Serang Kecamatan Karangreja, serta Desa Kedungbenda Kecamatan Kemangkon.
Sebaran tersebut menunjukkan bahwa padi gogo masih memiliki basis pengembangan yang kuat.
Lahan Padi Gogo Tinggal 100 Hektar
Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian, Hafidah Kusniati menambahkan, pada awal 2000-an, luas tanam padi gogo di Purbalingga pernah mencapai sekitar 1.300 hektare, namun kini menyusut menjadi sekitar 100 hektare.
Itu terjadi, seiring program Kementerian Kehutanan yang memasyarakatkan tanaman keras di lahan Perhutani, sehingga tanaman pangan, khususnya padi gogo semakin menyusut. .
Ke depan, program reklamasi tanah marjinal berupa penanaman padi gogo varietas lokal dan pengelolaan sampah menjadi puluk kompos ini, direncanakan akan dipaparkan di hadapan Bupati Purbalingga. Yakni dengan melibatkan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup -Perumahan dan Permukiman (Dinrumkim) dan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida). (Prasetiyo)